Masa Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Masa Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Gambar hanya ilustrasi
My-Dock / Sejarah - Ayah Ki Hajar Dewantara dan sang istri sangat aktif dan menyukai pelajaran kesastraan dan musik. Pangeran Sasraningrat merupakan seorang seorang sastrawan yang kuat, keistimewaan beliau adalah dapat mengungkapkan keindahan dalam bentuk syair. Sedangkan Pangeran Surjaningrat sangat menyukai musik dan ilmu keagamaan yang bersifat filosofis dan islami. Kakak beradik keturunan Sripaku Alam III ini bersama-sama telah dapat mengubah "Sastra Gending", selain itu juga sudah banyak mewariskan karya tulis berupa buku atau serat. Karya Pangeran Surjaningrat berbentuk syair dan bersifat filosofis-religius, sesuai dengan pandangan hidupnya adalah Islam Jawa. Selain itu juga syair lepas "Panembrama" untuk perayaan Taman Siswa.
Pangeran Surjaningrat (Ayah Ki Hajar), hidup dilingkungan keluarga yang tekun berolah sastra. Selain itu suasana religius dengan adanya langgar (surau) dan masjid didepan rumah menjadi salah satu faktor kuatnya keyakinan agama. Dari lingkingan yang agamis tersebut, Ki Hajar Dewantara menerima ajaran agama Islam. Ayah Ki Hajar berpedoman pada ajaran "Syariat tanpa hakikat adalah kosong dan hakikat tanpa syariat adalah batal". Selain pelajaran agama Ki Hajar juga mendapat pelajaran berupa ajaran lama yang dipengaruhi oleh filsafat Hindu yang tersirat dalam ceritra wayang. Pelajaran seni sastra, gending dan seni suara diberikan secara mendalam.

Keluarga Paku Alam termasuk keluarga yang maju. Seluruh putra-putra dalam lingkungan itu dikirim ke sekolah Belanda. Ki Hajar Dewantara bersekolah di Sekolah Dasar Belanda III, berbeda dengan saudara-saudaranya yang bersekolah di Sekolah Dasar Belanda I. Sekolah Dasar Belanda III terletak di Kampung Bintaran Yogyakarta, tidak jauh dari tempat tinggal Ki Hajar. Seperti anak sekkolah dasar pada umumnya Ki Hajar juga pernah berkelahi dengan temannya saat pulang sekolah.

Seteleh selesai sekolah dasar (1904), Ki Hajar melanjutkan sekolahnya di Sekolah Guru di Yogyakarta. Tidak lama setelah masuk di Sekolag Guru Ki Hajar mendapat tawaran bea siswa masuk Sekolah Dokter oleh dokter Wahidin Sudiro Husodo. Selama lima tahun (1905 - 1910) Ki Hajar Dewantara menjadi murid Sekolah Dokter. Ki Hajar tidak dapat merampungkan Sekolah Dokter karena tidak naik kelas dan bea siswanya dicabut. Ki Hajar tidak naik kelas karena sakit selama empat bulan. Terpakssa Ki Hajar meninggalkan sekolah tersebut karena tidak mampu untuk membiayai. Pada saat bersekolah di sekolah dokter Ki Hajar mendapat surat keterangan istimewa dari direktur sekolahnya berkaitan dengan kepandaiannya dalam berbahasa Belanda.

Walaupun tidak tamat saat bersekolah Dokter akan tetapi kihajar sudah mendapatkan banyak pengalaman baru disana. Sebagai mahasiswa Ki Hajar tinggal diasrama bersama teman-temannya dari berbagai daerah di Indonesia dan berbeda-beda agamanya. Bagi Ki Hajar tempat tinggalnya yang baru itu berbeda sekali dengan tempat asalnya. Suasana feodal yang dialami di rumah orang tuanya tidak terdapat di kota Jakarta.

