Cara Merawat Jenazah Seorang Muslim Terjangkit Virus Corona

Cara Merawat Jenazah Seorang Muslim Terjangkit Virus Corona

Dinegara China tepatnya di kota Wuhan provinsi Hubei saat ini sedang terjangkit wabah virus corona. Berdasarkan berita yang beredar di media masa lebih dari 300 orang terjangkit virus dan 6 orang meninggal dunia akibat virus corona. Virus corona bisa menular melalui udara ataupun sentuhan fisik dengan orang yang terjangkit virus tersebut.

Baca Juga : Kegaduhan Akibat Virus Corona

Berdasarkan cuplikan berita diatas, bagaimana kalau beberapa orang yang meninggal akibat virus tersebut beragama islam. Apakah mayat orang yang tejangkit virus corona tersebut harus dimandikan dan dirawat sebagaimana aturan syariat terhadap mayit sehat. Selain itu bagaimana cara memandikan dan menguburkannya?

وَمَنْ تَعَذَّرَ غَسْلُهُ - لِفَقْدِ الْمَاءِ أَوْلِغَيْرِهِ كَأَنْ احْتَرَقَ أَوْلُدِغَ وَلَوْغُسِلَ لَتَهَرَّى أَوْخِيْفَ عَلَى الْغَاسِلِ وَلَمْ يُمَكِّنْهُ التَّحَفُّظُ (يُمِّمَ) وُجُوْبًا قِيَاسًا عَلَى غَسْلِ الْجَنَابَةِ وَلاَيُغْسَلُ مُحَافَظَةً عَنْ جُثَّتِهِ لِتُدْفَنَ بِحَالِهَا، وَلَوْوُجِدَ الْمَاءُ فِيْمَا إِذَايُمِّمَ لشفَقْدِهِ قَبْلَ دَفْنِهِ وَجَبَ غَسْلُهُ

(Dan jenazah yang sulit dimandikan) sebab tidak ada air atau selainnya, seperti terbakar atau terkena racun binatang dan bila dimandikan akan rontok, atau dikhawatirkan orang yang memandikan tertular - semisal racun dari tubuh jenazah dan tidak mungkin menjaga diri darinya maka jenazah itu ditayamumi secara wajib, karena diqiyaskan pada mandi Jinabah. dan tidak boleh dimandikan karena menjaga jasadnya agar dimandikan sesuai kondisinya. Dan bila sebelum penguburan ditemukan air dalam kasus jenazah ditayamumi karena tidak adanya air, maka jenazah wajib dimandikan. (Mughni al-Muhtaj ila Ma'rifah Alfazh al-minhaj).

Dari hadis diatas dapat ditarik kesimpuan bahwa jenazah atau mayat orang yang terjangkit virus corona tersebut tetap wajib untuk dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikubur sesuai dengan syariat islam. Untuk cara memandikannya memang harus menggunakan peralatan khusus supaya orang yang memandikan tidak tertular. Bisa juga meminta pertolongan rumah sakit untuk memandikan mayat yang terjangkit virus corona karena kurangnya peralatan jika dimandikan di rumah. sedangkan untuk pemakaman tidaklah harus dimakamkan di tempat terpisah asalkan dianggap telah bisa mencegah akibat penularannya. 

Cara merawat jenazah seorang muslim terjangkit virus tersebut tidak hanya untuk seseorang yang terjangkit virus corona saja, akan tetapi juga untuk mayat orang yang terjangkit virus atau penyakit lain yang menular.

Bilangan Thalaq Dan Pendapat Tentang Thalaq Tiga


Bilangan Thalaq Dan Pendapat Tentang Thalaq Tiga - Seorang yang merdeka berhak menthalaq istrinya dari satu sampai tiga kali thalaq. Thalaq satu atau dua boleh rujuk (balen-Jw) sebelum habis masa ‘iddahnya dan boleh kawin kembali sesudah ‘iddah.

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya [144]. Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim. ( Al-Baqarah : 229 )

[144] Ayat Inilah yang menjadi dasar hukum khulu' dan penerimaan 'iwadh. Kulu' Yaitu permintaan cerai kepada suami dengan pembayaran yang disebut 'iwadh.

Pendapat Tentang Thalaq Tiga
Thalaq tiga meliputi beberapa cara :
  • Menthalaq istrinya tiga kali, pada masa yang berlainan, misalnya suami menthalaq istrinya thalaq satu, pada masa ‘iddah di thalaq lagi satu, pada masa ‘iddah  kedua di thalaq lagi thalaq satu.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا ثُمَّ لِيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ ثُمَّ تَحِيضَ ثُمَّ تَطْهُرَ ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمَسَّ فَتِلْكَ الْعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ. رواه البخاري ومسلم.
  • Suami menthalaq istri dengan thalaq satu, kemudian setelah ‘iddah dinikah kembali dengan nikah baru, lalu di thalaq, setelah ‘iddahnya habis dinikah lagi, lalu di thalaq lagi yang ketiga kalinya.
  • Ucapan thalaq dari suami yang dijatuhkan sekaligus, dengan ucapannya : “Saya thalaq kamu thalaq tiga”. Ucapan semacam ini mengakibatkan jatuhnya thalaq tiga.
عَنْ أَبِى الصَّهْبَاءِ قَالَ لِابْنِ عَبَّاسٍ أَتَعْلَمُ أَنَّمَا كَانَتْ الثَّلَاثُ تُجْعَلُ وَاحِدَةً عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَثَلَاثًا مِنْ إِمَارَةِ عُمَرَ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ نَعَمْ. رواه مسلم وابو داود.

