Ziarah Kubur Gondoloyo

My-Dock/Sejarah - Setelah meninggalnya R. Suradiningrat Seda demung, terjadi kekosongan kepemimpinan dan putra-putranya sama menginginkan menggantikan kedudukan ayahandanya. Karena peristiwa ini akhirnya Sri Sunan Solo mengutus R.M Wiryodiningrat, untuk menata para putra-putra R. Surodiningrat, agar Ponorogo menjadi pulih tentram kembali. Akan tetapi usaha ini gagal tidak membuahkan hasil, kemudian Sri Sunan Solo mengutus P. Purbonegoro untuk melakukan musyawarah dengan para putra R. Surodiningrat Sedodemung tersebut. Selanjutnya permusyawaratan itu meng hasilkan keputusan bahwa, para putra R. Surodiningrat yang laki-laki di urut dari yang lebih tua diberi kedudukan, diantaranya :
  • R. Brotodiwirjo menjadi bupati di Madura.
  • R.T Surolojo menjadi bupati Ponorogo
  • R.T Brotonegoro menjadi bupati Polorejo
  • R. Pandji Hudan Sanjoto bupati Jakarta.
  • R. Surojudo menjadi bupati Srengat.
Selanjutnya para putri-putrinya dinikahi oleh para pejabat di Surakarta dan Yogjakarta diantaranya :
  • R.A Judonegoro istri bupati Banyumas
  • R.A Djajengrono istri bupati Caruban
  • R.A Mangkudipuro istri bupati Madiun
  • R.A Pamogan istri Sinuwun Solo
  • R.A Sinduredjo adipati Surakarta.
  • R.A.T Sumodjojo istri bupati Surakarta
  • R.A Danuredjo patih dalem Yogjakarta
  • R.A Selarong adipati di Yogjakarta.


Ketika Ponorogo dipimpin oleh R.T Surolojo mengalami kemajuan dalam semua sektor termasuk perdagangan, hubungan dengan keraton Surakarta semakin baik, hal ini dikarenakan R.T Surolojo sebelumnya pernah menjadi pejabat di Surabaya, sehingga beliau mudah membangun komunikasi.

Dalam rangka untuk kemajuan Ponorogo, R.T Surolojo sering keluar daerah, sehingga menjadikan pemerintah Belanda curiga terhadapnya, dan dianggap dapat membahayakan sehingga beliau di pindahkan ke Jakarta. Kemudian digantikan oleh saudaranya sendiri yang bernama Surodiningrat II, agar kabupaten Ponorogo tidak terjadi kekosongan pemimpin.

Waktu Adipati Surodiningrat II berkuasa terjadi perang Diponegoro, dan pemerintah Belanda sangat curiga terhadap para Bupati di Ponorogo. Apalagi di dukung dengan keberadaan P. Diponegoro yang telah menginap di daerah Ponorogo.

Mulai saat itulah kabupaten Ponorogo dijaga ketat oleh serdadu Belanda, dan menjadi masa berakhirnya kabupaten Ponorogo Kutho Wetan, atau kota lama. R. Adipati Surodiningrat meninggal tahun 1837 M, dan dimakamkan di Gondoloyo masuk Desa Plalangan Kecamatan Jenangan, dan selanjutnya anak turunnya dimakamkan disini juga.

R.T. Surodiningrat II istrinya 6 dan anaknya ada 13 yaitu :
  1. A. Istri dari Kadilangu Demak berputra :
  2. R.Ngabei Brotonegoro – wedono Ponorogo.
  3. R.M Pandji Notowidjojo – jekso Ponorogo
  4. R.A Wonoprawirodirdjo.
B. Istri dari Surakarta berputra :
  1. R.M Surodiningrat – bupati Magetan
  2. R.A Mertohadinegoro – bupati Ponorogo
  3. R.M Sosrokusumo – patih Ponorogo
  4. R.A Sumodiwirjo – wedono Pelem Mage- tan.
C. Istri ke III (R.A Ismojowati) berputra :
  • R.Panji Surolojo – bupati Ponorogo
D. Istri ke IV (R.A Dojowati) berputra :
  1. R.Panji Surobroto – Magetan.
  2. R.Panji Wirjoseputro – Ponorogo.
  3. R.Panji Wirobroto – Ponorogo.
  4. R.Panji Sumobroto – Ponorogo.
E. Istri ke VI (R.A Regu) berputra :
  • R.Panji Danukusumo – Magetan.