Pada tahun 1908 saat masih menjadi mahasiswa kedokteran Ki Hajar berkenalan dengan Douwes Dekker dan aktif dalam organisasi Budi Utomo dan mendapat tugas sebagai propaganda. Setelah keluar dari sekolah Dokter, Ki Hajar bekerja pada laboratorium Pabrik Gula Kalibogor Banyumas dan pada tahun 1911 Ki Hajar pindah ke Yogyakarta bekerja sebagai pembantu apoteker di Rathkamp. Selain bekerja sebagai pembantu apoteker Ki Hajar mulai terjun dalam bidang jurnalistik, membantu surat kabar Sedyo Utomo di Yogyakarta, Midden Java di Bandung dan De Expres di Badung.

Karena sejak kecil Ki Hajar Dewanara telah dididik dalam suasana religius dan dilatih untuk mendalami soal-soal sastra dan kesenian, maka ketika sudah dewasa ia sangat menyukai dan mahir tentang bidang-bidang tersebut. Pada saat ia tinggal di negeri Belanda sebagai seorang buangan, Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai ahli sastra jawa. Beliau diundang oleh panitia kongres Pengajaran Kolonial I di Den Haag untuk mengikuti kangres (1916) dan diminta untuk menyampaikan prasaran. Ki Hajar selalu berpendapat bahwa pendidikan seni adalah sangat penting, karena pendidikan kesenian (Pendidikan Estetis) dimaksudkan untuk menghaluskan perasaan terhadap segala benda lahir yang bersifat indah. Pendidikan estetis ini melengkapi pendidikan etis (moral) yang bertujuan menghaluskan hidup kebatinan anak. Dengan pendidikan etis ini anak dapat mengembangkan berbagai macam jenis perasaannya : religius, sosial, individual dan lain sebagainya.

Update : Perkembangan Virus Corona

Perkembangan Virus Corona

My-Dock / News - Perkembangan penyebaran Virus Corona saat ini sangatlah mengejutkan. Berdasarkan pantauan peta Gis & Data (06/02/2020) Virus Corona di Kota Wuhan sudah menginfeksi lebih dari 28.344 orang dan 565 orang meninggal akibat keganasan virus tersebut. Akan tetapi ada juga pasien yang sembuh, yakni sekitar 1.339 orang. China menjadi negara pertama paling banyak terjangkit Virus Corona yakni 28.085 pasien disusul jepang sebanyak 45 kasus dan singapura 28 kasus.


Semakin banyaknya pasien Virus Corona yang sebuh merupakan hasil dari kerja keras pemeritah China dalam menagani permasalahan tersebut. Pemerintah China membangun dua buah RS benama RS Houshenshan dan RS Leishenshan khusus untuk menangani Virus Corona. Pembangunan kedua RS tersebut sangatlah singkat sekitar 20 hari saja dan dapat menampung sekitar 2.600 pasien.- People's Daily

Pemerintah China juga dibantu oleh negara sahabat seperti Korea Selatan, Jepang, Thailand, Malaysia, Indonesia, Turki, Iran, Uni Emirat Arab, Aljazair, Mesir, Australia, Selandia Baru, Trinidad and Tobago, Kazakhstan, Pakistan, Jerman, Inggris, Prancis, Hungaria, Belarusia dan UNICEF. Pemerintah China mengapresiasi dan menyampaikan terimakasih kepada Negara sahabat termasuk Indonesia yang ikut membantu menanggulangi Virus Corona.

Berdasarkan kabar dari kementerian kesehatan, di Indonesia belum ada yang terjangkit Virus Corona. Akan tetapi masyarakat diminta untuk selalu waspada dan selalu mejaga kesehatan dan kebersihan lingkungan. Dalam rangka menanggulangi Virus Corona, Pemerintah indonesia membentuk pusat informasi penanganan Virus Corona agar masyarakat mendapatkan informasi akurat terkait Virus Corona. Pembentukan pusat informasi tersebut berdasarkan keputusan Kepala Staf Kepresidenan, Menko Polhukam, Menteri Pariwisata, Menteri Perhubungan, Menteri Komunikasi dan Informastika, Menteri Sosial dan juga Kepala BNPB Doni Monardo. - kompas.com

Salah satu media penularan Virus Corona adalah melalui liur atau partikel kecil yang keluar saat bersin. Virus Corona termasuk jenis virus yang tidak dapat hidup tanpa sel, virus ini hanya bisa bertahan 24 jam di media benda mati. 