Ta’liqut Thalaq

My-Dock

Ta’liqut Thalaq - Menta’liqkan thalaq adalah menggantungkan thalaq dengan sesuatu, misalnya suami berkata : “Kamu terthalaq apabila kamu pergi dari rumah ini tanpa seidzin aku”. Atau ucapan lain yang se-macam itu umpama ketika setelah aqad nikah mengucapkan sighat Ta’liq :

Sesudah aqad nikah saya ................................bin ...................................berjanji dengan sesungguh hati, bahwa saya akan menepati kewajiban saya sebagai seorang suami, dan akan saya pergauli istri saya bernama ............................ dengan baik ( mu’asyarah bil ma’ruf ) menurut ajaran agama Islam. Selanjutnya saya mengucapkan sighat ta’liq atas istri saya seperti berikut :

Sewaktu-waktu saya :

  • Meninggalkan istri saya tersebut dua tahun berturut-turut.
  • Atau saya tidak memberi nafkah wajib kepadanya tiga bulan lamanya.
  • Atau saya menyakiti badan / jasmani istri saya itu.
  • Atau saya membiarkan ( tidak memperdulikan ) istri saya itu enam bulan lamanya.

Kemudian istri saya tidak ridla dan mengadukan halnya kepada Pengadilan Agama atau petugas yang diberi hak untuk mengurus pengaduan itu, dan pengaduannya di benarkan serta diterima oleh Pengadilan atau petugas tersebut, dan istri saya itu membayar uang sebesar Rp 10.000,-  sebagai ‘iwadl ( pengganti ) kepada saya maka jatuhlah thalaq saya satu kepadanya.

Kepada Pengadilan atau petugas tersebut tadi saya kuasakan untuk menerima uang ‘iwadl (peng-ganti) itu dan kemudian menyerahkan kepada Badan Kesejahteraan Masjid ( BKM ) Pusat untuk keperluan ibadah sosial. Ponorogo....., ............................, 20..... Suami ........................................... 

Cerai Dalam Islam (Talaq)

Cerai Dalam Islam (Talaq) - Talaq adalah melepaskan ikatan nikah dari pihak suami, dengan mengucapkan lafadl yang terten-tu . Misal :
  • Kamu telah aku thalaq.
  • Sekarang kamu sudah kuceraikan.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ الطَّلَاقُ. رواه ابو داود وابن ماجه والحاكم.
Rukun Thalaq :
  • Suami yang menthalaq dengan syarat baligh, berakal dan kehendak sendiri.
  • Istri yang dithalaq.
  • Ucapan yang digunakan untuk menthalaq.
Ucapan Thalaq :
  • Ucapan sharikh. Yaitu ucapan yang tegas, maksudnya untuk menthalaq. Thalaq itu jatuh jika seseorang telah mengucapkan dengan sengaja walaupun hatinya tidak berniat menthalaq istrinya.
  • Ucapan kinayah. Yaitu ucapan yang tidak jelas maksudnya, mungkin ucapan itu maksudnya thalaq lain. Ucapan thalaq kinayah memerlukan adanya niat artinya jika ucapan thalaq itu dengan niat, sah thalaqnya dan jika tidak disertai niat, maka thalaqnya belum jatuh.
Ucapan Thalaq Sharikh ada tiga :
  • Thalaq artinya mencerai.
  • Firaq artinya memisahkan diri.
  • Sarah artinya lepas.

Ucapan Thalaq Kinayah antara lain :
  • Pulanglah kamu kepada Ibu Bapakmu.
  • Kawinlah kamu dengan orang lain.
  • Saya sudah tidak butuh lagi kepadamu.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلَاقُ وَالرَّجْعَةُ. رواه ابو داود والترمذي وابن ماجه والحاكم.
Keinginan mencerai istri walaupun sudah kuat sekali dan rumah tangga sudah berantakan dan suami istri sudah tidak serumah lagi, tetapi apabila belum diucapkan, maka ikatan suami istri ma-sih tetap, sebagaimana dinyatakan didalam hadits :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَمَّا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَكَلَّمْ بِهِ. رواه البخارى ومسلم
Cerai dengan surat :
Thalaq dengan surat yang ditulis suami sendiri dan dibaca, hukumnya sama dengan lisan, tetapi jika surat itu tidak dibaca sebelum dikirim kepada istrinya, maka sama dengan kinayah.

Cerai dengan dipaksa :
Cerai dengan dipaksa oleh orang lain tanpa kamauannya sendiri, hukumnya sama dengan kinayah yaitu kalau memang hatinya membenarkan, maka jatuhlah thalaq itu dan kalau tidak membenar-kan, maka thalaq itu belum dianggap jatuh. 
عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ . رواه ابن ماجه والحاكم.

