Almanac Nautica 2020 US Naval Observatory

Almanac Nautica

My-Dock - Almanac Nautica merupakan sebuah buku berisi data numbering pergerakan benda langit di permukaan bumi pada setiap menit dan jam selama satu tahun. Kegunaan utama Almanac Nautica adalah untuk memudahkan seorang navigator kapal laut menentukan posisi kapalnya ditengah lautan.

Data dalam buku Almanac Nautica akan berbeda disetiap tahunya. Dalam Almanac Nautica memuat daftar posisi Matahari dan Bulan pada setiap jam berdasarkan waktu Greenwich Mean Time (GMT). Melalui data tersebut dapat diketahui nilai deklinasi dan juga sudut waktu untuk kedua benda langit tersebut.

Baca Juga : Lebaran 2019 Dalam Perhitungan Metode Almanac Nautica

Tidak hanya data Matahari dan bulan saja Almanac Nautica juga memuat data GHA dan Declinasi planet Vunus, Mars, Jupiter, saturnus, GHA dan Declinasi rasi bintang dan masih banyak lagi.

Selain digunakan oleh seorang navigator kapal untuk menentukan posisi kapalnya, Almanac Nautica juga digunakan oleh Badan Hisab Rukyat Departemen Agama dan juga mahasiswa yang sedang belajar tentang ilmu falak. Mereka menggunakan Almanac Nautica untuk mencari semi diameter (sd) bulan, declinasi bulan dan matahari, equation of time, horizontal paralax dan juga GHA bulan dan matahari dalam menentukan posisi bulan baru.
Sampai saat ini hanya beberapa negara yang mampu membuat dan mencetak buku Almanac Nautica. Di Britania Raya, almanac nautica dibuat dan diterbitkan oleh HM Nautical almanac Office. Di amerika serikat Almanac Nautica dibuat dan diterbitkan oleh US Naval Observatory. Di Indonesia Almanac Nautica diterbitkan oleh Dinas Hidro Oseanografi bekerjasama dengan Her Majesty’s Nautical Almanac Office, Royal Naval Observatory dan United State Naval Observatory (USNO).

Apabila ada yang menginginkan Almanac Nautica tahun 2020 dan kesulitan mendapatkannya bisa menghubungi saya melalui Whatsapp ke 085233565566 (untuk mempermudah klik pada nomor tersebut).

Banyak Planet Terlihat di Bulan Mei 2019

Banyak Planet Terlihat di Bulan Mei 2019

My Dock - Pada hari-hari biasa kita tidak akan bisa melihat planet yang ada di tata surya tanpa menggunakan alat bantu, karena revolusi Bumi dengan revolusi planet lain di galaksi bima sakti tidaklah sama. Di bulan Mei 2019, planet-planet yang berdekatan dengan Bumi akan bisa kita amati karena posisi planet tersebut hampir sejajar dengan bumi saat berevolusi. 

Di bulan Mei 2019 dengan melakukan pengamatan tanpa menggunakan alat bantu, kita bisa mengamati planet Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus. Sebenarnya kita juga bisa melihat planet lain Uranus dan Neptunus tetapi harus menggunakan alat bantu karena penampakannya sangat redup. Waktu yang tepat untuk mengamati / melihat planet-planet tersebut adalah sebagai berikut:

1. Merkurius dan Venus

Merkurius dan Venus

Di awal bulan Mei 2019, Merkurius, Venus dan Bulan Sabit akhir akan tampak berpada di ufuk timur jelang fajar. Merkurius, Venus dan Bulan membentuk sebuah segitiga dengan jarak sekitar 8º. Kita bisa melihat fenomena tersebut tanpa menggunakan alat bantu sekitar pukul 04:06 Wib - 04:39 Wib.

2. Mars

Mars

Planet ke - 4 dalam Galaksi Bima Sakti ini bisa kita amati tanpa menggunakan alat bantu saat Matahari mulai tenggelam, berada pada posisi 29º di barat laut. Bulan akan nampak di selatan Mars dengan jarak sekitar 3,2º. Untuk melihat Bulan dan Mars secara bersamaan akan di mulai sekitar pukul 20:10 Wib.

3. Jupiter dan Saturnus

Jupiter dan Saturnus

Kedua planet ini akan menghiasi langit malam disepanjang bulan Mei 2019. Jupiter akan mulai terlihat sekitar pukul 20:00 Wib dan Saturnus akan terlihat sekitar pukul 22:00 Wib. Kedua planet ini akan terus bergerak naik dan berpapasan dengan bulan secara bergantian pada 20 dan 22 Mei 2019.

4. Uranus dan Neptunus

Uranus dan Neptunus

Untuk mengamati kedua planet ini kita harus menggunakan alat bantu teleskop atau yang lainnya, karena penampakannya sangat redup dibandingkan dengan planet Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus. Uranus akan sulit diamati karena posisinya yang berdekatan dengan Matahari. Sedangkan Neptunus akan bisa diamati pada tengah malam sampai fajar disepanjang bulan Mei 2019. Akan tetapi dengan penampakannya yang redup, untuk mengamatinya harus menggunakan alat bantu.

