Penentuan Lebaran 2019 Metode Ephemeris

Penentuan Lebaran 2019 Metode Ephemeris

My Dock - Dalam rangka menentukan awal bulan ada tiga metode yang digunakan di Indonesia. Metode yang pertama adalah Ru'yatul Hilal (Melihat bulan baru secara langsung), kedua adalah metode Hisab Ru'yah (menentukan awal bulan dengan metode perhitungan) dan ketiga adalah menggunakan kedua metode tersebut. 

Perhitungan untuk menentukan awal bulan sendiri ada banyak sekali macamnya, metode Nautica Almanac, Ephemeris, Nurul Anwar dan masih banyak sekali metode perhitungan untuk menentukan awal bulan. Setelah kemarin saya sudah mencoba menghitung 1 Syawal 1440H / Lebaran 2019 dengan metode Almanac Nautica, pada kesempatan kali ini saya akan mencoba menghitung awal 1 Syawal 1440 / Lebaran 2019 dengan metode Ephemeris.

Baca Juga : Lebaran 2019 dalam Perhitungan Metode Almanac Nautica




Rumus metode Ephemeris ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan metode Almanac Nautica, yang membedakan adalah sumber data yang digunakan. Metode Ephemeris sumber datanya mengambil dari program yang disebut dengan Winhisab. Pada program Winhisab ini kita bisa mengambil data setiap tahunnya tanpa harus membeli. Untuk rumus yang digunakan diantaranya,

Rumus Menentuka Ijtima'
I = Jam FIB + (ELM - ALB) / (SB - SM) + Time Zone

Rumus Mencari Sudut Waktu dan Saat Tenggelam Matahari
Dip = 1.76 √ Ketinggian Tempat / 60
H.m = -SD - Refr - Dip
T.m = Cos-1 (-tan P x tan D + sin H.m / Cos P / Cos D)
Gh.= 12 - E + (105 + T.m - L)/15

Rumus Asensiorekta Matahari (ARM), Bulan (ARB), Declinasi Bulan (DB), Sudut Waktu Bulan (SB) serta Tinggi Bulan Hakiki
ARM, ARB dan DB = A - (A - B) x C
T.b = ARM - ARB + T.m
H.= Sin-1 (Sin P x Sin D + Cos P x Cos D x Cos T.b)



Rumus Mencari Tinggi Mar'i, Mukuts dan Saat Hilal Tenggelam.
Paralax = H.b x Hp (Pukul 11.00)
Refraksi = (0.0167 / tan( H.b + 7.31 / (H.b2+4.4)))
Mukuts = H.b / 15
Hilal Tenggelam = Gh.m + Mukust

Rumus Mencari Azimut Matahari (AM) dan Azimut Bulan (AB)
AM = Tan-1 (-Sin P / Tan T.m + Cos P x Tan D / Sin T.m)
AB = Tan-1 (-Sin P / Tan T.b + Cos P x Tan D.b / Sin T.b)

Rumus Menghitung Jarak Matahari dengan Bulan dan Arah Ru'yatul Hilal
JMB = AB - AM
ARB = 270 + AB

Perhitungan
Lokasi : Tanjung Kodok
Lintang Tempat (P) : -06° 51’ 50’’
Bujur Tempat (L) : 112° 21’ 28’’
Selisih Waktu : 7
Ketinggian Tempat : 10 m
Ijtima' Bulan : Syawal 1440 H
Tanggal : 3 Juni 2019

Rumus Menentuka Ijtima'
FIB Terkecil : 0.00069
Jam FIB : 10 GMT
ELM
72° 34’ 13’’     Pukul 10 GMT
72° 36’ 37’’  -  Pukul 11 GMT
  0° 2’ 24’’  (SM)

ALB
72° 31’ 41’’     Pukul 10 GMT
73°   5’ 55’’  -  Pukul 11 GMT
  0° 34’ 14’’  (SB)

I = Jam FIB + (ELM - ALB) / (SB - SM) + Time Zone
I = 10 + (72° 34’ 13’’ - 72° 31’ 41’’) / (0° 34’ 14’’ - 0° 2’ 24’’ ) + 7
I = 17° 4’ 46’’ Pukul : 17:4:46 Wib

Ijtima' pada tanggal 3 Juni 2019 pukul 17:4:46 Wib



Rumus Mencari Sudut Waktu dan Saat Tenggelam Matahari
Declinasi (D) Pukul 11 GMT : 22° 18’ 14’’
Equation of Time (E) Pukul 11 GMT : 0° 1’ 53’’
Semi Diameter (S.D) Pukul 11 : 0° 15’ 46,6’’
Refracsi : 0° 34’ 30’’