"Apabila ada seseorang yang terjangkit Virus Corona kemudian bersin dan liurnya menempel di sebuah benda kemudian ada seseorang yang menyentuh benda itu, seseorang yang menyentuh benda terkena liur tersebut kemungkinan besar akan tertular virus". - Amin Soebandrio, Kepala Lembaga Biologi Molekuler. Untuk mengatasi hal tersebut kita harus sering mencuci tangan untuk mengurangi potensi tertular Virus Corona. - detik.com

Cara Merawat Jenazah Seorang Muslim Terjangkit Virus Corona

Cara Merawat Jenazah Seorang Muslim Terjangkit Virus Corona

Dinegara China tepatnya di kota Wuhan provinsi Hubei saat ini sedang terjangkit wabah virus corona. Berdasarkan berita yang beredar di media masa lebih dari 300 orang terjangkit virus dan 6 orang meninggal dunia akibat virus corona. Virus corona bisa menular melalui udara ataupun sentuhan fisik dengan orang yang terjangkit virus tersebut.

Baca Juga : Kegaduhan Akibat Virus Corona

Berdasarkan cuplikan berita diatas, bagaimana kalau beberapa orang yang meninggal akibat virus tersebut beragama islam. Apakah mayat orang yang tejangkit virus corona tersebut harus dimandikan dan dirawat sebagaimana aturan syariat terhadap mayit sehat. Selain itu bagaimana cara memandikan dan menguburkannya?

وَمَنْ تَعَذَّرَ غَسْلُهُ - لِفَقْدِ الْمَاءِ أَوْلِغَيْرِهِ كَأَنْ احْتَرَقَ أَوْلُدِغَ وَلَوْغُسِلَ لَتَهَرَّى أَوْخِيْفَ عَلَى الْغَاسِلِ وَلَمْ يُمَكِّنْهُ التَّحَفُّظُ (يُمِّمَ) وُجُوْبًا قِيَاسًا عَلَى غَسْلِ الْجَنَابَةِ وَلاَيُغْسَلُ مُحَافَظَةً عَنْ جُثَّتِهِ لِتُدْفَنَ بِحَالِهَا، وَلَوْوُجِدَ الْمَاءُ فِيْمَا إِذَايُمِّمَ لشفَقْدِهِ قَبْلَ دَفْنِهِ وَجَبَ غَسْلُهُ

(Dan jenazah yang sulit dimandikan) sebab tidak ada air atau selainnya, seperti terbakar atau terkena racun binatang dan bila dimandikan akan rontok, atau dikhawatirkan orang yang memandikan tertular - semisal racun dari tubuh jenazah dan tidak mungkin menjaga diri darinya maka jenazah itu ditayamumi secara wajib, karena diqiyaskan pada mandi Jinabah. dan tidak boleh dimandikan karena menjaga jasadnya agar dimandikan sesuai kondisinya. Dan bila sebelum penguburan ditemukan air dalam kasus jenazah ditayamumi karena tidak adanya air, maka jenazah wajib dimandikan. (Mughni al-Muhtaj ila Ma'rifah Alfazh al-minhaj).

Dari hadis diatas dapat ditarik kesimpuan bahwa jenazah atau mayat orang yang terjangkit virus corona tersebut tetap wajib untuk dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikubur sesuai dengan syariat islam. Untuk cara memandikannya memang harus menggunakan peralatan khusus supaya orang yang memandikan tidak tertular. Bisa juga meminta pertolongan rumah sakit untuk memandikan mayat yang terjangkit virus corona karena kurangnya peralatan jika dimandikan di rumah. sedangkan untuk pemakaman tidaklah harus dimakamkan di tempat terpisah asalkan dianggap telah bisa mencegah akibat penularannya. 