Sumber: 
Avivah Yamani. 2019. Fenomena Langit Bulan Mei 2019. langitselatan.com

Supermoon | Bulan Besar

Supermoon | Bulan Besar
My-Dock - Banyak media yang mengatakan gerhana bulan total yang akan terjadi pada tanggal 31 Januari 2018 bertepatan dengan Supermoon. Sebenarnya apasih yang dimaksud dengan Supermoon itu dan apakah dampaknya? 

Supermoon merupakan sebuah istilah yang digunakan para pakar Astronomi untuk menggambarkan suatu keadaan dimana saat terjadi bulan purnama posisi bulan dalam jarak terdekatnya dengan bumi dalam orbit eliptikanya, sehingga bulan akan terlihat sedikit lebih besar.

Dalam sejarah Astronomi istilah Supermoon pertama kali diciptakan oleh Richard Nolle pada tahun 1979 di majalah Dell Horoscop. Berikut pernyataan beliau,

... a new or full moon which occurs with the Moon at or near (within 90% of) its closest approach to Earth in a given orbit (perigee). In short, Earth, Moon and Sun are all in a line, with Moon in its nearest approach to Earth.— Richard Nolle, (Wikipedia : Supermoon).

Supermoon | Bulan Besar
Sejarah Supermoon terjadi pada tahun 1948, 1955, 1974, 1922, 2005, 2011, 2016 (Supermoon dalam jarak terdekatnya dalam 18 tahun terakhhir) dan tahun 2018 yang bertepatan dengan Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018.

Kejadian Supermoon ini banyak yang mengaitkan dengan bencana alam seperti gempa, banjir, gunung meletus dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan saat terjadi Supermoon hampir selalu berdekatan dengan terjadinya bencana alam seperti yang baru saja terjadi Gempa 5,2 SR yang terjadi di Lebak Banten pada bulan 26 Januari 2018. Akan tetapi para pakar Astronomi membantah hal tersebut, hal ini dikarenakan fenomena Supermoon tidak cukup kuat untuk mempengaruhi permukaan tanah ataupun gunung berapi. Dampak yang pasti dari fenomena Supermoon ini adalah pasang surut air laut yang lebih besar — Richard Nolle.

Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018

Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018

My-Dock - Di awal tahun 2018 ini akan ada fenomena alam tahunan Gerhana Bulan Total. Gerhana Bulan Total merupakan peristiwa dimana posisi Matahari, Bumi dan Bulan dalam posisi sejajar pada saat bulan purnama.  Gerhana bulan ini diperkirakan akan terjadi pada tanggal 31 Januari 2018.

Gerhana Bulan Total pada awal tahun 2018 ini sangatlah istimewa karena bertepatan dengan momen posisi bulan sangat dekat dengan bumi (Super Moon) jaraknya ± 360.000 Km, sehingga bulan akan terlihat lebih besar. Selain itu Gerhana Bulan Total pada awal tahun 2018 akan terjadi pada bulan purnama kedua pada bulan januari 2018 (Blue Moon). Blue Moon merupakan sebuah istilah untuk menamai bulan purnama kedua yang terjadi pada satu bulan masehi.

Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018

Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 ini bisa disaksikan diseluruh wilayah indonesia dari sabang sampai merauke. Akan tetapi saat ini diwilayah Indonesia bertepatan dengan musim hujan, jadi sangat beruntung jika pada saat terjadi gerhana diwilayah anda cuacanya cerah.

Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018

Berikut kami sampaikan perkiraan waktu terjadinya gerhana bulan di Indonesia.
Wilayah indonesia bagian timur, seperti Papua dan Maluku Gerhana Bulan Penumbra dimulai pada pukul 19.51 – 20.48 WIT, Gerhana Bulan Total dimulai pada pukul 21.51 – 23.07 WIT dan berakhir pada pukul  01.08 WIT.

Wilayah indonesia bagian tengah, seperti Sulawesi dan Kalimantan Utara, Selatan dan Timur Gerhana Bulan Penumbra dimulai pada pukul 18.51 – 19.48 WITA, Gerhana Bulan Total dimulai pada pukul 20.51 – 22.07 WITA dan berakhir pada pukul  00.08 WITA.

Wilayah indonesia bagian barat, seperti Surabaya, Jakarta dan Aceh Gerhana Bulan Penumbra dimulai pada pukul 17.51 – 18.48 WIB, Gerhana Bulan Total dimulai pada pukul 19.51 – 21.07 WIB dan berakhir pada pukul  23.08 WIB.