Dip = 1.76 √ Ketinggian Tempat / 60
Dip = 1.76 √ 10 / 60
Dip = 0° 5’ 33,94’’

H.= -SD - Refr - Dip
H.= -0° 15’ 46,6’’ - 0° 34’ 30’’ - 0° 5’ 33,94’’
H.= -0° 55’ 50,54’’

T.m = Cos-1 (-tan P x tan D + sin H./ Cos P / Cos D)
T.m = Cos-1 (-tan -06° 51’ 50’’ x tan 22° 18’ 14’’ + sin -0° 55’ 50,54’’ / Cos -06° 51’ 50’’ / Cos 22° 18’ 14’’)
T.m = 88° 11’ 1,33’’

Gh.= 12 - E + (105 + T.m - L)/15
Gh.= 12 - 0° 1’ 53’’ + (105 + 88° 11’ 1,33’’ - 112° 21’ 28’’)/15
Gh.= 17° 21’ 25,22’’

"Tenggelam Matahari pada tanggal 3 Juni 2019 adalah pukul 17:21:25 Wib"

Rumus Asensiorekta Matahari (ARM), Bulan (ARB), Declinasi Bulan (DB), Sudut Waktu Bulan (SB) serta Tinggi Bulan Hakiki
ARM, ARB dan DB = A - (A - B) x C

ARM
71°   5’ 57’’        (A) Pukul 10 GMT
71°   8’ 31’’        (B) Pukul 11 GMT
  0° 21’ 25,22’’   (C) Menit dan Detik Gh.m
71°   6’ 51,98’’   Hasil

ARB
71° 28’ 35’’        (A) Pukul 10 GMT
72°   4’ 12’’        (B) Pukul 11 GMT
  0° 21’ 25,22’’   (C) Menit dan Detik Gh.m
71° 41’ 17,92’’   Hasil

DB
19° 18’ 36’’        (A) Pukul 10 GMT
19° 25’ 23’’        (B) Pukul 11 GMT
  0° 21’ 25,22’’   (C) Menit dan Detik Gh.m
19° 21’ 13’’        Hasil

T.= ARM - ARB + T.m
T.= 71°   6’ 51,98’’ - 71° 41’ 17,92’’ + 88° 11’ 1,33’’
T.87° 36’ 35,39’’

H.= Sin-1 (Sin P x Sin DB + Cos P x Cos DB x Cos T.b)
H.= Sin-1 (Sin -06° 51’ 50’’ x Sin 19° 21’ 13’’ + Cos -06° 51’ 50’’ x Cos 19° 21’ 13’’ x Cos 87° 36’ 35,39’’)
H.= -0° 1’ 51,4’’



Rumus Mencari Tinggi Mar'i, Mukuts dan Saat Hilal Tenggelam.
Paralax = Cos H.x Hp (Pukul 11.00)
Paralax = Cos -0° 1’ 51,4’’ x 0° 58’ 7’’
Paralax = 0° 58’ 7’’

Refraksi = (0.0167 / tan( H.b + 7.31 / (H.b2+4.4)))
Refraksi = (0.0167 / tan(-0° 44’ 8,29’’ + 7.31 / (-0° 44’ 8,29’’+4.4)))
Refraksi = 0° 45’ 35,1’’

-0° 1’ 51,4’’ }-------{(H.b)
 0° 58’ 7’’  - }-------{(Paralax)
-0° 59’ 58,4’’
 0° 15’ 50,11’’ - }--{(SDB)
-1° 15’ 48,51’’
 0° 45’ 35,1’’ + }---{(Refraksi)
-0° 30’ 13,41’’
 0° 5’ 33,94’’ + }---{(Dip)
-0° 24’ 39,47’’ }-------{(H.b') Tinggi Hilal Mar'i

Mukuts = H.b' / 15
Mukuts = -0° 24’ 39,47’’ / 15
Mukuts = -0° 1’ 38,63’’

Hilal Tenggelam = Gh.+ Mukust
Hilal Tenggelam = 17° 21’ 25,22’’ + -0° 1’ 38,63’’
Hilal Tenggelam = 17° 19’ 46,59’’

Rumus Mencari Azimut Matahari (AM) dan Azimut Bulan (AB)
AM = Tan-1 (-Sin P / Tan T.m + Cos P x Tan D / Sin T.m)
AM = Tan-1 (-Sin -06° 51’ 50’’ / Tan 88° 11’ 1,33’’ + Cos -06° 51’ 50’’ x Tan 22° 18’ 14’’ / Sin 88° 11’ 1,33’’)
AM = 22° 21’ 20,11’’