Ditulis oleh : Moh Cholil
Editor : Moh Najiib

Ziarah Makam Srandil dan Sejarah R.M Mertokusumo

Ziarah Makam Srandil dan Sejarah R.M Mertokusumo

My-Dock/Sejarah - Makam Srandil berada diatas perbukitan yang biasa orang sekitar menyebutnya bukit Serayu, dan makam ini menghadap kearah selatan dilingkari dengan pagar dinding (tembok.Jw.) dari batu bata dan pintu masuknya berupa gapura. Di tengah-tengah lingkaran pagar tembok itu terdapat 2 rumah gedong, dan di depannya juga terdapat cungkup (rumah gedong kecil).



Di sekitar makam bukit Srandil ini terdapat lima perbukitan, jika diurut dari barat ketimur nama nama bukit itu adalah :
  1. Bukit Lembu 
  2. Bukit Bancak
  3. Bukit Ngrayu terdapat goa disana.
  4. Bukit Serayu dan
  5. Bukit Serandil.
Daerah Srandil ini dahulu kala merupakan tanah perdikan (tanah yang tidak dikenai pajak), kemudian mulai tahun 1964 semua tanah perdikan di cabut oleh pemerintah RI dan statusnya menjadi tanah umum yang terkena pajak.


Yang di makamkan di bukit Srandil ini adalah bupati Sumoroto beserta anak cucunya, dan bentuk makam berupa rumah gedong yang jumlahnya ada 2 gedong, adapun yang dimakamkan digedong sebelah barat, berurutan dari arah barat adalah :
  1. R.M Riyo Surjo Hadikusumo-wafat 10-10-1935.
  2. R.M Brotodiningrat-wafat 16-3-1927
  3. R.A.T Sumonegoro
  4. ......... (tidak ada namanya)
  5. R.M Mertokusumo turun Batoro Katongan.
R.M Mertokusumo inilah yang pertama kalinya dimakamkan di bukit Srandil ini, beliau putra dari R.T Mertowongso II Bupati Ponorogo Kutha Wetan, dan beliau juga yang babad dhukuh Babadan yang terletak disebelah utara bukit Srandil dimana didhukuh ini dulu beliau madeg pandita. Diluar gedong ini disebelah baratnya ada cungkup merupakan makamnya R.M Tondhowinoto sekaliyan garwo yang wafat tanggal 17-7-1939.

Kemudian pada gedong yang kedua di sebelah timurnya gedong pertama dimakamkan : R.M Brotodirdjo sekaliyan. Di depan gedong sebelah timur di pelataran adalah makam R. Surodiwirjo (bekel juru kunci Srandil) Lurah Srandil pertama. Dan di depan gedong timur dekat dengan pagar tembok makamnya R.M Harijogi bupati Ponorogo putra R.M Tondowinoto. Pada sisi kiri pintu gapuro di dalam plataran adalah makamnya R. Imamredjo sekaliyan (Lurah Srandil).

Gapura Makam Srandil
Gapura Makam Srandil
R.M Rijo Surjo Hadikusumo adalah putra dari R.T Sumonegoro, nama kecil dari R.M Rijo Surjo Hadikusumo adalah R.M Imam Suwongso, ketika masih muda menjabat mantri polisi di Magetan, dan kemudian menjabat Wedono di Uteran Madiun.

Ketika di Magetan terjadi perampokan yang dilakukan oleh Yahuda yang sangat sakti mandraguna karena diembani Jin, Residen Madiun minta bantuan kepada R.M Rijo Surjo Hadikusumo wedono Uteran untuk menangkap Yahuda. Permintaan Residen Madiun itu disanggupi dan R.M Rijo Surjo Hadikusumo terus bekerja, dengan bekal kesaktiannya yang pilih tanding, kesaktian Yahuda ternyata tidak sebanding dengan kesaktian yang dimiliki oleh R.M Rijo Surjo Hadikusumo Yahuda mati ditangannya. Dengan keberhasilannya inilah akhirnya beliau diangkat menjadi Patih di Pacitan.