84 Titik Pemantauan Hilal Awal Ramadlan 1438 H

84 Titik Pemantauan Hilal Awal Ramadlan 1438 H
My-Dock - Pada hari ini Jum'at, 26 Mei 2017 Kementrian Agama menggelar Pemantauan Hilal untuk menentukan awal Ramadlan 1438 H. Kementrian Agama melakukan pemantauan di 84 titik lokasi Pemantauan yang tersebar di 33 Propinsi di indonesia.

Hasil dari Pemantauan Hilal tersebut nantinya akan dimusyawarahkan dalam sidang itsbat yang dimulai pada pukul 17.00 Wib kemudian diambil keputusan untuk menentukan awal Ramadlan 1438H. (Plt. Dirjen Bimas Islam - Kamarudin Amin).

Menurut beliau sidang akan dihadiri oleh beberapa Duta Besar Negara-negara sahabat, Pejabat Eselon I dan II Kementerian Agama, Ketua Komisi VIII DPR RI, Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Informasi Geospasial (BIG), Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN),  Planetarium, Pakar Falak dari Ormas-ormas Islam dan Tim Hisab dan Rukyat Kementerian Agama.

Lokasi yang akan digunakan untuk Pemantauan Hilal berdasarkan rilis Subdit Hisab Rukyat dan Syariah Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag RI tertanggal 23 Mei 2017 diantaranya adalah sebagai berikut:
1 Aceh Observatorium Tgk. Chiek Kuta Karang; Bukit Tower PT Arun; Gunung Cring Crang; Pantai Suak Geudeubang; Pantai Lhok Keutapang; Pantai Teluk Dalam; dan Tugu 'KM.0' Indonesia, Sabang
2 Sumatera Utara Kantor Gubernur Sumut (Medan) dan Pantai Binasa
3 Sumatera Barat Shelter Masjid Nurul Haq
4 Riau Hotel Primer, Jl. Jend Sudirman (Pekanbaru) dan Menara Masjid Islamic Kab. Rohul
5 Kepulauan Riau Bukit Cermin; Pantai Batam; Gunung Lingga; Pantai Karimun; Pantai Natuna; dan Pantai Anambat
6 Jambi Menara Mercusuar Ujung Jabung
7 Sumatera Selatan Hotel Aryaduta, Jl. POM 9 Kampus Palembang
8 Bangka Belitung Pantai Tanjung Raya Desa Penagan Kab. Bangka
9 Bengkulu Dak Mess Pemda Provinsi Bengkulu
10 Lampung Bukit Cantik, Kalianda (Lampung Selatan) dan Pantai Lemong, Krui (Lampung Barat)
11 DKI Jakarta Gedung Kanwil Kemenag DKI Jakarta lantai 7; Masjid Al-Musyariin Basmol, Jakarta Barat; Pulau Karya Kepulaan Seribu; dan Masjid Al-Makmur Klender, Jakarta Timur
12 Jawa Barat Pusat Observasi Bulan (POB) Pelabuhan Ratu, Sukabumi; Observatorium Bosscha Lembang, Bandung Barat; dan Gunung Babakan, Kec. Banjar Kota Banjar
13 Banten Puri Retno Anyer (Serang)
14 Jawa Tengah Menara Al Husna Masjid Agung Jawa Tengah (Semarang); Masjid Giribangun (Banyumas); Pantai Jatimalang (Purworejo); Assalam Observatory (Sukoharjo); Pantai Kartini (Jepara); Pantai Segolok (Batang); Pantai Logending (Kebumen); Pantai Karangjahe (Rembang); dan Pantai Alam Indah (Tegal)
15 DI Yogyakarta POB Sekh Bela Belu, Bantul Parang Tritis (Bantul)
16 Jawa Timur Pantai Sunan Drajat/Tanjung Kodok Paciran (Lamongan); Bukit Banyu Urip Kec. Senori (Tuban); Lapan, Gempol (Pasuruan); Gunung Sekekep Wagir Kidul, Kec. Pulung (Ponorogo); Helypad AURI Ngliyep (Malang); Pantai Serang (Blitar); Pantai Srau (Pacitan); Bukit Wonotirto (Blitar); Pantai Nyamplong Kobong (Jember); Gunung Sadeng (Jember); Pantai Pacinan (Situbondo); Pantai Pancur Alas Purwo (Banyuwangi); Pantai Ambat Tlanakan (Pamekasan); Bukit Condro Dipo (Gresik); Pantai Gebang (Bangkalan); Bukit Wonocolo (Bojonegoro); Pulau Gili (Probolinggo); Pantai Sapo Batuputih (Sumenep); Pantai Kalisangka Kangean (Sumenep); Pantai Bawean (Gresik); dan Satuan Radar (Satrad) 222 Ploso di Kaboh (Jombang)
17 Kalimantan Barat Pantai Indah Kakap (Kubu Raya) dan Tanjung Belandang (Kretapang)
18 Kalimantan Tengah Hotel Aquarius (Palangkaraya)
19 Kalimantan Timur Islamic Center (Samarinda)
20 Kalimantan Selatan Bank Kalsel Jl. Lambung Mangkurat
21 Bali Hotel Patra Jasa Pantai Kute (Bali)
22 NTB Taman Rekreasi Loang Baloq Ampenan (Kota Mataram); Pacific Beach Cottages-Senggigi (Lombok Barat); Pantai Desa Kiwu Kec. Kilo (Dompu); Bukit Poto Batu Taliwang (Sumbawa Barat)
23 NTT Halaman Masjid Nurul Hidayah
24 Sulawesi Selatan Tanjung Bunga di atas Gedung GTC Makassar Pantai Losari
25 Sulawesi Barat Tanjung Rangas Kec. Simboro Kab. Mamuju
26 Sulawesi Tenggara Pantai Buhari Tanggetada, Kab. Kolaka
27  Sulawesi Utara Mega Mall Manado Trade Center (MTC)
28 Gorontalo Asrama Haji Antara Gorontalo
29 Sulawesi Tengah Desa Merana Kec. Sundue Kab. Donggala
30 Maluku Desa Wakasihu Kab. Maluku Tengah
31 Maluku Utara Pantai RUA, Kota Ternate
32 Papua Pantai Lampu Satu Merauke
33 Papua Barat Pantai Sidai Kab. Manokwari