Hukum Suami Menikahi Adik Perempuan Istri Yang Telah Dicerai

Hukum Suami Menikahi Adik Perempuan Istri Yang Telah Dicerai - Bagaimana hukumnya seorang suami menikahi adik perempuannya istri yang sudah diceraikannya ?
Jawab :
Seorang lelaki boleh menikahi adik atau kakak iparnya dengan syarat : 
  • Isterinya betul-betul telah meninggal dunia.
  • Isterinya telah ditalak bain, talak yang putus seperti talak khul’y atau talak tiga.
Akan tetapi jika istrinya itu masih bersetatus talak raj’iy atau talak satu, maka lelaki itu tidak boleh menikahi iparnya, selama istrinya dalam masa iddah.
Adapun yang dilarang menurut syari’at Islam adalah mengumpulkan dua saudara menjadi istri (haram hukumnya).
تفسير ابن كثير - (ج 2 / ص 253)
وقوله: { وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأخْتَيْنِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ [إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا] (12) } أي: وحرم عليكم الجمع بين الأختين معًا في التزويج، وكذا في ملك اليمين إلا ما كان منكم في جاهليتكم فقد عفونا عن ذلك وغفرناه. 
تفسير ابن كثير - (ج 2 / ص 253)
وقد أجمع العلماء من الصحابة والتابعين والأئمة قديمًا وحديثًا على أنه يحرم الجمع بين الأختين في النكاح، ومن أسلم وتحته أختان خير، فيمسك إحداهما (15) ويطلق الأخرى لا محالة. 
حاشيتا قليوبي - وعميرة - (ج 11 / ص 353)
قَوْلُهُ : ( طَلَّقَ امْرَأَتَهُ ) أَيْ رَجْعِيًّا ؛ لِأَنَّ الرِّدَّةَ كَالطَّلَاقِ الرَّجْعِيِّ فَلَا يَجُوزُ لَهُ نِكَاحُ نَحْوِ أُخْتِهَا فِيهَا ، وَيُوقَفُ ظِهَارُهُ وَإِيلَاؤُهُ وَطَلَاقُهُ فِيهَا. نَعَمْ لَوْ طَلَّقَهَا فِيهَا ثَلَاثًا حَلَّ لَهُ نَحْوُ أُخْتِهَا؛ لِأَنَّهَا بَانَتْ بِأَحَدِ الْأَمْرَيْنِ الطَّلَاقِ الثَّلَاثِ أَوْ الرِّدَّةِ.

Menikahkan Wanita Hamil

Menikahkan Wanita Hamil
Menikahkan Wanita Hamil - Bagaimana hukumnya wanita yang sedang hamil dinikahkan ? atau melangsungkan pernikahan ? sahkah pernikahannya ?

Jawab :
  • Jika wanita hamil itu masih mempunyai suami yang sah, maka haram melakukan pernikahan.
  • Jika wanita hamil itu ditinggal mati oleh suaminya, boleh melangsungkan pernikahan setelah melahirkan kandungannya.
  • Jika wanita hamil itu diceraikan oleh suaminya, maka ia boleh melangsungkan pernikahan setelah ia melahirkan.
  • Jika wanita hamil itu belum pernah mempunyai suami sah, ia hamil gelap-gelapan, maka tidak ada halangan ia melangsungkan pernikahan (aqad nikah).
حاشية البجيرمي على الخطيب - (ج 11 / ص 228)
لَوْ نَكَحَ حَامِلًا مِنْ زِنًا صَحَّ نِكَاحُهُ قَطْعًا وَجَازَ لَهُ الْوَطْءُ قَبْلَ الْوَضْعِ عَلَى الْأَصَحِّ. 
روضة الطالبين - (ج 6 / ص 351)
فرع لو نكح حاملا من الزنا، صح نكاحه بلا خلاف. 
مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج  - (ج 14 / ص 264)
تَنْبِيهٌ : يَجُوزُ نِكَاحُ وَوَطْءُ الْحَامِلِ مِنْ زِنًا ، إذْ لَا حُرْمَةَ لَهُ. 
تحفة المحتاج في شرح المنهاج  - (ج 34 / ص 472)
( قَوْلُهُ : وَلَوْ جُهِلَ حَالُ الْحَمْلِ إلَخْ ) عِبَارَةُ الرَّوْضِ وَشَرْحِهِ وَالْحَمْلُ الْمَجْهُولُ حَالُهُ يُحْسَبُ زِنًا أَيْ يُحْمَلُ عَلَى أَنَّهُ مِنْهُ أَيْ مِنْ حَيْثُ صِحَّةُ نِكَاحِهَا مَعَهُ وَجَوَازُ وَطْءِ الزَّوْجِ لَهَا. 
حاشية البجيرمي على الخطيب - (ج 11 / ص 245)
وَكَذَا لَوْ كَانَتْ حَامِلًا مِنْ زِنًا إذْ حَمْلُ الزِّنَا لَا حُرْمَةَ لَهُ وَلَوْ جُهِلَ حَالُ الْحَمْلِ ، وَلَمْ يُمْكِنْ لُحُوقُهُ بِالزَّوْجِ حُمِلَ عَلَى أَنَّهُ مِنْ زِنًا ، كَمَا نَقَلَاهُ وَأَقَرَّاهُ أَيْ مِنْ حَيْثُ صِحَّةُ نِكَاحِهَا مَعَهُ ، وَجَوَازُ وَطْءِ الزَّوْجِ لَهَا ، أَمَّا مِنْ حَيْثُ عَدَمُ عُقُوبَتِهَا بِسَبَبِهِ فَيُحْمَلُ عَلَى أَنَّهُ مِنْ شُبْهَةٍ.