R.M Tondowinoto.adalah putra R.M.T Brotodirdjo bupati Sumoroto ke III, ketika biliau menjadi camat di Kambeng, disana terjadi perampokan dengan sebutan Rampok Senepo yang dipimpin oleh Eko dengan aji andalannya kidang kencono.

Ketika R.M Tondowinoto hendak menangkap Eko dibantu oleh 7 lurah (kepala desa), rupanya rencana penangkapan ini dapat diketahui oleh si Eko, karena itu dia juga menyiapkan kawanan begal dan rampok, akan tetapi Eko untuk menghadapi R.M Tondowinoto dan 7 lurah tersebut tidak ingin melibatkan kawan-kawannya. Hanya saja apabila nanti dirinya betul-betul tertangkap terserahlah pada kawan-kawannya itu untuk mengambil sikap. 


Akhirnya Eko dapat ditangkap oleh R.M. Tondo winoto bersama 2 orang lurah yang membantunya namun naasnya ketika Eko sudah dirantei dan akan dibawa ke kantor Kecamatan, 20 orang kawanan Eko tiba-tiba menyerang dan mengeroyok R.M Tondowinoto, bagaimanapun kesaktian R.M Tondowinoto tidak mampu menghadapi 20 orang kawanan rampog.

R.M Tondowinoto akhirnya jatuh dan tidak berdaya lagi kemudian diceburkan ke sungai, sekalipun demikian keadaannya 2 orang Lurah yang membawa Eko selamat sampai di kantor Kecamatan Kambeng. Sekalipun sudah diceburkan ke sungai R.M Tondowinoto masih selamat dan dapat pulang kerumahnya, dan Eko diputus oleh pengadilan mendapat hukuman dibuang ke daerah Sawahlunto Sumatra. Kemudian R.M Tondowinoto diangkat menjadi Wedono Ardjowinangun-Tamansari merangkap Lid Landraad.

R.M Tondowinoto dibuang ke Ngawi (diselong), karena membela R.M Brotodirdjo yang sedang ada masalah dengan Residen Madiun, tentang urusan pengairan sawah yang tidak menguntungkan para petani, selanjutnya R.M Tondowinoto di pindah kan ke Pacitan menjadi mantri Gudang Garam. Karena R.M Tondowinoto dalam menjalankan tugasnya sebagai mantri Gudang Garam selalu membela dan menguntungkan rakyat, akhirnya dipensiun dan mendiami rumahnya sendiri lagi hingga beliau meninggal dunia tanggal 17-Juli-1939 M dan di makamkan di pemakaman Srandil.

*Foto oleh : Nanag Diyanto
Ditulis oleh : Moh Cholil
Editor : Moh Najiib

Memberantas Peredaran Berita Bohong (HOAX)

Memberantas Peredaran Berita Bohong (HOAX)

My-Dock/News - Kata HOAX atau berita bohong memang sudah tidak asing ditelinga kita. Saat ini banyak sekali kasus berita bohong yang di beritakan dimedia masa. Menjelang pilpres 2019 berita bohong bertebaran dimana-mana bagaikan jamur yang tumbuh dimusim penghujan. Pemerintah Indonesia saat ini gencar memberantas peredaran berita bohong (HOAX) dengan mengeluarkan Undang-undang ITE Nomor 11 Tahun 2008 Pasal 28 dan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 Pasal 45a tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008.