Mengenal Meteor Perseid

Meteor Perseid 2014

My-Dock - Meteor Perseid merupakan serpihan debu dari ekor komet yang diberi nama komet Swift-Tuttle (109P/Swift-Tuttle) yang masuk ke atmosfer Bumi. Dinamakan Perseid karena titik radian meteor ini berasal dari arah rasi bintang Perseus.

Serpihan debu dari komet Swift-Tuttle tersebut pertama kali ditemukan oleh astronom pada tahun 1862 dan mengelilingi matahari dalam kurun waktu 130 tahun sekali. Pada saat mendekat dengan Matahari, Komet 109P/Swift-Tuttle meninggalkan sisa-sisa partikel berupa debu maupun serpihan di bekas lintasannya. Setiap tahun Bumi selalu melawati bekas lintasan komet tersebut dan bekas sisa-sisa partikel komet masuk ke atmosfer Bumi kemudian menekan dan memanaskan udara di sekitarnya hingga menimbulkan kilatan cahayameteor.

Kecepatan meteor perseid memasuki atmosver bumi dengan kecepatan kurang lebih sekitar 59,5 Km/s atau 214.365 km/h. Suhu meteor diperkirakan mencapai 1.650 derajat celcius.

Periode terjadinya hujan meteor ini terjadi pada bulan juli sampai dengan Agustus. Lebih tepatnya pada tanggal 17 Juli sampai dengan 24 Agustus. Hal ini dikarenakan pada bulan tersebut Bumi melintasi orbitnya sehingga sisa-sisa material komet tersebut tertarik oleh gravitasi bumi dan muncul sebagai hujan meteor.

Berdasarkan keterangan dari Ahli meteor Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA), tahun ini puncak hujan meteor Perseid di Indonesia diperkirakan terjadi pada hari Rabu 13 Agustus 2014 pada pukul 07.30 Wib. Apabila dilihat dari dari waktu terjadinya hujan meteor perseid kita akan kesulitan untuk mengamati terjadinya hujan meteor Perseid menggunakan mata telanjang, (Bill Cooke).

Rasi Bintang Perseus
Kita masih bisa mengamati hujan meteor ini menjelang dan sesudah mencapai titik puncak, yaitu pada hari selasa sampai kamis dini hari. waktu yang paling tepat untuk mengamati hujan meteor ini selepas tengah malam hingga menjelang fajar. Akan tetapi bila melakukan pengamatan setelah mencapai puncaknya, jumlahnya lebih sedikit bahkan bisa jarang. (komunikator sains : Joe Rao).

Untuk mengamati hujan meteor kita tidak perlu menggunakan alat bantu teleskop ataupun yang lain akan tetapi menggunakan mata telanjang saja kita sudah bisa mengamatinya. Untuk mengamati hujan meteor ini kita hanya membutuhkan langit yang gelap dan bersih dari partikel debu. Bagi orang yang tinggal di pedesaan mungkin akan mudah untuk mengamatinya.
Pada saat puncak hujan meteor Perseid, meteor yang bisa diamati mencapai 100 meteor per jam pada saat tidak ada bulan. Karena pada tahun ini hujan meteor perseid terjadi pada bulan purnama, meteor yanbg bisa diamati oleh mata hanya sekitar 30-40 meteor perjam.


Penemuan Mega Bumi (Kepler-10C)

Mega Bumi

My-Dock Astronomi - Astronom menemukan planet baru yang diberi nama "Mega Bumi". Astronom menemukan planet "Mega Bumi/Kepler 10-c" tersebut menggunakan teleskop kepler. Penemuan tersebut diperoleh menggunakan metode "melihat keberadaan planet dengan mengamati peredupan cahaya bintang" (metode transit).