Cara merawat jenazah seorang muslim terjangkit virus tersebut tidak hanya untuk seseorang yang terjangkit virus corona saja, akan tetapi juga untuk mayat orang yang terjangkit virus atau penyakit lain yang menular.

Kegaduhan Akibat Virus Corona

Kegaduhan Akibat Virus Corona

Beberapa hari yang lalu heboh diberitakan adanya seseorang yang terjangkit virus corona di Indonesia, tepatnya seorang pegawai Huawei yang berkantor di Gedung BRI Jakarta. Setelah ditelusuri ternyata berita tersebut tidak benar. Ketidak benaran berita tersebut berdasarkan keterangan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakkit Kementrian Kesehatan Anung Sugihantono pada saat diwawancarai Tempo - 24/01/2020.

Anggota tubuh yang diserang oleh virus corona adalah sistem pernafasan dan bisa menyebabkan kematian apabila tidak segera mendapatkan pertolongan. Gejala yang timbul akibat terjangkit virus corona ini biasanya demam batuk dan sesak nafas (Sulianti Saroso - Direktur Medik dan Perawatan RSPI 24/01/20). Untuk menghindari penularan virus corona diharapkan untuk tidak bersentuhan dengan orang yang terjangkit dan selalu menggunakan masker.
Virus corona pertama kali ditemukan di wilayah Wuhan Provinsi Hubei China. Virus corona santer diberitakan berasal dari satwa liar kelelawar yang diperdagangkan secara ilegal di Wuhan China. Kebiasaan masyarakat China yang mengkonsumsi makanan ekstrim menjadi salah satu faktor munculnya virus corona. Beberapa makanan ekstrim yang sering dikonsumsi di sebagain wilayah China diantaranya adalah Testis Anjing, Kalajengking Goreng, Hotpot daging Anjing, Hasma, Huo Jia Lu, cakar Buaya, Laba-laba Goreng, guilinggao, sup ular, Baby Mice Wine, Burger Cindil,Plasenta Janin Manusia dan lain sebagainya (blogunik.com - merdeka.com). Sebelum virus corona, China juga menjadi tempat pertama munculnya virus SARS dan Flu Burung.

Virus corona tergolong jenis penyakit Zoonosis karena asal-usulnya berasal dari hewan dan menular ke tubuh manusia. Di negara China yang menjadi awal munculnya virus corona terdapat lebih dari 300 orang trindikasi terjangkit virus dan 6 orang meninggal dunia akibat virus corona. Tidak hanya di China, virus corona juga sudah menyebar kenegara tetangga seperti Jepang, Korea, Thailand dan Amerika Serikat. 

Karena penyebaran virus sangat cepat dan dampaknya bisa mengakibatkan kematian, pemerintah China menutup sementara akses masuk atau keluar kota Wuhan. Terdapat lebih dari 11 juta orang yang terisolasi di Wuhan, dampaknya semua orang berburu makanan untuk persediaan makanan dalam beberapa hari mendatang karena belum adanya kejelasan batas waktu penutupan kota Wuhan (liputan6.com). Penutupan kota Wuhan berlangsung hingga keadaan menjadi kondusif.

Saat ini vaksin atau obat untuk virus corona belum diketemukan, hal ini dikarenakan virus corona tergolong virus baru dan belum ada yang melakukan riset untuk pembuatan vaksin. Akan tetapi berdasarkan keterangan Wales Raina Maclntyre - kepala program penelitian biosekuriti di Kirby Institute menyatakan bahwa virus ini dapat dikendalikan tanpa obat-obatan atau vaksin. Pengendalian terhadap virus corona dapat dilakukan dengan peningkatan pengawasan, isolasi kasus, pelacakan kontak dan langkah-langkah pengendalian infeksi (kompas.com)

Agar tidak menyebabkan kegaduhan dimasyarakat, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menghimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan waspada dalam menyikapi penyebaran virus corona. "Kita sudah siaga satu ini, enggak ada tidurnya. Jadi tenang, saya bekerja membantu masyarakat untuk tidak usah khawatir, Saya akan cek semua termasuk pintu-pintu masuk negara" (Terawan - Kemenkes 24/01/20).