Menyaksikan Penyembelihan Hewan Kurban

Menyaksikan Penyembelihan Hewan Kurban - Pada hakikatnya penyebelihan hewan kurban harus dilakukan oleh orang yang berkurban itu sendiri. akan tetapi, bagi orang yang tidak mampu atau tidak ahli dalam penyembelihan, ia boleh meminta bantuan orang lain untuk menyembelihkannya, dan menyaksikan penyembelihan itu.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« يَا فَاطِمَةُ قَوْمِى فَاشْهَدِى أُضْحِيَتَكِ فَإِنَّهُ يُغْفَرُ لَكِ بِأَوَّلِ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْ دَمِهَا كُلُّ ذَنْبٍ عَمِلْتِيهِ وَقُولِى إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ ». قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا لَكَ وَلأَهْلِ بَيْتِكَ خَاصَّةً فَأَهْلُ ذَلِكَ أَنْتُمْ أَمْ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً قَالَ : بَلْ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً. رواه البيهقي - السنن الكبرى - (ج 5 / ص 238)

Dari ‘Imran bin Khushain, berkata : Rasulullah Saw, telah bersabda : Wahai Fathimah, berdirilah dan saksikanlah penyembelihan qurbanmu, sesungguhnya di ampuni dosa bagimu di awal tetesan yang menetes dari dari darah qurban itu setiap dosa yang kamu lakukan, dan berdo’alah : “Sesungguhnya shalatku, ibadah ku, hidupku dan matiku semata untuk Alloh Tuhan sekalian alam, tidak sekutu bagi Nya, dan untuk hal itu aku diperintahkan, dan aku termasuk golongan orang yang berserah diri”. Ditanyakan : Wahai Rasululloh, apakah demikian ini untuk Engkau dan ahli bait Engkau secara khusus, lalu ahli keluargamu semua ataukah bagi umat Islam secara umum ?. Jawab beliau : Untuk umat Islam secara umum. HR. Baihaqiy. (As-Sunanul Kubra li al-Baihaqiy, Juz : V halaman : 238).

Hukum Berkurban Sekaligus Untuk Aqiqah

Hukum Berkurban Sekaligus Untuk Aqiqah
Hukum Berkurban Sekaligus Untuk Aqiqah - Di masyarakat kita sering kita jumpai qurban yang sekaligus diniatkan untuk melakukan aqiqah. Hal ini terjadi karena dulu orang yang berqurban tersebut belum diaqiqahi karena permasalahan ekonomi. Kemudia setelah punya rejeki orang tersebut melakukan kurban sekaligus diniatkan untuk aqiqah. Sebenarnya bagaimana hukum berkurban yang sekaligus diniatkan untuk aqiqah tersebut dalam islam? 

Jawabnya adalah sebagai berikut. Seseorang yang berqurban, karena dia itu belum di ‘aqiqahi maka yang lebih baik bagi dia itu berqurban dengan niat qurban tidak berqurban sekaligus ‘aqiqah.
وَسُئِلَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى عن ذَبْحِ شَاةٍ أَيَّامَ الْأُضْحِيَّةِ بِنِيَّتِهَا وَنِيَّةِ الْعَقِيقَةِ فَهَلْ يَحْصُلَانِ أو لَا اُبْسُطُوا الْجَوَابَ ؟ فَأَجَابَ نَفَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِعُلُومِهِ بِقَوْلِهِ الذي دَلَّ عليه كَلَامُ الْأَصْحَابِ وَجَرَيْنَا عليه مُنْذُ سِنِينَ أَنَّهُ لَا تَدَاخُلَ في ذلك لِأَنَّ كُلًّا من الْأُضْحِيَّةِ وَالْعَقِيقَةِ سُنَّةٌ مَقْصُودَةٌ لِذَاتِهَا وَلَهَا سَبَبٌ يُخَالِفُ سَبَبَ الْأُخْرَى وَالْمَقْصُودُ منها غَيْرُ الْمَقْصُودِ من الْأُخْرَى إذْ الْأُضْحِيَّةُ فِدَاءٌ عن النَّفْسِ وَالْعَقِيقَةُ فِدَاءٌ عن الْوَلَدِ إذْ بها نُمُوُّهُ وَصَلَاحُهُ وَرَجَاءُ بِرِّهِ وَشَفَاعَتِهِ. الفتاوى الفقهية الكبرى - أَحْمَدُ شِهَابُ الدِّينِ بن حَجَرٍ الشَّافِعِيّ -  (ج 4 / ص 256)
"Dan ditanya Ahmad Syihabuddin semoga Alloh Ta’ala merahmatinya, tentang menyembelih kambing dihari qurban, dengan niat qurban dan ‘aqiqah, apakah dapat keduanya mendapat hasil, atau tidak ada jawaban yang dapat dikompromikan ?. Lalu beliau jawab, semoga Alloh SWT, memberikan manfa’at dengan ilmunya, dengan ucapannya yang mendalilkan atas ucapan para shahabat dan berjalan hingga kira-kira beberapa tahun, bahwa hal itu tidak dapat dimasuk-kan pada yang demikian itu, karena setiap dari qurban dan ‘aqiqah merupakan sunah yang dimaksud akan dzatnya masing-masing, dan baginya sebab yang satu berlawanan dengan sebab yang lain, dan tujuan dari satunya bukan tujuan dari yang lainnya. Karena qurban itu untuk menebus diri sendiri, sedang ‘aqiqah untuk menebus anak karena itu dengan aqiqah diharapkan akan pertumbuhannya (anak), keshalihannya, dan diharapkan berbaktinya dan syafa’atnya." ( Al-Fatawi al-Fiqhiyah Kubra – Ahmad Syihabuddin bin Hajar as-Syafi’i. Juz : IV halaman : 256 ).

Hukum Arisan Qurban Dalam Islam

Hukum Arisan Qurban Dalam Islam - Arisan itu pada hakekatnya diperbolehkan, selagi tidak ada gharar di dalam pelaksanaannya dan saling bertanggung jawab, apa itu arisan berbentuk uang maupun barang. 