Jenis planet ini merupakan planet batuan seperti bumi, akan tetapi memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari kelas planet bisa dikatakan "Bumi Super". Bumi Super tersebut mengorbit sebuah bintang yang jaraknya 560 tahun cahaya dari Bumi. Penemuan ini dipresentasikan astronom pada pertemuan American Astronomical Society di Boston.

Dengan ditemukannya planet "Super Bumi" ini membuat astronom menggaruk kepala. Berdasarkan pengalaman astronom, planet besar cenderung menarik banyak hidrogen sehingga akan lebih mirip Jupiter dan Neptunus.

Dimitar Sasselov dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics mengatakan "Cara yang pas untuk menyebutnya adalah sesuatu yang lebih besar dari "Bumi Super", bagaimana jika diberinama "Bumi Mega"?". BBC, (03/06/2014).

Berdasarkan penelitian Sasselov, "Mega Bumi" tersebut mempunyai massa lebih dari 17 kali massa Bumi, masa jenisnya  kurang lebih sekitar 7,5 gram per centimeter kubik. Dengan demikian membuat "Mega Bumi" menyerupai massa jenis batuan di Bumi, yaitu 5,5 gram per centimeter kubik).

Usia bintang induk planet tersebut adalah 11 miliar tahun, selisih 2 miliar tahun dari alam semesta sendiri.

Gerhana Matahari Pertama Tahun 2014

Gerhana Matahari

My-Dock News - Pada bulan April ini, Badan Antariksa Amerika Serikat memprediksi akan terjadi gerhana Matahari di wilayah Indonesia bagian selatan, Australia, Samudra India Selatan. Hal ini akan menyebabkan langit menjadi gelap pada saat gerhana mencapai puncaknya. Gerhana Matahari pertama kali pada tahun 2014 ini terjadi pada bulan yang menurun node dalam Aries selatan.

Gerhana Matahari khusus ini agak tidak biasa, hal ini dikarenakan poros tengah bayangan antumbral Bulan menutupi bagian bumi seluruhnya. Sedangkan bayangan tepi merambati planet ini. Gerhana Matahari ini dikategorikan sebagai gerhana non-sentral, peristiwa seperti ini sangatlah jarang terjadi. Dari jumlah gerhana anular yang terjadi (3.956) selama periode 5.000 tahun dari -2.000 sampai dengan 3.000, hanya 68 atau 1,7% adalah gerhana non-pusat.

Proses awal mula gerhana akan terjadi di wilayah Antartika. Pada 05:57:35 UT, tepi utara bayangan antumbral pertama akan terjadi di Antartika. Gerhana besar baru akan terjadi enam menit kemudian  di 06:03:25 UT. Untuk bisa mengamati terjadinya gerhana matahari langka ini kordinat geografis yang dekat dengan sumbu bayangan adalah 131' 15,6' E, 79' 38,7' S. Pertama-tama Matahari akan muncul di Cakrawala selama fase annular 49 detik. Enam menit kemudian 06:09:36 UT, bayangan antumbral mengangkat dari permukaan Bumi sebagai gerhana berakhir annular. Seluruh zona dari annularity muncul sebagai daerah berbentuk kecil di Antartika timur.

Annular Solar Eclipse 29 April 2014

Para pakar astronomi menamakan gerhana Matahari-21 ini sebagai Saros 148 (Espenak dan Meeus, 2006). Gerhana ini dimulai dengan serangkaian 20 gerhana parsial yang dimuulai pada 21 September 1653, kemudian terjadi pada bulan april ini pada tanggal 29 April 2014. Gerhana annular akan terjadi lagi pada 09 Mei 2032, kemudian akan beralih menjadi gerhana hibrida pada 20 Mei 2050 dan diikuti 40 gerhana total pertama pada 31 Mei 2068. Setelah akhir gerhana parsial 12, Saros 148 berakhir pada 12 Desember 2987.

Gerhana Saros 148

Wahana Cassini Temukan Lautan di Enceladus

Planet Saturnus Enceladus

My-Dock News - Wahana antariksa Cassini milik Badan Penerbangan Antariksa Amerika (NASA) akhir-akhir ini menemukan sebuah samudra dibawah permukaan es salah satu bulan plane Saturnus (Enceladus). Wahana Casini tersebut mengorbit sistem Saturnus sejak 17 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1997.

Samudra yang ditemukan oleh wahana Cassini tersebut mempunyai wilayah yang sangat luas. Jika dibandingkan dengan wilayah bumi, luas samudra di bulan planet Saturnus tersebut membentang mulai dari Kutub Selatan hingga Selandia Baru. Berdasarkan perkiraan para pakar astronomi luas samudra di Enceladus tersebut membentang hingga hampir seluruh wilayah Enceladus. Akan tetapi para Pakar astronomi tidak mengetahui apakah luas samudra yang berisi air tersebut mencapai wilayah kutub utara.