Asal Usul Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol yang diangkat oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional berasal dari keluarga sederhana. Tuanku Imam Bonjol berasal dari daerah Minangkabau Sumatra Barat. Asal usul Tuanku Imam Bonjol tidak ada yang bisa menjelaskan secara pasti. Sumber yang ada berasal dari Dati Tambo, keluarga dari Tuanku Imam Bonjol dan juga keterangan dari penulis Belanda pada saat Indonesia masih dijajah Belanda.

Berikut merupakan Asal usul Tuanku Imam Bonjol yang penulis dapatkan dari Buku "Tuanku Imam Bonjol", ditulis oleh Drs. Mardjani Martamin tahun 1985. Dahulu kala (tidak disebutkan waktu yang tepat) datanglah dua orang bersaudara yakni Syekh Usman dan Hamatun dari negeri Maroko ke Minangkabau. Setelah melalui perjalanan jauh mereka menetap pada suatu negeri yang bernama Alai, Ganggo Mudik, salah satu tempat yang sekarang terletak di kecamatan Bonjol, kabupaten Pasaman. Pada waktu itu yang menjadi pemimpin kampung Alai, Ganggo Mudik adalah Datuk Sati.
Syekh Usman dan Hamatun oleh Datuk Ali diberi tempat tinggal di sebuah kampung bernama "Koto" yang sekarang bernama Padang Bulus, terletak sebelah selatan kampung Tanjung Bunga. Setelah menetap lama disana, Syekh Usman diangkat sebagai kepala kaumnya sebagai seorang penghulu atau kepala suku dengan gelar Datuk Sakih. Selain itu Syekh Usman juga disebut dengan Syekh Bagindo Suman karena mengajarkan ilmu agama Islam secara mendalam kepada masyarakat. Walaupun sudah puluhan tahun gelar beliau masih dipakai sampai sekarang di kampung Ganggo Hilir, kecamatan Bonjol sebagai gelar untuk Kadhi disana.

Saudara Syekh Usman yakni Hamatun menikah dengan seorang guru agama bernama Khatib Rajamudin atau sering disebut dengan Buya Nuddin yang bertempat tinggal di kampung Tanjung Bunga, Alahan Panjang. Khatib Rajamudin berasal dari nagari Sungai Rimbang, suatu daerah di Kecamatan Suliki, Kabupaten Lima Puluh. Dari buah pernikahannya dengan Khatib Rajamudin, Hamatun dikaruniai empat anak bernama Muhammad Syawab, Sinik, Santun dan Halimatun. Muhammad Syawab atau sekarang terkenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol, lahir pada tahun 1772

Ayahanda Tuanku Imam Bonjol, Khatib Rajamuddin adalah seorang guru agama yang sangat taat menjalankan ibadah agama Islam. Hal ini sangat berpengaruh kepada Tuanku Imam Bonjol karena didikan dari ayahanda kemudiaan hari saat menjadi pemimpin, beliau mempunyai pandangan yang sangat teguh terhadap hukum Islam. Beliau tidak mudah terpengaruh oleh suasana lingkungan masyarakat yang bertentangan dengan hukum Islam. Hal inilah yang menyebabkan bertambah besarnya simpati rakyat terhadap beliau sebagai pemimpinnya.

Masa Pendidikan Tuanku Imam Bonjol
Sejak kecil Tuanku Imam Bonjol sudah didik oleh ayahnya tentang agama Islam. Beliau mendapatkan ilmu agama Islam dari ayahnya dengan berlandaskan pada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Pada usia 7 (tujuh) tahun ayahanda Tuanku Imam Bonjol meninggal dunia, tepatnya pada tahun 1779. Pendidikan Tuanku Imam Bonjol tentang agama Islam kemdian diteruskan oleh neneknya yang bernama Tuanku Bandaharo yang tinggal di Kampung Padang Lawas dalam kenagarian Ganggo Hilir. Pada saat belajar agama dengan sang nenek, nama Muhammad Syawab (Tuanku Imam Bonjol) ditukar menjadi Peto Syarif  - Tidak ada keterangan secara spesifik kenapa nama beliau ditukar. Sama dengan ayahanda beliau mengajarkan Peto Syarif hukum Islam. Saat memuntut ilmu dengan sang nenek Tuanku Imam bonjol juga mempelajari ilmu tentang pandai besi, pertambangan dan ilmu beladiri. Ilmu tersebut merupakan kapandaian umum yang harus dimiliki oleh seorang pemuda Minangkabau pada waktu itu.