AB = Tan-1 (-Sin P / Tan T.b + Cos P x Tan D.b / Sin T.b)
AB = Tan-1 (-Sin -06° 51’ 50’’ / Tan 87° 36’ 35,39’’ + Cos -06° 51’ 50’’ x Tan 19° 21’ 13’’ / Sin 87° 36’ 35,39’’)
AB = 19° 29’ 42,02’’

Rumus Menghitung Jarak Matahari dengan Bulan dan Arah Ru'yatul Hilal
JMB = AB - AM
JMB = 19° 29’ 48,62’’ - 22° 21’ 20,11’’
JMB = -02° 51’ 38,09’’

ARB = 270 + AB
ARB = 270 + 19° 29’ 42,02’’
ARB = 289° 29’ 42,2’’

Kesimpulan :
Bulan baru (Ijtima') 1 Syawal 1440 H / Lebaran 2019 terjadi pada tangal 3 Juni 2019 pada pukul 17:04:46 Wib. Tenggelam Matahari terjadi pada pukul 17:21:25 Wib ketinggian hilal hakiki -0° 1’ 51,4’’  dan ketinggian hilal Mar'i -0° 24’ 39,47’’. Keadaan Hilal (bulan baru) dibawah ufuk. "Awal bulan Syawal 1440 H jatuh pada tanggal 5 Juni 2019".


Niat dan Do'a Menjalankan Amalan Bulan Ramadan

Niat dan Do'a Menjalankan Amalan Bulan Ramadan

Niat.. Banyak sekali yang mendefinisikan kata niat, seperti tekad bulat dalam hati, sesuatu yang disengaja dan lain sebagainya. Kalau menurut saya niat adalah keinginan berasal dari hati untuk melakukan sesuatu perbuatan dan dilakukan dengan ikhlas. Niat ini sangat penting untuk diucapkan saat akan melaksanakan ibadah baik sunah muapun wajib. Pelafalannya sendiri bisa dalam hati atau diucapkan. Terkait dengan pentingnya Niat saat akan melaksanakan ibadah, Nabi pernah berkata "Segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan niatnya". Jadi apabila seseorang melaksanakan ibadah tanpa diawali dengan niat, maka ibadah seseorang tersebut akan sia-sia bahkan menjadi tidak sah.


Niat akan lebih sempurna apabila diakhiri dengan do'a. Do'a merupakan keinginan dengan harapan dikabulkan dari seorang hamba kepada sang pencipta (Allah SWT). Do'a dilakukan untuk menunjukan rasa patuh, taat dan rendah diri kepada Allah SWT.

Dibulan Ramadan ini banyak sekali amalan-amalan yang apabila dikerjakan pahalanya dapat berlimpah. Agar dalam menjalankan amalan bulan Ramadhan tidak sia-sia maka kita harus tahu dan mengucapkan niat dan do'anya. Berikut adalah niat dan do'a dalam menjalankan amalan bulan ramadan.


Melaksanakan Makan Sahur
Dalam menjalankan makan sahur, Nabi Muhammad menganjuran untuk mengakhirkan waktunya mendekati imsak. Jangan sampai lupa, selesai menyantap makan sahur diwajibkan untuk niat puasa Ramadan. Berikut Niat Puasa Ramadan,

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّهِ تَعَالَى

Artinya:
"saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta'ala".

Buka Puasa
Berbeda dengan saat makan sahur, Rasulullah menganjurkan menyegerakan untuk berbuka puasa apabila sudah waktunya. Do'a buka puasa adalah sebagai berikut,

اَللهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ وَبِكَ امَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكََلْتُ, وَرَحْمَتَكَ رَجَوْتُ, وَاِلَيْكَ اَنَبْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَبْتَلَّتِ العُرُقُ, وَثَبَتَ الاجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ.

Artinya:
"Wahai Allah, kepadamu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka. epada engkau aku beriman, kepada Engkau aku berserah diri. Hanya rahmat-Mu yang aku harapkan dan hanya kepada-Mu aku bertobat. Telah hilang rasa haus dan otot-otot telah basah kembali. Dan pahala pasti tetap, Insya Allah".

DomaiNesia

Do'a Akan Membaca Al-Qur'an

اللّهُمَ فْتَحْ عَلَىَّ حِكْمَتَكَ وَانْشُرْ عَلَىَّ رَحْمَتَكَ وَذَكِّرْنِى مَانَسِيْتُ يَاذَالْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

Artinya:
“Ya Allah bukakanlah hikmah-Mu padaku,bentangkanlah rahmat-Mu padaku dan ingatkanlah aku terhadap apa yang aku lupa, wahai dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan”.