Kita harus pandai-pandai dalam mencerna informasi yang kita dapatkan, baik dari media sosial, Website, telefon, sms, siaran radio dan juga siaran televisi. Mari kita bantu Pemerintah untuk memberantas peredaran berita bohong (HOAX) dengan mengetahui ciri-cirinya. Ciri-ciri berita bohong (HOAX) sebenarnya banyak sekali, diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Informasi atau berita tersebut berasal dari situs yang tidak dapat dipercaya. Contohnya: Situs yang tidak memiliki tim redaksi (situs berita), pemilik dan penulisnya tidak jelas, tidak mencantumkan kontak yang bisa dihubungi (kalaupun ada tapi tidak dapat dihubungi) dan terakhir alamat website tidak jelas.
  2. Tempat dan juga waktu kejadian tidak jelas atau bahkan tidak dicantumkan.
  3. Biasanya menekankan pada isu SARA atau adudomba yang sangat berlebihan.
  4. Barita yang disajikan menyudutkan pihak tertentu.
  5. Berita yang disajikan tidak berimbang.
  6. Berita yang disajikan mempunyai alur yang tidak jelas atau nglantur.
  7. Berita yang disajikan Bahasa atau tata kalimatnya rancu dan tidak berhubungan antara satu dengan yang lain.
  8. Berita yang disajikan menggunakan bahasa yang emosional dan provokatif.
  9. Menyarankan kepada penerima berita untuk mengirim uang, mengklik alamat URL, membagikan atau melike tulisannya dengan kata kata yang berlebihan.
  10. dan terakhir, biasanya berita tersebut dibagikan oleh akun palsu atau abal-abal.


Baca Juga : Berita Bohong (HOAX)

Kali ini saya akan memberikan tips memberantas berita bohong yang sangat meresahkan tersebut. Tips yang saya berikan adalah sebagai berikut,
Facebook, kita bisa memanfaatkan fitur yang sudah diberikan Facebook kepada penggunanya.
Tips Memberantas Berita Bohong (HOAX) - Facebook
Caranya adalah dengan cara klik menu titik tida dipojok kanan atas pada setatus yang ingin kita laporkan => Berikan masukan tentang postingan ini dan ikuti langkah selanjutnya sampai dengan selesai.

Twitter, caranya hampir sama dengan Facebook, setelah melihat gambar dibawah pasti sudah faham,
Tips Memberantas Berita Bohong (HOAX) - Twitter
Caranya dengan mengklik menu di pojok kanan atas postingan => Laporkan Tweet dan ikuti langkah selanjutnya. Dimenu selanjutnya anda akan dimintai keterangan terkait dengan postingan yang ingin anda laporkan. Untuk media sosial lain seperti Instagram, Pinterest ataupun yang lainnya caranya hamir sama.

Selain melalui menu tersebut kita juga bisa melaporkan berita bohong atau konten negatif dari media sosial, website, telefon, sms, siaran radio dan juga siaran televisi melalui E-mail aduankonten@mail.kominfo.go.id yang dibuat pemerintah melalui Kementrian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO). Kerahasiaan pelapor akan dijamin dan aduan bisa dilihat melalui website https://trustpositif.kominfo.go.id/


Perang Brotonegoro melawan Kompeni Belanda

Makam R.T Brotonegoro
Makam R.T Brotonegoro dipuncak Gn. Larangan
My-Dock/Sejarah - Pada tahun 1825 M ketika terjadi perang Diponegoro melawan Belanda, P. Diponegoro beserta bala tentaranya memasuki wilayah Ponorogo dari wilayah kabupaten Pacitan, dan istirahat di kabupaten Polorejo yang ketika itu bupatinya tumenggung Brotonegoro. Setelah bala tentara P. Diponegoro istirahat sehari semalam di Polorejo, mereka lalu berangkat lagi kearah barat menuju Jawa Tengah melalui Sumoroto dan Badegan kemudian kembali ke Yogjakarta.

Setelah Polorejo ditinggalkan bala tentara P. Diponegoro, Belanda memasuki wilayah kabupaten Polorejo dengan persenjataan lengkap dan menyerbu, akan tetapi ketika itu Brotonegoro sudah siap untuk menghadapi pasukan Belanda karena memang sudah antisipasi sebelumnya, mesti nanti sepeninggalnya tentara P. Diponegoro dari Polorejo Belanda pasti menyerbu Kabupaten Polorejo. Dan betullah antisipasi Brotonegoro tersebut, karena itu sebelum di serbu oleh Belanda, Brotonego sudah menyiapkan para prajurit dengan persenjataan lengkap dan persiapan mental dan phisik yang mantap menghadapi serangan Belanda.