Karena kepandaian dan kecakapan Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Bandaharo tidak sanggup lagi memberikan pelajaran agama kepadanya karena semua pelajaran agama Islam yang diajarkan dapat diselesaikan dengan cepat. Setelah selesai menuntut ilmu dengan sang nenek Tuanku Imam Bonjol pergi meninggalkan kampungnya untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi lagi. Tujuan beliau dalam menuntut ilmu selanjutnya adalah di daerah kampung Muara di Pauh Gadis Kecamatan Suliki (kampung ayah beliau). Setelah selesai di sana kemudian Tuanku Imam Bonjol melanjutkan perjalanan mencari ilmu di Pasir Lawas di Palupuh. Setelah itu Tuanku Imam Bonjol kembali ke kampung beliau untuk mengajarkan dan mengembangkan agama Islam kepada masyarakat.

Tuanku Imam Bonjol merupakan seseorang yang haus akan ilmu pengetahuan. Setelah lama mengajarkan agama Islam dikampungnya beliau merasa ilmunya masih kurang, hal ini dikarenakan Tuanku Imam Bonjol dihadapkan dengan keadaan susunan masyarakat Minangkabau waktu itu masih sangat kuat berpegang pada kebiasaan lama yang menerut Tuanku Imam Bonjol hal itu sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam. Tujuan selanjutnya dalam mencari ilmu Tuanku Imam Bonjol di kampung Koto Tuo, Kenegarian Empat Angkat Candung, kebupaten agam. Disana Tuanku Imam Bonjol dan juga rekannya Datuk Bandaharo berguru kepada Tuanku Koto Tuo seorang ahli tarekat Naksyabandyah (suatu aliran tarekat yang dianggap lebih dekat dengan aliran Sunnah wal Jamaah). Pada waktu itu Tuanku Imam Bonjol berusia 20 tahun (tahun 1792), disana beliau mendapatkan banyak ilmu dari Tuanku Koto Tuo diantaranya Fiqih Islam, Al-Qur'an, Hadis Nabi dan juga masalah hukum kepercayaan aspek kehidupan sosial.

Tuanku Koto Tuo mengajarkan kepada murid-muridnya pengetahuan yang sempurna tentang Al-Qur'an. Beliau menekankan mengenai masalah keduniawian dan nilai masyarakat Minangkabau untuk memudahkan mengembangkan ajaran Islam, khususnya ditujukan untuk menanggulangi kemerosotan moral dan kebobrokan masyarakat pada waktu itu. Tuanku Koto Tuo mengajarkan kepada murid-muridnya supaya bertindak tegas dalam masyarakat, akan tetapi dalam mensyiarkan ajaran Islam sebaiknya dengan perlahan-lahan dan meyakinkan.

Tuanku Imam Bonjol menuntut ilmu dengan Tuanku Koto Tuo selama 8 (delapan) tahun. Beliau tamat belajar pada tahun 1800 dengan hasil sangat memuaskan dan mendapatkan gelar "Malin Basa". Gelar "Malin Basa"  mempunyai makna seorang Mualim "Malin"  besar "Basa". Dalam bahasa Minangkabau "Malin Basa" berarti seorang yang mengetahui secara mendalam tentang suatu masalah. Dalam hal ini "Malin Basa" merupakan seseorang yang sangat mengetahui seluk belu agama Islam serta pengalamannya.