Do'a Setelah Membaca Al-Qur'an

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِىْ بِالقُرْانِ. وَاجْعَلْهُ لِى اِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَّرَحْمَةً. اللَّهُمَّ ذَكِّرْنِى مِنْهُ مَانَسِيْتُ وَعَلِّمْنِى مِنْهُ مَاجَهِلتُ. وَارْزُقْنِى تِلاَ وَتَهُ انَاءَ اللَّيْلِ وَاَطْرَافَ النَّهَارٍ. وَاجْعَلْهُ لِى حُجَّةً يَارَبَّ العَالَمِيْنَ.

Artinya:
“Ya Allah, rahmatilah aku dengan Al-Qur’an yang agung, jadikanlan ia bagiku cahaya petunjuk rahmat. Ya Allah, ingatkanlah apa yang telah aku lupa dan ajarkan kepadaku apa yang tidak aku ketahui darinya, anugrahkanlah padaku kesempatan membacanya pada sebagian malam dan siang, jadikanlah ia hujjah yang kuat bagiku, wahai tuhan seru sekalian alam”.

Niat Shalat Tarawih

اُصَلِّى سُنَةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا / مَأْمُوْمًا / أَدَاءً لِلّهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati imāman ma’mūman adā’an lillāhi ta‘ālā.

Artinya:
“Aku menyengaja sembahyang sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah SWT.”


Do'a Setelah Shalat Tarawih

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لَوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَإِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَمِنْ حُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta lawâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa ilal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.

Artinya:
“Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (Lihat Sayyid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta).

Niat Shalat Witir

اُصَلِّى سُنَّةً مِنَ الوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا / مَأْمُوْمًا / أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatan minal Witri rak‘ataini mustaqbilal qiblati adā’an imāman / makmūman / adā’an lillāhi ta‘ālā.

Artinya:
“Aku menyengaja sembahyang sunnah bagian dari shalat Witir dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam / makmum karena Allah SWT.”

Do'a Shalat Witir


أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْاَلُكَ إِيْمَانًا دَاِئمًا وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا وَنَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَا فِيَةَ وَنَسْأَلُكَ تَمَّامَ الْعَافِيَّةِ وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَّةِ وَنَسْأَلُكَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ أَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَا مَنَا وَقِيَا مَنَا وَتَخَشُعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا أَللهُ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Artinya:
"Ya Allah, kami mohon pada-Mu, iman yang langgeng, hati yang khusyu', ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang benar,amal yang shalih, agama yang lurus, kebaikan yang banyak.kami mohon kepada-Muampunan dan kesehatan, kesehatan yang sempurna, kami mohon kepada-Mu bersyukur atas karunia kesehatan, kami mohon kepada-Mu kecukupan terhadap sesaama manusia. Ya Allah, tuhan kami terimalah dari kami: shalat, puasa, ibadah, kekhusyu'an, rendah diri dan ibadaha kami, dan sempurnakanlah segala kekurangan kami. Ya allah, Tuhan yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih. Dan semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada makhluk-Nya yang terbaik, Nabi Muhammad s.a.w, demikian pula keluarga dan para sahabatnya secara keseluruhan. Serta segala puji milik Allah Tuhan semestra alam.

Niat I'tikaf di Masjid
نَوَيْتُ الاِعْتِكَافَ فِي هذَا المَسْجِدِ لِلّهِ تَعَالى

Nawaitul i’tikāfa fī hādzal masjidi lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Saya berniat i’tikaf di masjid ini karena Allah SWT.”


Ardetamedia

Niat Zakat Fitrah
a. Untuk Diri Sendiri


ﻧَﻮَﻳْﺖُ أَﻥْ أُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْسيْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Artinya:
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku sendiri, fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

b. Untuk Istri


ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻲْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Artinya:
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk istriku, fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

c. Untuk Anak Laki-laki dan Perempuan

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻭَﻟَﺪِﻱْ ... ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Artinya:
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak laki-lakiku…. (sebutkan nama), fardu karena Allah Ta‘âlâ.”
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺑِﻨْﺘِﻲْ ... ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Artinya:
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak perempuanku…. (sebutkan nama), fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

d. Untuk Diri Sendiri dan Keluarga

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَنِّيْ ﻭَﻋَﻦْ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﻣَﺎ ﻳَﻠْﺰَﻣُنِيْ ﻧَﻔَﻘَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺷَﺮْﻋًﺎ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Artinya:
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku dan seluruh orang yang nafkahnya menjadi tanggunganku, fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

e. Untuk Orang yang diwakilkan

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ (..…) ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Artinya:
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk… (sebutkan nama spesifik), fardu karena Allah Ta‘âlâ.”