Sebelum kompeni Belanda tiba di wilayah wewengkon Kabupaten Polorejo, tumenggung Broto negoro sudah mendapatkan informasi tentang dari arah mana bala tentara Belanda akan menyerang Polorejo. Informasi dari teliksandi (inteljen) tumenggung Brotonegoro itu menerangkan, bahwa Belanda akan memasuki dan menyerang dari arah Utara Barat yaitu daerah Magetan, oleh karena itu tumenggung Brotonegoro membuat calon (bakal) pesanggrahan di sebelah barat daya kabupaten Polorejo + 2,5 Km, pesanggrahan itu terbuat dari bambu yang di bentuk menara yang tinggi digunakan untuk mengintai kedatangan musuh. Kemudian tempat untuk membuat calon (bakal-Jw.) pesanggrahan itu di abadikan sebagai sebuah dukuh yaitu Bakalan yang masuk wewengkon Polorejo.

Adapun pesanggrahan yang dibuat oleh para pra jurit Brotonegoro itu letaknya lurus di utara masjid Bakalan +/-500 m. Tidaklah sia-sia persiapan Brotonegoro untuk  membuat  pesanggrahan itu, dan betul-betul bermanfaat untuk mengintai kedatangan Belanda, karena ketinggian menara pesang grahan itu 2x setinggi pohon bambu (rong uder- Jw.) dan sekaligus sebagai pusat komando.

Area Makam R.T Brotonegoro di Gunung Larangan
Perang Brotonegoro melawan Belanda sudah tidak dapat dihindari lagi dan betul-betul terjadi pada tahun 1825 M. Medan pertempuran berada di sebelah barat daya pesanggrahan, ketika tumenggung Brotonegoro menjemput kedatangan Belanda diikuti oleh banyak prajurit, dan sebagai tanda jika Belanda sudah datang seorang prajurit di perintah memukul gong yang disebut kyai Demung sekaligus sebagai aba-aba perang. Disaat Belanda datang prajurit pemukul gong demung memukul gong itu terus-menerus hingga kuda yang di tunggangi Brotonegoro lari melesat secepat kilat ndigar-ndigar menjemput musuh, dan tumenggung tampak gagah berani sebagai komandan perang.

Peperangan berlangsung hingga waktu sore hari menjelang malam, hingga sangat sulit untuk melihat lawan dan kawan dan Belandapun mundur, prajurit Brotonegoro banyak yang menyebar kocar kacir di berbagai penjuru arah. Namun tumeng gung sudah kembali lagi ke pesanggrahan diikuti oleh sebagian prajurit, waktu sudah betul-betul malam banyak prajurit kebingungan untuk kembali ke pesanggrahan, karena memang medan peperangan saat itu masih berupa hutan belantara. Di saat prajurit itu kebingungan mencari pesanggra han, tiba-tiba saat itu ada seorang prajurit yang melihat lampu yang kerlip-kerlip (kelip-kelip.Jw) tidak jauh dari tempat prajurit itu berdiri yaitu di arah sebelah barat lurus, kemudian mereka sama mengatakan yang kelip-kelip diatas itu pasti lampu pesanggrahannya ndoro Brotonegoro, dan ternyata betul. Setelah mereka berjalan menuju ke arah lampu tersebut ketemu dengan prajurit-prajurit lainnya dan mereka dapat berkumpul kembali.

Kemudian tempat prajurit memukul Gong Demung tadi dinamakan dukuh Demung masuk Ds.Sukosari. Tempat ndigar-ndigar kudanya Brotonegoro dinamakan persawahan Tegari, karena sekarang tempat ini berupa tanah persawahan masuk Desa Polorejo. Tempat prajurit mengatakan kelip-kelipnya lampu pesanggrahan itu dinamakan Sekelip masuk wilayah Polorejo. Bekas (petilasan) pesang grahan Brotonegoro dinamakan sawah Tilasan, karena sekarang berupa tanah persawahan, yang dahulu kala ada gerumbulnya dinamakan gerumbul Tilasan dan gerumbul itu di tebang sekitar tahun 1998 M.
Jatuhnya Kota Madiun ke Tangan Belanda.
Pada tanggal 15 Nopember 1825 pertahanan kabu paten Madiun yang setia kepada P. Diponegoro dipusatkan diselatan kota Ngawi, namun para pasukan yang berada dalam pertahanan ini mendapat gempuran yang hebat dari serdadu Belanda. Dari sebelah utara di gempur oleh Belanda yang dipimpin oleh Theunissen, dari barat di serang Belanda yang dipimpin oleh Letnan Vlikken Sohild dengan ratusan prajurit Jogorogo Surakarta pro Belanda. Akhirnya pasukan Madiun yang setia kepada P. Diponegoro menjadi kocar-kacir dan Ngawi jatuh ketangan Belanda.