Pimpinan tim Peneliti dari Sapienza University Roma Luciano Less mengatakan, "Letak samudra tersebut berada sekitar 40 Km dibawah lapisan es dan dasar samudra tersebut terdiri dari bebatuan".

Berikut komentar para pakar astronomi mengenai adanya samudra di bulan planet Saturnus (Enceladus):
Pakar keplanetan Cornell University Jonathan Lunine,
"Penemuan ini menjadikan Enceladus sebagai tempat potensial yang sangat menarik untuk mencari adanya makhluk hidup di Bulan planet Saturnus". 
Anggota dari tim riset dan pakar astronomi California Institute of Technologi David Stevenson,
"Hasil penemuan dan Riset ini sangat menarik dan menunjukkan kehebatan dari wahana Cassini".
Stevenson
"Penemuan dan Riset ini tidak seperti memetakan permukaan Bumi maupun Bulan. Ini lebih kasar dan mengagumkan, bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang terbaik yang bisa kita lakukan", (03/04/14).
Penemuan lautan maupun samudra seperti ini tidak hanya ditemukan pada bulan planet Saturnus (Enceladus), akan tetapi juga terdapat di Titan, bulan lain Saturnus, serta bulan planet Jupiter. Hasil riset ini telah dipublikasikan pada jurnal Science, Kamis 03/04/14.


Teleskop Hubble Temukan Abell2744 Y1

Abell2744 Y1

My-Dock News - Akhir-akhir ini terdapat berita baru dari teleskop hubble, yang dalam rangkaian citra Frontier Field mengungkap kandidat obyek tertua di alam semesta. Obyek tersebut berjarak sekitar 13 miliar tahun cahaya dari planet bumi. Hasil foto Frontier Field tersebut diperoleh dengan menggunakan teknik pengamatan gravitational lensing.

Citra Deep Field disuguhkan teleskop huble dengan menampakkan wilayah langit di Konstelasi Ursa Major. Citra tersebut kaya akan obyek alam semesta yang jaraknya jauh dari bumi. Sebelumnya Citra Deep Field berhasil mengungkap adanya 3.000 galaksi yang belum pernah diketahui sebelumnya pada tahun 1996.

Galaksi yang berjarak 13 miliar dari bumi tersebut diberinama Abell2744 Y1. Dilihat dari jaraknya yang jauh dari bumi sekitar 13 miliar tahun, 13 miliar tahun jugalah manusia baru bisa melihat objek tersebut. Berdasarkan keterangan dari pakar Astronomi Amerika, obyek tersebut diduga terbentuk hanya 650 juta tahun setelah Big Bang.

Galaksi yang diberinama Abell2744 Y1 tersebut mempunyai ukuran lebih kecil apabila dibandingkan dengan galaksi Bimasakti. Akan tetapi membentuk bintang 10 kali lebih cepat dari Bimasakti.


Semburan Uap Air di Ceres


My-Dock News - Asteroid terbesar di tata surya yang diberinama Ceres kembali menampakkan fenomena luar biasa di luar angkasa. Asteroid yang diberi nama Ceres tersebut menyemburkan uap air ke antariksa. Fakta tersebut ditemukan oleh wahana antariksa Herschel milik Badan Antariksa Eropa/ESA dan di beritakan pada jurnal Nature edisi teranyar.

Para Ilmuan sudah lama memprediksi bahwa pada asteroid paling besar di tata surya (Ceres) tersebut mempunyai kandungan air. Akan tetapi baru kali ini Ceres menampakkan adanya kandungan air pada asteroid tersebut dengan menyemburkan uap air dan baru kali ini juga fenomena terebut dapat dideteksi oleh para peneliti.

Menurut keterangan para ilmuan astronomi, uap air yang disemburkan tersebut berasal dari suatu daerah berwarna gelap di permukaan Ceres. Akan tetapi penyebab munculnya semburan uap air tersebut belum diketahui. Semburan uap air di Ceres memag tidaklah banyak akan tetapi para ilmuan yakin bahwa yang disemburkan Ceres tersebut terdapat molekul air.

Salah satu pakar astronomi ESA, Michael Kuppers mengungkapkan, salah satu hipotesa penyebab munculnya semburan uap air pada Ceres karena adanya pemanasan oleh Matahari sehingga es yang terdapat pada Ceres menguap. Selain itu juga bisa karena adanya energi di interior Ceres. Energi pada interior Ceres tersebut sama seperti Gletser, bedanya karena tekanan rendah di permukaan asteroid, air keluar dalam bentuk gas, bukan cairan.

Temuan Baru Teleskop Huble

Exsoplanet

My-Dock News - Huble kembali menemukan penemuan baru. Teleskop milik NASA tersebut kemarin berhasil mendeteksi adanya kandungan air di atmosfer lima planet yang dikategorikan sebagai eksoplanet (planet yang berada di orbit lain dan mempunyai/mengelilingi mataharinya sendiri.