Lebaran 2019 dalam Perhitungan Metode Almanac Nautica

Lebaran 2019 dalam Perhitungan Metode Almanac Nautica
Youssef Ismail ~ Organic Light Photography
My Dock - Almanac Nautica merupakan sebuah data numberik yang menggambarkan posisi dan peredaran benda langit diatas permukaan bumi. Almanac Nautica berdasarkan fungsinya dibuat untuk menentukan arah dan posisi kapal saat berada di lautan luas (berlayar). Data dalam Almanac Nautica sangatlah lengkap menentukan posisi benda langit di atas permukaan bumi dalam deklinasi dan sudut jam Greenwich Mean Time setiap jam dalam satu tahun, dimana matahari, bulan, planet dan titik pertama Aries beredar diatas bumi.  Almanac nautica pertama kali  diterbitkan di inggris pada tahun 1767 oleh HM Nautical Almanac Office dan di Amerika pada tahun 1852 oleh US Naval Observatory.


Dalam keguanaanya sebagai petunjuk arah dan posisi kapal saat berlayar, di Indonesia Almanac Nautica juga digunakan untuk menentukan posisi matahari dan bulan saat memasuki bulan baru (hisab awal bulan). Berhubung saat ini adalah bulan Ramadhan, saya akan mencoba menghitung 1 Syawal 1440 atau lebarang 2019 menggunakan data dari Almanac Nautica.


Pada perhitungan kali ini saya mengambil tempat di Tanjung Kodok sebagai tempat untuk Rukyatul Hilal. Data yang dipergunakan untuk menghitung awal 1 Syawal / Lebaran 2019 adalah sebagai berikut,

Awal Bulan : Syawal 1440 H
Markaz Penanggalan : Tanjung Kodok
Lintang Tempat (P) : -06°  51’  50’’
Bujur Tempat (L) : 112°  21’  28’’
Tinggi Tempat : 10 m.
Metode : Almanac Nautica

PERHITUNGAN
1. Ijtima’ Akhir Ramadhan 1440 H. 


Akhir Ramadan tahun 1440 H atau akhir bulan puasa tahun 2019 diperkirakan jatuh pada Tanggal 03 Juni 2019 pukul :  10.02 GMT, selisih waktu 07.00m.  10.02 + 07.00 =  17.02 WIB  (Apabila lebih dari 24 Jam maka dikurangi 24 jam).

Ijtima’ Akhir Bulan Ramadhan 1440 H, Jatuh pada tanggal 03 Juni 2019 pukul : 17.02 WIB.

2. Tenggelam Matahari, Tanggal 03 Juni 2019 
Data: Lintang (P) : -06°  51’  50’’
Bujur (L) : 112°  21’  28’’
Eqn.Of  Time (E) : 00j  01m  52d
Declinasi M (dm) : 22°  18’  2’’

Tinggi Matahari (H) :  0 – SDM – Ref – (1.76 V m)/60
0 – 00° 15’ 8’’ – 00° 34’ 30’’ – 00° 05’ 33.94’’ = -00°  55’  11.94’’ (h)

Rumus (Tm) : cos-1 (-tan p. tan d + sin h / cos p / cos d )
cos-1 (-tan -06°  51’  50’’ x tan 22°  18’  2’’ + sin -00°  55’  11.94’’ / cos -06°  51’  50” / cos  22°  18’  2’’ ) = 88°  10’  20.9’’

Rumus (Gh) : 12 – E + (( TZ x 15 ) – L + Tm ) / 15
12 – 0° 1’ 52’’ + (( 10 x 15 ) – 112°  21’  28’’  + 88°  10’  20.9’’ ) / 15
Gh = 17° 21’ 23,53’’

3. Sudut Waktu Bulan (tb)
Rumus ; Interpolasi A – ( A – B) X C / 1
GHA                            WAKTU
330°  28’ 2.00’’}--------{10.00 GMT
345°  28’ 1.00’’}--------{11.00 GMT
000°  21’ 23.53’’
335°  48’  54.5’’
112°  21’  28’’ + }-------{Bujur Tempat (L)
448°  10’  22.5’’
360°                      - }----{Satu Lingkaran)
  88°  10’  22.59’’}-------{Sudut Waktu Bln (Tb) 