Begitu pula arisan qurban itu boleh dan sah dan tidak termasuk riba, sekalipun harga hewan qurban itu tidak menetap setiap tahunnya, sebab yang dimaksudkan bukan arisan uang qurban, tetapi arisan manfa’at/hak qurban. Sedangkan manfa’at, termasuk sesuatu yang berharga (mutaqowwan) yang sah dihutangkan.

إذَا كانت على كل وَاحِدٍ منهم شَاةٌ لِأَنَّ هذا في مَعْنَى الشَّاةِ وَلَوْ أَخْرَجَ كُلُّ وَاحِدٍ منهم حِصَّتَهُ من ثَمَنِهَا أَجْزَأَتْ عَنْهُم. الأم - (ج 2 / ص  222
Apabila ada atas tiap-tiap satu orang dari mereka itu seekor kambing, karena sesungguhnya demikian ini di dalam artian seekor kambing, dan sekalipun tiap-tiap seorang dari mereka mengeluarkan perhitungannya dari harga seekor kambing maka telah mencukupi dari mereka.

فرع : اَلْجُمْعَةُ الْمَشْهُوْرَةُ بَيْنَ النِّسَاءِ بِأَنْ تَأْخُذَ امْرَأَةٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فِي كُلِّ جُمْعَةٍ أَوْ شَهْرٍ وَتَدْفَعُهُ لِوَاحِدَةٍ بَعْدَ وَاحِدَةٍ , إِلَى آَخِرِهِنَّ جَائِزَةٌ كَماَ قَالَهُ الْوَلِيُّ الْعِرَاقِي. حاشية قليوبي - (ج 2 / ص( 321
( Furu’ ) Hari Jum’at itu dimasyhurkan diantara para wanita, bilamana seorang perempuan telah mengambil (bagiannya/ betho’an) dari seorang dari jama’ah perempuan itu akan ukuran yang ditentukan pada setiap jum’at atau setiap bulan, dan menyerahkannya untuk seorang setelah seorang lainnya (gilirannya), sampai perempuan yang terakhir (dari jama’ah) itu diperbolehkan, sebagaimana yang di ucapkan Al-Waliyul ‘Iraqiy. ( Hasyiyah Qolyubiy. Juz : II halaman : 321 ).

Hewan Yang Dinadzarkan Untuk Berqurban Ternyata Terdapat Cacat

Hewan Yang Dinadzarkan Untuk Berqurban Ternyata Terdapat Cacat - Bilamana seekor hewan telah dita’yinkan untuk dijadikan sembelihan qurban, seumpama pemilik hewan itu mengatakan : “Ini adalah kambing qurban saya”, maka jadilah qurban itu qurban mu’ayyan atau qurban wajib, tidak boleh si pemilik kambing itu dan sekeluarga ikut memakan daging dari kambing qurban wajibnya tersebut.

Dan apabila ternyata terdapat cacat pada kambing yang di mu’ayyankan tadi sekalipun parah cacatnya wajiblah kambing itu disembelih sebagai qurbannya, dan tidak boleh diganti dengan yang lainnya, karena sudah ta’yin. 

( قوله ولو نذر التضحية بمعيبة إلخ ) أفاد بهذا أنه لو نذر التضحية بسليمة ثم حدث فيها عيب ضحى بها وثبت لها سائر أحكام التضحية.) إعانة الطالبين -  ج 2 / ص 332)

(Dan kata mushanif, jika seseorang bernadzar akan berqurban dengan hewan yang cacat, telah mengambil faedah dengan ini jika seseorang bernadzar akan berqurban dengan hewan yang tidak cacat, kemudian ternyata terdapat cacat maka berqurbanlah dengannya, dan tetap baginya berlaku seluruh hukum qurban.
(I’anatut Thalibin – Juz 2 halaman 233).

النَّوْعُ الرَّابِعُ الْأَكْلُ  من الْأُضْحِيَّةِ وَالْهَدْيِ أَيْ حُكْمُهُ فَلَا يَجُوزُ الْأَكْلُ من دَمٍ وَجَبَ بِالْحَجِّ وَنَحْوِهِ كَدَمِ تَمَتُّعٍ وَقِرَانٍ وَجُبْرَانٍ وَلَا من أُضْحِيَّةٍ وَهَدْيٍ وَجَبَا بِنَذْرٍ مُجَازَاةً كَأَنْ عَلَّقَ الْتِزَامَهُمَا بِشِفَاءِ الْمَرِيضِ وَنَحْوِهِ لِأَنَّهُ أَخْرَجَ ذلك عن الْوَاجِبِ عليه فَلَيْسَ له صَرْفُ شَيْءٍ منه إلَى نَفْسِهِ كما لو أَخْرَجَ زَكَاتَهُ فَلَوْ وَجَبَا بِمُطْلَقِ النَّذْرِ أَيْ بِالنَّذْرِ الْمُطْلَقِ وَلَوْ حُكْمًا بِأَنْ لم يُعَلِّقْ الْتِزَامَهَا بِشَيْءٍ كَقَوْلِهِ لِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهَذِهِ الشَّاةِ أو بِشَاةٍ أو أُهْدِيَ هذه الشَّاةَ أو شَاةً أو جَعَلْت هذه أُضْحِيَّةً أو هَدْيًا أَكَلَ جَوَازًا من الْمُعَيَّنِ ابْتِدَاءً كَالتَّطَوُّعِ. أسنى المطالب في شرح روض الطالب - (ج 1 / ص 545)