Pada waktu itu pertahanan P. Diponegoro di Madiun sektor Selatan di tempatkan di daerah Kabupaten Pacitan dengan panglima daerah dibawah pimpinan Bupati Mas Tumenggung Djojokaridjo, Mas Tumenggung Djimat dan Ahmad Taris, namun karena kuatnya serdadu Belanda pada akhir Agustus 1825 M, Pacitan dapat dikuasai oleh ser dadu Belanda.

Makam Kuda R.T Brotonegoro
Dengan berhasilnya Belanda melumpuhkan pasukan P. Diponegoro di Madiun, pertahanan sektor Selatan dan sektor Utara (Ngawi), maka wilayah Madiun secara keseluruhan sudah jatuh ketangan Belanda dan Brotonegoro bupati Polorejo yang menjadi benteng pertahanan kota Ponorogo utarapun di obrak-abrik oleh Belanda. 

Brotonegoro seorang bupati yang gagah berani itu tetap menghadang serdadu Belanda yang datang dari arah kota Madiun dan Goranggareng Magetan. Karena pasukan dan persenjataan yang tidak seimbang, maka pasukan Brotonegoro banyak yang tewas, dan pertempuran menjadi tidak seimbang karena semakin sedikitnya pasukan Brotonegoro maka pekathiknya dengan sigap meloncat naik ke punggung kudanya Brotonegoro dan menarik ken dali kudanya dan mencambuk-cambuknya hingga kudanya lari melesat cepat menuju arah Barat laut.

Melihat Brotonegoro keluar dari medan pertempuran dan memacu kudanya sangat cepat, Belanda pun mengejarnya hingga Brotonegoro naik kepun cak Gunung Gombak (Nglarangan) Kauman Sumoroto. Gunung kecil itu diatasnya tidak berpenduduk hingga Belanda sangat mudah untuk mengepung perbukitan tersebut. Pada waktu itu tidak boleh seorangpun penduduk pribumi yang naik ke atas bukit, hingga waktu yang sangat lama, sehingga karena tidak ada makanan dan minuman setelah bertahan sekian bulan lamanya, akhirnya sang Bupati Brotonegoro menemui ajalnya.



Kemudian Gunung Gombak tersebut dinamakan Gunung Larangan, karena adanya larangan dari Belanda selama Brotonegoro berada diatas bukit, tidak boleh ada orang pribumi yang naik keatasnya. Akhirnya jenazah Brotonegoro oleh Belanda dikuburkan diatas Gunung itu, dengan pemakaman secara Islam, bersama kudanya Tejosumekar dan pekathiknya. 

Setelah Brotonegoro wafat dalam medan perang dengan cara yang sangat tidak manusiawi oleh perlakuan Belanda, maka yang menggantikan kedudukan Bupati Polorejo adalah Brotowirjo sekitar tahun 1825 s/d 1829 M, dia adalah adik kandung Brotonegoro, dan menjadi bupati Polorejo tidak lama hanya dalam kurun 3 tahun sudah meninggal dunia, kemudian digantikan oleh putra menantunya yang bernama Mertomenggolo tahun 1829 – 1834 M. Selanjutnya di gantikan oleh R.T Wirjo negoro putra R.T Brotowirjo tahun 1834 – 1837. Di tahun inilah R.T Wirjonegoro meninggal dunia dan dimakamkan dimakam keluarga R. Betoro Katong Setono Jenangan Ponorogo. Dengan demikian Kabupaten Polorejo sudah runtuh dan di hanguskan oleh pemerintahan Belanda bersama dengan kabupaten Kutha Wetan (Kota Lama). *)

*) Sumber cerita ini diperoleh dari Mbah Selan, sesepuh lingkungan dukuh Ndalem Polorejo, beliau pernah menjadi Dan Co Jepang tahun 1943 – 1945.