Declinasi (Db)          WAKTU
19° 18’ 6.00’’             10.00 GMT
19° 25’ 4.00’’             11.00 GMT
00° 21’ 23.53’’
19° 20’ 35.3’’

HP                              WAKTU
00°  58’  1’’                 10.00 GMT
00°  58’  1’’                 11.00 GMT
00°  21’  23.53’’
00°  58’  1’’


4. Tinggi Hilal Hakiki dan Mar’i 

Data: Lintang (P)  -06°  51’  50’’
Declinasi Bulan (Db) :  19° 20’ 34.54’’
Sudut Waktu B (Tb) :  88°   9’   19.1’’

Rumus:  sin-1 (sin P . sin D + cos P . cos D . cos T )
sin-1 (sin -06° 51’ 50" x sin 19° 20’ 35.3’’ + cos -06° 51’ 50’’ x cos 19° 20’ 35.3’’  x cos 88° 10’ 22.59") =  0° 32’ 24.89”
-0°  33’  24.43”      Tinggi Hilal Hakiki (h)
 0°  58’  0.84”  -      Paralaxs (HP X cos h)
-1°  31’  25.27”
 0°  15’  8”        - Semi Diamter Mthri (Data Nautika)
-1°  46’  33.27”
 0°  56’  50.78”  + Pembiasan Cahaya (Daftar Refraksi)
-0°  49’  42.49”
 0°  05’  33.94”  +   Kerendahan Ufuk (D’)
-0°  44’  8.55”         Tinggi Hilal Mar’i (h’)

5. Muktsul Hilal dan Tenggelam Bulan
Muktsul Hilal :  Tinggi Hilal mar’i (h’) / 15
-0°  44’  8.55” / 15 =
-0°  2’  56.57”       Muktsul Hilal
17° 21’ 23,53’’  +   Tenggelam Matahari
17° 18’ 26,96’’      Tenggelam Bulan

6. Azimut Matahari dan Bulan (untuk mengetahui kedudukan dan Posisi Hilal)
Matahari : dm 22°  18’  2’’  tm : 88°  10’  20.9’’
Bulan :  db 19° 20’ 35.3’’  tb : 88°  10’  22.59’’

Rumus : tan-1 (1/(-sin p / tan t + cos p . tan d / sin t ))
67°  38’  47.22’’      Azimut Matahari (Az M)
70°  34’  54.22’’ -   Azimut Bulan (Az B)
  2°  56’  7’’        Selisih Az M/Az B

Kedudukan Hilal berada di selatan Matahari sejauh  2°  55’  53.95’’ dengan posisi mering keselatan

7. Arah Rukyah
OB = 300cm / tan Az B : 300 / tan  840  13’  59.77” = 105 cm
FG  = 300cm / Ctg h’ : 300/ ( 1/tan 050  05’  48.83” = 2 cm

8. Kesimpulan
Ijtima’ Akhir Ramadhan 1440 H : Tgl. 3 Juni 2019
Pukul: 17j  02m  WIB
Tenggelam Matahari (Awal Rukyat) : 17j   21m  23.53d
Tinggi Hilal Mar’i (Hasil Koreksi) -0°  44’  8.55”
Tenggelam Bulan (Akhir Rukyat) 17° 18’ 26,96’’
Kedudukan Hilal:  2°  56’  7’’  (dibawah ufuk)
Tanggal 1 Syawal 1440 H :Tanggal 5 Juni 2019



ZAKAT : Pengertian Macam dan Cara Menghitungnya

ZAKAT : Pengertian Macam dan Cara Menghitungnya

My Dock - Zakat merupakan rukun islam yang ke 4 dan wajib dieluarkan oleh umat islam yang mampu. Ditinjau dari segi bahasa, Zakat berasal dari kata zaka berarti mensucikan, baik, berkah dan tumbuh. Sedang menurut istilah, Zakat berarti Sejumlah harta tertentu yang diwajibkan oleh Allah SWT untuk diserahan kepada orang-orang yang berhak (mustahik zakat). 

Secara terperinci, orang yang berhak mengeluaran zakat adalah setiap umat muslim yang sudah baligh, sehat jasmani dan rohani serta mempunyai harta yang sudah mencapai nisab dan telah sampai waktunya yakni 1 (satu) tahun Qamariyah. Nisab merupakkan jumlah minimal dari harta seseorang yang telah wajib untuk dikeluarkan zakatnya.