Macam ketentuan hukum yang ke empat, adalah memakan daging qurban. Tidak boleh memakan daging hewan yang disembelih untuk memenuhi Dam yang wajib dibayar ketika ibadah haji, seperti haji Tamathu’ atau Qiron dan tidak boleh pula memakan daging hewan qurban wajib, seperti qurban nadzar yang dikaitkan dengan keberhasilan atau perolehan sesuatu, seperti dikaitkan dengan sembuh dari sakit dan sebagainya. Karena hukum mengeluarkannya wajib, maka tidak boleh ikut menikmatinya, seperti seseorang yang mengeluarkan zakat. Apabila nadzar yang dilakukan adalah Muthlaq, seperti ia mengatakan : Aku harus qurban dengan kambing ini, atau kambing ini akan saya sembelih sebagai qurban, maka bagi yang melakukannya boleh ikut memakan dagingnya, sebagaimana seseorang yang melakukan qurban sunah, maka ia boleh ikut memakan dagingnya. ( Asnal Matholib fi Syarhi Roudlatut Tholib Juz : I halaman : 545 ).

وقال السيد عمر: ما نصه ينبغي أن محله أي التعيين بقوله هذه أضحية ما لم يقصد الاخبار بأن هذه الشاة التي أريد التضحية بها فإن قصده فلا تعيين وقد وقع الجواب كذلك في نازلة رفعت لهذا الحقير وهي أن شخصا اشترى شاة للتضحية فلقيه شخص فقال ما هذه ؟ فقال أضحيتي اه. حواشي الشرواني والعبادي - (ج 9 / ص 356)

Dan Sayid ‘Umar telah mengatakan : dimana nashnya (pernyataannya) sebaiknya adalah tempatnya yaitu ta’yin dengan ucapan “Ini untuk qurban” selagi tidak bermaksud mengkhabarkan, dengan sesungguhnya kambing ini yang  aku kehendaki untuk qurban, maka jika yang dimaksudkan mengkhabarkan maka tidak ta’yin dan sungguh yang terjadi jawaban demikian itu hilanglah cela ini. Dan dia itu adalah, apabila seseorang membeli kambing untuk qurban, lalu ketemu seseorang, kemudian orang itu bertanya : Untuk apa kambing ini ? lalu ia jawab : Untuk qurbanku. ( Hawasyi As-Syarwani wal ‘Ibadiy : Juz : IX halaman : 356 ).

Jadi umpama orang mengatakan kambingku ini akan aku jadikan qurban, apabila orang itu tidak ada niyat nadzar dan hanya niyat mengkhabarkan saja, maka orang itu harus berqurban dengan kambing itu, dan boleh dia menikmati daging qurbannya. Begitu pula seumpama orang beli kambing, dia ditanya orang lain : “Untuk apa beli kambing ?”, dia jawab : “Untuk qurban”. Jika jawaban itu tidak ada niyat nadzar, maka tidak terjadi nadzar, dan boleh dia menikmati daging qurbannya. 

Pisau Terlepas Pada Saat Penyembelihan Hewan Kurban

Pisau Terlepas Pada Saat Penyembelihan Hewan Kurban - Pisau yang terlepas pada saat penyembelihan, jika dikembalikan dengan segera halal sembelihan itu, asalkan pada waktu pisau yang terlepas tadi saat di kembalikan hewan tersebut masih ada tanda-tanda hayatan mustaqirah ( kehi- dupan yang utuh ) bukan kehidupan akhir dalam menanti kematian. Oleh karena itu jika pengembalian pisau yang lepas dari penyembelihan tadi tidak seperti yang tersebut diatas maka sembelihannya tidak sah. Tidak halal pula jika pisau itu sudah terlepas dari menyudahi penyembelian, lalu ditusukkan lagi ke pangkal tenggorok, dengan tujuan agar binatang sembelihan itu cepat mati.

Tanda-tanda hayatan mustaqirah adalah terpancarnya darah yang sangat kuat atau gerakan-gerakan yang kuat serta masih adanya suara dari kerongkongannya.

اعتمد في التحفة حل الذبيحة ، فيما إذا رفع يده لنحو اضطرابها أو انفلتت شفرته فردها فوراً فيهما ، وكذا لو ذبح بشفرة كالة فقطع بعض الواجب ثم أدركه آخر فأتمه بسكين أخرى قبل رفع الأوّل ، سواء أوجدت الحياة المستقرة عند شروع الثاني أم لا اهـ. بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 545)

Telah berpegangan dengan kuat oleh Syaikh Ibnu Hajar didalam kitab Tuhfah akan halalnya penyembelihan, pada suatu yang apabila mengangkat seorang akan tangannya karena bergetarnya, atau terlepas pisaunya, maka dikembalikannya dengan segera pada kedua masalah tadi. Dan demikian pula jika ia menyembelih dengan pisau yang tumpul maka ia telah memotong sebagian yang wajib, lalu disusul oleh lain orang dengan pisau yang lain sebelum mengangkatkan yang pertama, sama saja didapatkannya hayat mustaqirah ketika memulai yang kedua ataupun tidak. (Bughyatul Mustarsyidin : Juz 1 halaman 545).