Penulis : Moh. Cholil
Editor : Moh. Najiib

Sejarah Kabupaten Polorejo dan R.T Brotonegoro

My-Dock Sejarah - Pada tahun 1765 Polorejo resmi menjadi kota Kabupaten, dengan bupatinya yang pertama ialah putra Surodiningrat I bupati Ponorogo yaitu Raden Tumenggung Brotonegoro. Pusat pemerintahan kabupaten terletak di Dukuh Dalem Ds. Polorejo, sekarang Jl. Srigading. Sekitar tahun 1824 M ada utusan seorang senopati keraton Solo mengadakan kunjungan ke Katemenggungan Polorejo, karena memang saat itu kabupaten Polorejo di bawah kekuasaan keraton Solo.


Letak Pemerintahan Kabupaten Polorejo Tahun 1765,
Jl. Srigading Polorejo Babadan Ponorogo

Ketika selama kunjungan di Polorejo senopati itu tertarik akan kecantikan putrinya tumenggung Brotonegoro yang sedang menjanda kembang. Akan tetapi sang tumenggung sangat keberatan jika anaknya dijadikan selir oleh sang senopati, yang menurut cerita sudah banyak selir itu. Karena usahanya tidak berhasil, senopati itu mendekati Tumenggung Sumoroto yang kebetulan ada ketidak cocokan dengan tumenggung Brotonegoro.  Maka diaturlah siasat memfitnah sang tumenggung ke Raja Solo, dia membuat laporan bahwa, tumenggung Brotonegoro mbalelo. Mendapat laporan ini, raja Solo nimbali (memanggil) Brotonegoro untuk menghadap sang raja.

Selanjutnya secara diam-diam raja Solo mengirimkan telik sandi (intel) pribadi agar menyelidiki ketemenggungan Polorejo. Hasil investigasi dari pada telik sandi itu adalah bahwa, tidak diperoleh bukti–bukti yang kuat yang menunjukkan adanya tumenggung Polorejo Brotonegoro akan mbalelo ( memberontak ) ke Solo. Telik sandi itu tidak mendapati adanya pelatihan-pelatihan perang yang dilakukan oleh para prajurit katemenggungan, yang didapati hanyalah latihan pencak silat biasa saja, dan ketika ditanyakan kepada penduduk desa, mereka rata-rata men jawab tidak ada apa-apa, lagi pula situasi lingkungan katemenggungan tampak aman tidak ada tanda-tanda yang membahayakan keamanan, dan persiapan pemberontakan.



Kemudian raja Solo mengirim lagi utusan untuk memanggil Brotonegoro agar menghadap Raja, seraya utusan itu mengatakan bahwa Raja tidak akan menghukumnya dengan jaminan dirinya sendiri. Artinya jika sampai di Solo Brotonegoro jadi dihukum, maka hidup dan matinya utusan itu diserahkan kepada Brotonegoro.

Ketika Tumenggung Brotonegoro memenuhi panggilan rajanya berangkat dari Polorejo bersama-sama para prajurit dan utusan menuju Solo, dalam perjalanan tidak mendapati gangguan apapun dan selamat sampai di keraton. Kemudian Tumeng gung bersama utusan memasuki keraton menghadap Raja, sesampainya di hadapan raja tidak ada tutur kata yang mengancam keselamatannya dari rajanya, bahkan hanya membicarakan tentang keadaan keamanan katemenggungan, dan kesejahteraan penduduk Kabupaten  Polorejo  dan tidak ada yang lain. Menjadi legalah hati sang tumeng gung setelah sekian waktu dihadapan raja diterima dengan baik dan tidak ada tanda-tanda untuk di rangket (di tangkap) untuk di penjarakan.

Setelah selesai pisowanan (menghadap) raja, Brotonegoro pulang kembali ke Kabupaten Polorejo dengan selamat, dan sesampainya di dalem Kabupaten terus istirahat untuk melepas lelah dan bersyukur kepada Tuhan bahwa dirinya terlepas dari  fitnah  yang mengancamnya dengan hukuman penjara.

Makam R.T Brotonegoro
Makam R.T Brotonegoro sebelum direnovasi.

Penulis : Moh. Cholil
Editor : Moh Najiib