Zakat Mal (Harta Benda)

Zakat Harta

Allah SWT memerintahkan untuk mengeluarkan zakat sejak permulaan agama Islam tanpa ditentukan kadarnya dan tanpa dijelaskan harta-harta yang wajib untuk dikeluarkan zakatnya. Baru pada sekitar tahun 623 Masehi, syara' menentukan harta-harta yang wajib dizakati beserta kadarnya. Harta yang wajib dizakati tersebut adalah,

Zakat Harta Kekayaan
Zakat dari semua jenis harta yang sengaja disimpan, baik untuk modal usaha maupun tabungan. Yang termasuk kedalam zakat ini adalah emas, perak intan, berlian, zamrud, platina, uang simpanan, deposito, uang tunai, cek, saham dan lain sebagainya. Besarnya nilai yang harus dikeluarkan adalah 2,5% setiap tahun dari harta senilai 94 gram emas.

Trus bagaimana jika mempunyai harta emas yang digunakan untuk perhiasan, apakah setiap tahun juga harus dizakati? Jawabnya adalah tidak jika anda mempunyai harta berupa perhiasan, emas contohnya dan emas tersebut tidak digunaan untuk modal usaha maka tetap dizakati tetapi hanya sekali selama dimiliki, yaitu sebesar 2,5% dari harta senilai 94 gram.


Contoh:
Pardi seorang pegawai negeri gaji bulanannya sebesar Rp 1.000.000, penghasilan lain yang berhubungan dengan pekerjaanya sebagai pegawai negeri adalah Rp 500.000. Untuk kebutuhan sehari-hari yang bersifat pokok, Pardi mengeluarkan uang sebesar Rp 800.000. Sisa gaji Pardi setiap bulannya adalah Rp 700.000,-. Diakhir tahun uang yang dimiliki Pardi adalah 11 x Rp 700.000 + (Rp 1.000.000 + Rp 500.000) =  Rp 9.200.000,-

Jumlah tersebut belum mencapai nisab, karena 1 gram emas murni saat ini senilai Rp 500.000. 94 x Rp 500.000 = Rp 47.000.000. Pardi tidak diwajibkan membayar zakat atas penghasilannya karena total seluruh gaji yang diterima Pardi dalam satu tahun setelah dikurangi biaya kebutuhan pokok tidak mencukupi nisab emas seberat 94 gram.

Zakat Perniagaan
Zakat perniagaan merupakan zakat dari semua jenis usaha seperti, perdagangan, industri, pariwisata, real estate, jasa (notaris, akuntan, biro perjalanan dll.), pendapatan (gaji, insentif, honorarium dll) dan usaha usaha pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. Nilai zakat yang harus dieluarkan adalah 2,5% tiap tahun dari harta senilai 94 gram emas.

Contoh:
Sebuah perusahaan ekspor/impor pada tanggal 1 Syawal 1440 H memiliki modal Rp 700.000.000,- kemudian pada tanggal 1 Syawal pada tahun berikutnya perusahaan tersebut mendapat keuntungan yang tadinya Rp 700.000.000,- menjadi Rp 1.000.000.000,-. Maka zakat yang harus dikeluarkan perusahaan tersebut pada 1 Syawal 1441 adalah Rp 700.000.000,-. Modal perusahaan tersebut sudah cukup haul dan nisabnya.

Sebagai gambaran, harga 94 gram emas murni pada tanggal 1 Syawal 1441 H adalah Rp 500.000,-. 94 x Rp 500.000 = Rp 47.000.000. Zakat yang harus dikeluarkan perusahaan tersebut adalah 2,5% x Rp 700.000.000 = Rp 17.500.000,-

Apabila ditahun berikutnya perusahaan tersebut mendapatkan keuntungan dan modalnya bertambah menjadi Rp 1.000.000.000, maka zakat yang harus dikeluarkan dihitung dari Rp 1.000.000.000, demikian seterusnya.

Zakat Binatang Ternak


Zakat Binatang Ternak

Jika anda memelihara binatang ternak seperti, unta, sapi, kerbau, kuda, kambing dan domba maka wajib bagi anda mengeluarkan zakat apabila sudah mencapai nisab. Nisab zakat binatang ternak menurut syariat adalah sebagai beriut,


























Zakat Tanaman


Zakat Tanaman

Zakat dapi hasil pertanian besarnya zakat adalah 5% jika dalam pengelolaannya memerlukan biaya pengairan (pada musim kemarau) dan 10% jika dalam pengelolaannya tidak memerlukan biaya pengairan (pada musim penghujan). Untuk nisab zakat dari hasil pertanian senilai 1350 Kg gabah atau 750 Kg beras dan dikeluarkan setiap kali panen.