وفي كلام بعضهم أنه لو رفع يده لنحو اضطرابه فأعادها فورا وأتم الذبح حل وقول بعضهم لو رفع يده ثم أعادها لم يحل مفرع على عدم الحياة المستقرة عند إعادتها أو محمول على ما إذا لم يعدها على الفور. )فتح المعين - ج 2 / ص 348)

Dan didalam ucapan sebagian Ulama, bahwa sekalipun mengangkat tangannya seumpama karena bergetarnya lalu dikembalikannya tangan itu dengan segera dan telah sempurna sembelihan itu maka halal. Dan kata sebagian Ulama, jikalau terangkat tangannya kemudian dikembalikannya, tidak halal sembelihan itu sebab terhenti hingga tidak ada tanda-tanda hayatan mustaqirah ketika mengembalikan-nya atau mengandung arti atas sesuatu jika hal itu tidak dikembalikannya seketika itu. (Fathul Mu’in halaman 348).

Hukum Meminta Bagian Daging Atas Hewan Kurbannya

Dalam pembagian daging kurban terdapat orang-orang yang berhak menerimanya, diantaranya adalah fakir, miskin, ulama' dan orang-orang yang berperan serta dalam penyembelihan hewan qurban (panitia penyembelihan hewan qurban). Akan tetapi ada sebagia orang yang meminta bagian daging dari hewan yang dia kurbankan. Bagaimanakah hukumnya meminta bagian daging dari hewan yang dia kurbankan didalam hukum islam? jawabannya adalah sebagai berikut:

Orang yang qurban sunah boleh memakan sepertiga (1/3) bagian dari sembelihan qurbannya. Hal ini didasarkan oleh hadis sebagai berikut:

عن إبراهيم الأصفح مؤذن أهل المدينة ، عن أبيه قال : شهدت أبا هريرة ، رضي الله عنه ، بالمصلى قال لرجلين : ما عندكما ما تضحيان ؟ قالا : لا ، فانطلق بهما إلى منزله فأخرج شاته قال : تقبل الله من أبي هريرة ومن فلان وفلان ، ثم أخذ كبدها أو شيئًا منها فشوى ، فأكلوا منها ثم جزأها أثلاثًا ، فانقلب الرجلان بثلثيها ، ودخل بيت أبي هريرة ثلثها. إتحاف الخيرة المهرة - (ج 5 / ص 324)

Dari Ibrahim al-Ashfahi mu’adzin penduduk Madinah, dari ayahnya berkata : “Aku telah melihat Abu Hurairah ra, di Mushalla, beliau bertanya kepada dua orang lelaki : Apa yang ada pada kamu berdua, apa qurban kamu berdua ?. Keduanya menjawab : Tidak ada. Lalu Abu Hurairah meninggalkan keduanya menuju kerumah beliau dan mengeluarkan kambing beliau, seraya berdo’a : Semoga Alloh menerima (qurban) dari Abu Hurairah dan dari si Fulan ini dan Fulan ini. Kemudian beliau mengambil hatinya atau sedikit daripadanya dan membaginya sama, maka mereka sama makan dari qurban itu, kemudian membaginya sepertiga-sepertiga, lalu pulanglah dua orang lelaki itu dengan membawa dua pertiganya, dan Abu Hurairah masuk kerumah membawa sepertiganya”. (Ittihaful Khairah al-Mahrah – Juz 5 halaman 324).

وَكُلُّ ما كان أَصْلُهُ تَطَوُّعًا مِثْلُ الضَّحَايَا وَالْهَدَايَا تَطَوُّعًا أَكَلَ منه وَأَطْعَمَ وَأَهْدَى وَادَّخَرَ وَتَصَدَّقَ وَأَحَبُّ إلى أَنْ لَا يَأْكُلَ وَلَا يَحْبِسَ إلَّا ثُلُثًا ويهدى ثُلُثًا وَيَتَصَدَّقُ بِثُلُثٍ. ) الأم - ج 2 / ص 217)

“Dan setiap sesuatu yang asalnya sunnah, seumpama sembelihan qurban dan hadiyah sunnah, boleh makan daripadanya (orang yang qurban), memberikan untuk dimakan, menghadiyahkan, menyimpan dan menshadaqahkan. Dan yang lebih aku (As-Syafi’iy) sukai supaya tidak memakan dan menyimpan melainkan 1/3 dan menghadiyahkan 1/3 dan menshadaqahkan 1/3 (dari qurban) itu”. (Al-Um – Juz : 2 halaman : 217).

روى البيهقي" أنه صلى الله عليه وسلم كان يأكل من كبد أضحيته"  وسن إن جمع بين الأكل والتصدق والإهداء أن لا يأكل فوق ثلث وهو مراد الأصل بقوله ويأكل ثلثا و أن لا يتصدق بدونه أي بدون الثلث وهو من زيادتي وأن يهدي الباقي ويتصدق بجلدها أو ينتفع به أي في استعماله وإعارته دون بيعه وإجارته. شرح المنهج - (ج 5 / ص 260)

Diriwatkan oleh Al-Baihaqiy : “Bahwa Nabi Saw, adalah memakan hati hewan qurbannya”. Dan bila disepakati antara dibolehkan makan, shadaqah dan menghadiyahkan, hendaknya jangan memakan melebihi 1/3, dan itu yang di kehendaki asal katanya : Dan makan 1/3 dan tiadalah menshadaqahkan selain 1/3, demikian itu dari tambahanku, lalu hendaklah menghadiyahkan yang tersisa (1/3), dan menshadaqahkan kulitnya (qurban) atau memanfa’atkan kulit itu, artinya digunakannya, dan meminjamkannya bukan menjual dan menjadikannya upah. (Syarah Minhaj – Juz 5 halaman 260).