Berdasarkan keterangan astronom NASA, Avi Mandel "Kami sangat yakin melihat tanda-tanda adanya air di lima eksoplanet yang diberinama WASP-17b, HD209458b, WASP-12b, WASP-19b dan XO-1b. Dari kelima eksoplanet tersebut yang mempunyai kandungan air sangat banyak adalah WASP-17b dan HD209458b."

Menurut keterangan astronom NASA, Ujar Mandel "Untuk mendeteksi keadaan di eksoplanet mamang sangatlah sulit. Akan tetapi, Teleskop yang diberi nama Huble ini telah berhasil menemukan tanda-tanda yang menunjukkan adanya air di lima eksoplanet tersebut."

Temuan teleskop Huble tersebut sangatlah mengejutkan. hal ini dikarenakan kelima planet di lima eksoplanet tersebut kondisinya sangatlah berdebu dan berkabut. Akan tetapi teleskop Huble berhasil mendeteksi adanya sinyal air yang sangat kuat dilima planet tersebut.

Sistem Keplanetan Baru

Sistem Keplanetan Baru
Sistem Keplanetan Baru - Para ilmuan astronomi kembali menemukan sebuah penemuan baru, yaitu sistem keplanetan yang hampir mirip dengan Tata Surya. Berdasarkan keterangan pakar astronomi Juan Cabrera "Ini merupakan sistem pertama yang memiliki jumlah planet signifikan dan menunjukkan hirarki seperti Tata Surya dengan planet-planet kecil disekelilingnya, kemungkinan itu merupakan bebatuan serta planet gas raksasa yang berada diluar."

Pusat dari sistem tersebut diberi nama dengan KOI-351. Sebelumnya, para pakar astronomi telah menemukan terlebih dahulu tiga planet yang mengorbit pada bintang yang diberi nama KOI-351 tersebut. Revolusi ketiga planet tersebut masing-masing 59.210 dan 331 hari. Revolusi ketiga planet tersebut hampir sama dengan waktu revolusi Merkurius, Bumi dan Mars.

Para pakar astronomi menemukan sistem keplanetan baru ini pada saat menganalisis data teleskop antariksa Kepler. Ketiga planet pada sistem keplanetan baru ini memiliki variasi waktu orbit sangat besar, kurang lebih mencapai 25.7 jam. Variasi waktu orbit yang sangat besar tersebut dimungkinkan menjadi tanda adanya planet lain.

Para pakar astronomi kemudian menganalisa kembali data yang sudah ada dan hasilnya mereka menemukan empat planet lainnya. Empat planet tersebut masing-masing mengorbit pada bintnag selama 7,9,92 dan 125 hari. Pada sistem keplanetan baru ini planet terluarnya mengorbit pada Matahari pada jarak yang lebih dekat deri Bumi.

Berdasarkan keterangan salah seorang pakar astronomi yang menemukan sistem keplanetan baru tersebut "Kita menemukan planet dalam susunan, jarak, ukuran bahkan kelas yang tidak terkenal di Tata Surya." Para astronom belum bisa meneliti mengenai awal mula terbentuknya sistem keplanetan tersebut.

ISON C2012/S1 Hilang Dibalik Matahari

My-Dock News - Komet ISON yang diperkirakan akan menampilkan fenomena luar biasa pada tanggal 27-28 November kemarin, akhirnya tidak terjadi. Komet tersebut hancur tak berkeping disaat mendekati Matahari. Komet ISON mencapai titik terdekat dengan matahari pada hari ini, Jum'at 28 November 2013. Komet tersebut melintasi matahari dengan kecepatan kurang lebih sekitar 350 Km/detik.

Menurut pakar astronom yang mengamati ISON menggunakan teleskop, Komet ini mempunyai ekor yang panjang dan cahayanya sangat cerah. Berdasarkan pengamatan terakhir, komet ISON berjarak kurang lebih sekitar 1,2 juta kilometer dari Matahari kemudian hilang tak berbekas dibalik Matahari.

Dalam perjalanannya mendekati matahari, diperkirakan komet ISON menghadapi suhu kurang lebih sekitar 2.700 derajat celsius. Berdasarkan keterangan ilmuan, suhu tersebut mampu untuk menguapkan es, debu dan batu yang menjadi komposisi komet ISON C2012/S1.

Pada mulanya komet ISON C2012/S1 berasal dari suatu wilayah yang diberi nama  Awan Oort. Awan Oort merupakan sebuah gudang berisi komet yang terletak didekat Tata Surya. Sebelum mendekati Matahari komet ISON menempuh perjalanan kurang lebih sekitar 5,5 juta tahun dari Awan oort.

Pada mulanya komet yang diberi nama ISON C2012/S1 ini ditemukan pada tahun 2012 oleh seorang astronom dari Rusia yang bernama Vitali Nevski dan Artyom Nivichonok.