Contoh:
Pak Hadi seorang petani kedelai pada bulan Agustus mengalami panen dan menghasilkan 1500 Kg kedelai. Pada saat menggelola tanaman kedelai terbebut, Pak Hadi memerlukan pengairan menggunakan air dari sumur galian (memerlukan biaya untuk mengelola tanaman kedelai). Zakat yang harus dikeluarkan pak hadi adalah 5% dari perolehan kedelai saat panen. 5 / 100 x 1500 = 75 Kg Kedelai.


Zakat Temuan
Zakat Temuan merupakan zakat dari harta yang berasal dari barang temuan atau bisa juga dikatakan zakat dari harta yang diperoleh dengan tidak sengaja. Besarnya zakat yang harus dikeluaran adalah 20% dari nilai harta yang ditemukan tersebut dan dikeluarkan zakatnya pada saat barang tersebut ditemukan.

Contoh:
Junet seorang pemulung, pada saat memulung menemukan sebuah kotak peti dibawah sebuah pohon besar dengan kondisi peti tersebut hanya terlihat bagian atas dan terlihat seperti ada lobang kunci. Tempat tersebut jarang sekali dilalui oleh orang kerana berada di pinggiran hutan. Setelah Junet mengambil dan membuka peti tersebut, Junet sangat terkejut hingga mau pingsan. Ternyata didalamnya tersimpan banyak sekali uang kuno dan perhiasan mas-masan yang jumlahnya sangat banyak sekali. Jika di uangkan barang tersebut nilainya hampir mencapai 1 Triliyun. Dalam kondisi seperti ini Junet diharuskan membayar zakat sebesar 20% dari nilai barang temuannya tersebut.

Zakat Fitrah (Nafs)

Zakat fitrah

Zakat fitrah atau bisa juga dikatankan sebagai zakat jiwa, termasuk zakat harta. Merupaan kegiatan mengeluarkan sebagian dari makanan pokok (di Indonesia biasanya sembako/beras) menurut ukuran yang ditentukan oleh agama dan diberikan berkenaan dengan telah selesai mengerjakan puasa yang difardlukan (puasa ramadlan). Berkaitan dengan berapakah ukuran makanan pokok yang harus dikeluarkan oleh umat islam? Abi Sa'id al-Khudri menjelaskan "Kami mengeluarkan zakat fitrah dizaman Rasulullah pada hari lebaran fitri satu sa' (2,5 kg atau 3,5 liter) dari makanan". (HR. Buhari). Waktu membagikan zakat fitrah setelah shalat subuh dan sebelum mengerjakan shalat Idul Fitri, selain waktu itu disebut dengan shadaqah.

Layanan Pembuatan Jadwal Waktu Shalat

Layanan Pembuatan Jadwal Waktu Shalat

Waktu shalat penting diketahui bagi umat islam yang akan mengerjakan ibadah shalat fardu. Apabila belum tiba waktunya mengerjakan shalat kemuadian seseorang mengerjaan shalat, maka shalat seseorang tersebut menjadi tidak sah. Pada zaman Nabi (sebelum ada perkembangan teknologi yang canggih seperti saat ini), metode dalam menentukan awal dan akhir waktu ibadah shalat melalui pergerakan matahari. Kemudian ini dijadikan dasar penentuan awal waktu shalat pada masa sekarang. Waktu shalat daerah satu dengan yang lain tidaklah sama. Hal ini dipengaruhi oleh Lintang, Bujur dan ketinggian suatu tempat. 


Karena pentingnya mengetahui waktu shalat, pada menu layanan publik ini saya akan memberikan layanan pembuatan jadwal waktu shalat dalam satu bulan atau satu tahun, tergantung permintaan. Dalam penentuan waktu shalat data yang saya gunakan adalah: Lintang, Bujur dan Ketinggian Tempat. Sehingga Jadwal Waktu Shalat yang saya berikan Insya Allah Sudah akurat.

Bagi anda yang berkenan dan ingin mendapatkan Jadwal Waktu Shalat di tempat atau wilayah anda, bisa mengirimkan data tempat wilayah anda dikolom komentar dengan format:

#DATA TEMPAT PENENTUAN WAKTU SHALAT
Nama Desa (opsional):
Nama Kecamatan (opsional):
Nama Kota/Kabupaten:
Nama Propinsi:
Nama Pemohon:

~*{Layanan Yang Kami Berikan Tidak Dipungut Biaya (GERATIS)}*~


*Berikut Contoh Jadwal Waktu Shalat Tahun 2019*
Lokasi: Ponorogo
Kecamatan: Kota
Lintang: -7°52'
Bujur: 111°27'
Ketinggian: 102m

*Kirim format pengajuan pada kkolom komentar*