Selesai menuntut ilmu pada Tuanku Koto Tuo (tahun 1800), Tuanku Imam Bonjol melanjutkan lagi pendidikannya ke wilayah Aceh. Disana beliau menuntut ilmu tidaklah lama sekitar 2 tahun. Pada tahun 1802 beliau kembali ke kampung halaman Alahan Panjang untuk memulai melakukan pembaharuan sesuai dengan ajaran agama yang beliau dapatkan.

Pada tahun 1803 Tuanku Imam Bonjol mengembara kewilayah Kemang untuk kembali menuntut ilmu. Disana beliau bertemu dengan seorang guru bernama Tuanku Nan Renceh. Tuanku Imam Bonjol berguru kepada Tuanku Nan Renceh untuk mendapatkan ilmu baru. Selain ilmu agama Tuanku Nan Renceh juga mengajarkan ilmu strategi perang kepada Tuanku Imam Bonjol. Beliau diajarkan bagaimana cara mengendarai kuda sambil memimpin pasukan, bagaimana taktik memimpin perang, bagaimana mencari tempat yang strategis untuk menyerang dan bertahan, bagaimana cara menguasai bawahan dan lain sebagainya yang berkaitan dengan ilmu perang. 

Setelah 2 tahun Tuanku Imam Bonjol menuntut ilmu kepada Tuanku Nan Renceh, pada tahun 1805 Taunaku Imam Bonjol diperintahkan Tuanku Nan Renceh untuk mendirikan sebuah benteng Batusangkar. Pada saat pembangunan benteng tersebut Tuanku Imam Bonjol berkenalan dengan Haji Piobang. Buah dari perkenalan tersebut Tuanku Imam Bonjol mendapatkan pelatihan kemiliteran lebih lanjut. Setelah selesai mendirikan benteng  "Batusangkar", Tuanku Imam Bonjol kembali ke Kemang untuk menyelesaikan pendidikannya. Beliau mangakhiri pendidikan dengan Tuanku Nan Renceh pada tahun 1807.

Pada saat menuntut ilmu dengan Tuanku Nan Renceh, sekitar tahun 1803 Tuanku Imam Bonjol mendirikan sebuah gerakan yang tujuan utamanya untuk membersihkan praktek-praktek Islam yang tidak benar di masyarakat. Gerakan tersebut terkenal sampai sekarang dengan nama "Gerakan Paderi". Dengan munculnya gerakan tersebut, cita-cita Tuanku Imam Bonjol untuk melakukan pembaharuan dalam pelaksanaan ajaran Islam menjadi berkobar-kobar. Hal ini dikarenakan Tuanku Imam Bonjol mendapatkan kekuatan baru dari Tuanku Nan Renceh dan juga pengikut-pegikutnya.

Mengenal Sosok Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara dengan R.A. Sutartinah

Ki Hajar Dewantara adalah salah satu pahlawan nasional yang berjuang dalam bidang pendidikan di Indonesia (Pendidikan Nasional). Berkat perjuangannya, nama beliau terkenal baik didalam maupun di luar negeri. Ki Hajar Dewantara merupakan cucu dari Sri Paku Alam III, nama asli beliau adalah R.M. Suwardi Surjaningrat. Ki Hajar Dewantara lahir pada hari Kamis Legi tanggal 2 Mei 1889. Ayah beliau bernama Kanjeng Pangeran Harjo Surjaningrat putra dari Kanjeng Gusti Pangeran Hadipati Harjo Surjosasraningrat (Sri Paku Alam III). Ki Hajar Dewantara (R.M. Suwardi) menikah dengan R.A. Sutartinah, beliau adalah putri dari G.P.H. Sasraningrat adik dari G.P.H. Surjaninrat. Hubungan Ki Hajar Dewantara dengan sang istri (R.A. Sutartinah) adalah sudara sepupu.