Dengan demikian sudah cukup jelas bahwa, orang yang berkurban sunah itu diperbolehkan memakan daging kurbannya tidak melebihi 1/3 dari qurbannya, dan tidak boleh menjual bagian apapun dari qurban itu selain orang yang berhak menerimanya.

Cara Mensucikan Kaki yang Terkena Kotoran Kering

Cara Mensucikan Kaki yang Terkena Kotoran Kering - Ketika ke masjid setelah berwudlu kakinya menginjak kotoran cicak yang sudah kering, bagaimana cara mensucikannya apa cukup di basuh atau berwudlu lagi ?

Jawab :
Jika setelah wudlu itu telapak kakinya sudah kering dan menginjak kotoran cicak yang sudah kering juga, maka tidak perlu membasuh kakinya yang menginjak kotoran tadi. Jika kakinya masih basah, maka tidak perlu mengulangi wudlu’nya, cukup dibasuh kakinya yang terkena najis itu.

لا يضر لمس النجاسة اليابسة بالبدن والثوب اليابس ، وهكذا لا يضر دخول الحمام اليابس حافيًا مع يَبَس القدمين لأن النجاسة إنما تتعدى مع رطوبتها . فتاوى إسلامية - (ج 1 / ص 233

Hukum Wasiat Mendonorkan Anggota Tubuh

Hukum wasiat mendonorkan anggota tubuh - Ada orang yang berwashiyat, jika ia sudah mati ingin mendonorkan matanya kepada orang lain, bagaimana menurut agama islam ?

Jawab :
Wasiyat tersebut tidak sah, karena tidak memenuhi syarath-syarath wasiyat yang anatara lain muthlaq al-milki. Dan menurut syara’ organ mayit itu haq Allah bukan milik seseorang.

وبهذا فإن الإيصاء ببعض أجزاء الجسم كما جاء فى السؤال لا يدخل فى نطاق الوصية بمعناها الاصطلاحى الشرعى، لأن جسم الإنسان ليس تركة ولكنه يدخل فى المعنى اللغوى للفظ الوصية. فتاوى الأزهر - (ج 7 / ص 356)

هل يحل شرعا نقل جزء من جسم إنسان ميت إلى جسم إنسان حى بقصد علاج هذا الخير أو لا يحل ؟.ان الصحيح فى المذهب أن الآدمى لا ينجس بالموت لكن لا يجوز استعمال جلده ولا شىء من أجزائه بعد الموت لحرمته وكرامته. فتاوى الأزهر - الدكتور زكريا البرى - (ج 7 / ص 356)

Hukum Menbaca Do'a Iftitah dalam Shalat Sunah

Hukum Menbaca Do'a Iftitah dalam Shalat Sunah - Bagaimana hukumnya membaca do’a iftitah di dalam shalat sunah ?

Jawab :
Membaca do’a iftitah di dalam shalat sunah atau shalat fardlu itu hukumnya sunnah.

قراءة دعاء التوجه : وهو مستحب في الفرض والنفل - كما يدل عليه حديث علي رضي الله عنه اللاحق - للمنفرد وللإمام وللمأموم. نَحْوَ : " وَجَّهْتُ وَجْهِي لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ ، إنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَبِذَلِكَ أُمِرْت وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ " لِلِاتِّبَاعِ . فقه العبادات - شافعي - (ج 1 / ص 314)

قَوْلُهُ : ( دُعَاءُ التَّوَجُّهِ ) فِيهِ تَغْيِيرُ إعْرَابِ الْمَتْنِ ، وَالْمُصَنِّفُ يَفْعَلُ ذَلِكَ كَثِيرًا أَيْ دُعَاءُ
الِافْتِتَاحِ  سَوَاءٌ  كَانَتْ الصَّلَاةُ  فَرْضًا أَوْ نَفْلًا إلَّا صَلَاةَ  الْجِنَازَةِ . حاشية البجيرمي على
الخطيب - الشَّيْخِ سُلَيْمَانِ الْبُجَيْرِمِيِّ - (ج 4 / ص 350)

Hukum Mengingatkan Orang yang Makan karena Lupa di Bulan Puasa

Hukum Mengingatkan Orang yang Makan karena Lupa di Bulan Puasa - Jika kita melihat orang yang berpuasa makan/minum karena lupa, apakah kita wajib mengingatkannya ?

Jawab :
Mengingatkan orang yang lupa dalam masalah ibadah bagi orang mukmin adalah suatu kewajiban.

وذكر فانّ الذكرى تنفع المؤمنين (55) وما خلقت الجنّ والإنس الاّ ليعبدون (56).

Dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang ber- iman. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia me- lainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. QS. Ad-Dzariyat : 55 – 56.

{وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ} أي: إنما تنتفع بها القلوب المؤمنة. ثم قال:{وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلالِيَعْبُدُونِ } أي: إنما خلقتهم لآمرهم بعبادتي، لا لاحتياجي إليهم.وقال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس:{إِلا لِيَعْبُدُونِ}أي:إلا ليقروا بعبادتي طوعا أو كرها وهذا اختيار ابن جرير. تفسير ابن كثير - (ج 7 / ص 425)

والتواصي بالحق: أن يوصي الناس بعضهم بعضا بما لا مجال لإنكاره من إيمان وخير وفضيلة. بِالصَّبْرِ قوة في النفس تدعو إلى احتمال المشقة في العمل. والتواصي بالصبر: أن يوصي الناس بعضهم بعضا به، ويحث الواحد غيره عليه. التفسير المنير للزحيلي - (ج 30 / ص 393)