NASA Meluncurkan Roket Ke Venus

Venus
My-Dock News - Setelah belum lama ini pakar astronomi Amerika/NASA meluncurkan roket Maven untuk meneliti bagian atmosfer planet Mars, kini pada tanggal 25 November kemarin NASA kembali meluncurkan roket untuk menyelidiki atmosfer Venus. Dalam misi penelitian atmosfer Venus tersebut Nasa meluncurkan roket yang diberi nama VeSpR untuk penelitian jangke pendek. Roket tersebut lepas landas dari White Sands Amerika Serikat.

Roket VeSpR Instrumen nantinya akan mengamati planet Venus kurang lebih selama 8 menit. Data dari roket VeSpR akan dikirimkan secara real time, hingga roket VeSpR kembali mendarat ke Bumi. Payload roket akan diambil lagi agar instrumen roket tersebut dapat digunakan untuk penelitian berikutnya.

Dalam penelitian ke planet Venus kali ini pakar astronomi Amerika Clarke dan timnya, bekerja sama dengan Jean-Loup Bertaux dari Prancis Center National de la Recherche Scientifique untuk mempelajari planet menggunakan instrumen UV pada pesawat ruang angkasa badan Antariksa Eropa Venus Express.

Pada penelitian kali ini, roket VeSpR akan membawa teleskop sejauh 65 mil/110 Km diatas permukaan Bumi. Pada ketinggian tersebut memungkinkan roket untuk menerima pancaran sinar ultraviolet/UV yang dipancarkan oleh atmosfer Venus. Pengukuran ini tidak bisa dilakukan langsung dari teleskop Bumi, karena lapisan atmosfer Bumi menyerap sebagian besar sinar UV sebelum menyentuh permukaan tanah.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, data yang dikumpulkan dari pesawat ruang angkasa NASA 1978 Pioner Venus menunjukkan bahwa Venus dulu mempunyai air yang cukup untuk menutupi seluruh dunia dengan ketinggian 23 kaki atau sekitar 7 meter. Akan tetapi jumlah hidrogen dan deuterium pada atmosfer planet Venus bervariasi pada ketinggian yang berbeda. Untuk mengatasi ketidakpastian tersebut, roket VeSpr akan membuat pengukuran khusus dibagian atas atmosfer planet Venus.

Clarke dan timnya akan menggabungkan pengukuran ini dengan mengamati planet Venus dengan peralatan baru yaitu Hubble Space Telescope NASA.

Rencana Penelitian Ilmuan Amerika Di Asteroid Ceres

Asteroid Ceres
My-Dock News - Para ilmuan Amerika membuat Rocket kursus untuk misi manusia melakukan peneitian di asteroid terbesar yang diberinama Ceres. Menurut sebuah studi baru mengatakan bahwa perjalanan tersebut mungkin tidak jauh lebih menantang daripada mengirim orang ke Mars.

NASA Asteroid Initiative berencana untuk menggunakan pesawat ruang angkasa robot untuk menarik asteroid ceres ke orbit stabil di luar bulan, yang akan memungkinkan astronot untuk mengunjungi batu asteroid tersebut tahun 2021.

Ceres merupakan nama asteroid yang pertamakali ditemukan , diameter asteroid Ceres kurang lebih sekitar 605 mil ( 975 kilometer ), atau sebesar kota Texas. Ini merupakan asteroid terbesar diorbit asteroid antara Mars dan Jupiter.

"Asteroid Ceres ini sangatlah besar, mempunyai cukup medan gravitasi untuk menarik dirinya menjadi bentuk bulat , tidak seperti kebanyakan asteroid lain yang hanya terlihat seperti kentang dan batuan lucu berbentuk," kata Longuski.

Asteroid Ceres merupakan asteroid terkecil dan terdekat terdekat dengan planet kerdil di sekitar 257 juta mil (415 juta kilometer) dari matahari. Asteroid Ceres merupakan asteroid satu-satunya yang mencapai bagian dalam tata surya . Pesawat ruang angkasa Dawn NASA dijadwalkan untuk mencapai Ceres pada 2015. ( Terkait: "NASA Dawn Spacecraft Mencapai Asteroid Weekend ini.")

Menariknya, komposisi Asteroid Ceres kemungkinan memiliki sejumlah besar air yang membeku di bawah keraknya – apakah Asteroid Ceres tersebut terdiri dari 25 persen air?, itu akan memiliki lebih banyak air daripada semua air tawar di Bumi . Beberapa peneliti berpikir Ceres mungkin memiliki lautan air di bawah permukaannya. Dengan demikian berpotensi menarik bagi para ilmuwan untuk meneliti kembali dan mencari tanda-tanda kehidupan di luar bumi, karena dimanapun itu jika terdapat air pasti  ada kehidupan.

"Kita bisa belajar banyak mengenai proses lahirnya tata surya dari Asteroid Ceres , karena Asteroid Ceres pada dasarnya merupakan sisa besar dari formasi tata surya," kata insinyur luar angkasa Frank Laipert.