Baca Juga : Asal Usul Tuanku Imam Bonjol

Ki Hajar Dewantara dan R.A. Sutartinah mempunyai jumlah saudara yang banyak. Berikut merupakan silsilah singkat dari Ki Hajar Dewantara dan R.A. Sutartinah :

Kanjeng Gusti Hadipati Harjo Surjosasraningrat (Sri Paku Alam III) mempunyai petra sejumlah 7 (tujuh) orang,
~*K.P.H. Purwoseputro
~*B.R.M.H. Surjohudojo
~*K.P.H. Surjaningrat (Ayah Ki Hajar Dewantara)
~*B.R.M.H. Surjokusumo
~*B.R. Ayu Nototaruno
~*G.P.H. Sasraningrat (Ayah R.A. Sutartinah istri Ki Hajar Dewantara)
~*G.B.R. Ayu Hadipati Paku Alam VI

Kanjeng Pangeran Harjo Surjaningrat (Ayah Ki Hajar Dewantara) mempunyai putra sebanyak 9 (sembilan) orang,
~*R.M. Surjopranoto
~*R.M. Surjosiworo
~*R. Ayu Suwartijah Bintang
~*R. Ayu Suwardinah Surjopratiknjo
~*R.M. Suwardi (Ki Hajar Dewantara)
~*R.M. Djoko Suwarto (K.R.T. Surjaningrat)
~*R.M. Suwarman Surjaningrat
~*R.M. Surtiman Surjodiputro
~*R.M. Harun Al-Rasid

Gusti Pangeran Harjo Sasraningrat (ayah R.A. Sutartinah) berputra 13 (tiga belas) orang,
~*R.M. Prawiraningrat
~*R.M. Nataningrat Sutjipto
~*R.M. Suprapto
~*R. Ayu Martodirjo
~*R.M. Surojo Sasraningrat
~*R.Aj. Sutarjinah (istri Ki Hajar Dewantara)
~*R.Aj. Sukapsilah
~*R.M. Sujatmo
~*R.M. Sudarto Sasraningrat
~*R.Aj. Sulastri - Sujadi Darmoseputro
~*R.M. Sancojo Sasraningrat
~*R.Aj. Sukimin Hardjodiningrat

Ki Hajar Dewantara masih berhubungan kerabat dengan sang istri R.A. Sutarjinah karena sama-sama keturunan dari Sri Paku Alam III. Kadipaten Paku Alam merupakan salah satu kerajaan dari empat kerajaan di Jawa Tengah. Berdirinya kadipaten tersebut adalah yang paling akhir dibandingkan dengan tiga kerajaan lainnya. Jika Kerajaan Yogyakarta merupakan pecahan dari kerajaan Mataram yang berpusat di Surakarta (pemecahan ini berdasarkan ketentuan dalam perjanjian damai Gianti : 1755). Mangkunegaraan berdiri pada 1757 berdasarkan ketentuan perdamaian Salatiga.

Ki Hajar Dewantara wafat pada tanggal 26 April 1959, beliau wafat setelah melaksanakan tugas luhur mengabdi kepada bangsa Indonesia sejak berusia 24 tahun. Ki Hajar Dewantara merupakan perintis kemerdekaan, perintis pendidikan dan kebudayaan nasional. Karena perjuangannya tersebut beliau diangkat oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Bangsa dan Bapak Pendidikan di Indonesia.

Untuk mengenang perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia dibuatlah film dokumenter yang dibuat oleh perusahaan film negara. Pembuatan film tersebut dimulai pada tahun 1959 dan diakhiri pada 29 April 1959 bertepatan dengan pemakaman jenazah Ki Hajar Dewantara.

Tambahan (saran untuk Menteri Pendidikan dan Presiden RI)
Sebagai tambahan saya sangat setuju jika pendidikan sejarah khususnya sejarah kemerdekaan Indonesia diadakan lagi mulai dari pendidikan tingkat dasar. Menurut saya itu penting agar generasi muda Indonesia mengetahui, meneladani dan meneruskan perjuangan para pahlawan yang sudah mengorbankan jiwa, raga dan hartanya demi kemerdekaan Indonesia. Selain itu juga untuk memperkuat jiwa kebangsaan generasi muga Indonesia agar tidak mudah terpengaruh oleh aliran-aliran radikal yang ingin memecah belah PANCASILA dan NKRI.