Niat dan Do'a Menjalankan Amalan Bulan Ramadan



Niat.. Banyak sekali yang mendefinisikan kata niat, seperti tekad bulat dalam hati, sesuatu yang disengaja dan lain sebagainya. Kalau menurut saya niat adalah keinginan berasal dari hati untuk melakukan sesuatu perbuatan dan dilakukan dengan ikhlas. Niat ini sangat penting untuk diucapkan saat akan melaksanakan ibadah baik sunah muapun wajib. Pelafalannya sendiri bisa dalam hati atau diucapkan. Terkait dengan pentingnya Niat saat akan melaksanakan ibadah, Nabi pernah berkata "Segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan niatnya". Jadi apabila seseorang melaksanakan ibadah tanpa diawali dengan niat, maka ibadah seseorang tersebut akan sia-sia bahkan menjadi tidak sah.

Niat akan lebih sempurna apabila diakhiri dengan do'a. Do'a merupakan keinginan dengan harapan dikabulkan dari seorang hamba kepada sang pencipta (Allah SWT). Do'a dilakukan untuk menunjukan rasa patuh, taat dan rendah diri kepada Allah SWT.

Dibulan Ramadan ini banyak sekali amalan-amalan yang apabila dikerjakan pahalanya dapat berlimpah. Agar dalam menjalankan amalan bulan Ramadhan tidak sia-sia maka kita harus tahu dan mengucapkan niat dan do'anya. Berikut adalah niat dan do'a dalam menjalankan amalan bulan ramadan.


Melaksanakan Makan Sahur
Dalam menjalankan makan sahur, Nabi Muhammad menganjuran untuk mengakhirkan waktunya mendekati imsak. Jangan sampai lupa, selesai menyantap makan sahur diwajibkan untuk niat puasa Ramadan. Berikut Niat Puasa Ramadan,

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّهِ تَعَالَى

Artinya:
"Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta'ala".

Buka Puasa
Berbeda dengan saat makan sahur, Rasulullah menganjurkan menyegerakan untuk berbuka puasa apabila sudah waktunya. Do'a buka puasa adalah sebagai berikut,

اَللهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ وَبِكَ امَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكََلْتُ, وَرَحْمَتَكَ رَجَوْتُ, وَاِلَيْكَ اَنَبْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَبْتَلَّتِ العُرُقُ, وَثَبَتَ الاجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ.

Artinya:
"Wahai Allah, kepadamu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka. epada engkau aku beriman, kepada Engkau aku berserah diri. Hanya rahmat-Mu yang aku harapkan dan hanya kepada-Mu aku bertobat. Telah hilang rasa haus dan otot-otot telah basah kembali. Dan pahala pasti tetap, Insya Allah".

Do'a Akan Membaca Al-Qur'an

اللّهُمَ فْتَحْ عَلَىَّ حِكْمَتَكَ وَانْشُرْ عَلَىَّ رَحْمَتَكَ وَذَكِّرْنِى مَانَسِيْتُ يَاذَالْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

Artinya:
“Ya Allah bukakanlah hikmah-Mu padaku,bentangkanlah rahmat-Mu padaku dan ingatkanlah aku terhadap apa yang aku lupa, wahai dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan”.

Do'a Setelah Membaca Al-Qur'an

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِىْ بِالقُرْانِ. وَاجْعَلْهُ لِى اِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَّرَحْمَةً. اللَّهُمَّ ذَكِّرْنِى مِنْهُ مَانَسِيْتُ وَعَلِّمْنِى مِنْهُ مَاجَهِلتُ. وَارْزُقْنِى تِلاَ وَتَهُ انَاءَ اللَّيْلِ وَاَطْرَافَ النَّهَارٍ. وَاجْعَلْهُ لِى حُجَّةً يَارَبَّ العَالَمِيْنَ.

Artinya:
“Ya Allah, rahmatilah aku dengan Al-Qur’an yang agung, jadikanlan ia bagiku cahaya petunjuk rahmat. Ya Allah, ingatkanlah apa yang telah aku lupa dan ajarkan kepadaku apa yang tidak aku ketahui darinya, anugrahkanlah padaku kesempatan membacanya pada sebagian malam dan siang, jadikanlah ia hujjah yang kuat bagiku, wahai tuhan seru sekalian alam”.

Niat Shalat Tarawih

اُصَلِّى سُنَةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا / مَأْمُوْمًا / أَدَاءً لِلّهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati imāman ma’mūman adā’an lillāhi ta‘ālā.

Artinya:
“Aku menyengaja sembahyang sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah SWT.”

Do'a Setelah Shalat Tarawih

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لَوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَإِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَمِنْ حُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta lawâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa ilal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.

Artinya:
“Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (Lihat Sayyid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta).

Niat Shalat Witir

اُصَلِّى سُنَّةً مِنَ الوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا / مَأْمُوْمًا / أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatan minal Witri rak‘ataini mustaqbilal qiblati adā’an imāman / makmūman / adā’an lillāhi ta‘ālā.

Artinya:
“Aku menyengaja sembahyang sunnah bagian dari shalat Witir dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam / makmum karena Allah SWT.”

Do'a Shalat Witir

أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْاَلُكَ إِيْمَانًا دَاِئمًا وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا وَنَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَا فِيَةَ وَنَسْأَلُكَ تَمَّامَ الْعَافِيَّةِ وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَّةِ وَنَسْأَلُكَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ أَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَا مَنَا وَقِيَا مَنَا وَتَخَشُعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا أَللهُ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Artinya:
"Ya Allah, kami mohon pada-Mu, iman yang langgeng, hati yang khusyu', ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang benar,amal yang shalih, agama yang lurus, kebaikan yang banyak.kami mohon kepada-Muampunan dan kesehatan, kesehatan yang sempurna, kami mohon kepada-Mu bersyukur atas karunia kesehatan, kami mohon kepada-Mu kecukupan terhadap sesaama manusia. Ya Allah, tuhan kami terimalah dari kami: shalat, puasa, ibadah, kekhusyu'an, rendah diri dan ibadaha kami, dan sempurnakanlah segala kekurangan kami. Ya allah, Tuhan yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih. Dan semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada makhluk-Nya yang terbaik, Nabi Muhammad s.a.w, demikian pula keluarga dan para sahabatnya secara keseluruhan. Serta segala puji milik Allah Tuhan semestra alam.

Niat I'tikaf di Masjid

نَوَيْتُ الاِعْتِكَافَ فِي هذَا المَسْجِدِ لِلّهِ تَعَالى

Nawaitul i’tikāfa fī hādzal masjidi lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Saya berniat i’tikaf di masjid ini karena Allah SWT.”

Niat Zakat Fitrah

a. Untuk Diri Sendiri

ﻧَﻮَﻳْﺖُ أَﻥْ أُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْسيْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Artinya:
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku sendiri, fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

b. Untuk Istri

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻲْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Artinya:
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk istriku, fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

c. Untuk Anak Laki-laki dan Perempuan

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻭَﻟَﺪِﻱْ ... ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Artinya:
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak laki-lakiku…. (sebutkan nama), fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺑِﻨْﺘِﻲْ ... ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Artinya:
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak perempuanku…. (sebutkan nama), fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

d. Untuk Diri Sendiri dan Keluarga

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَنِّيْ ﻭَﻋَﻦْ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﻣَﺎ ﻳَﻠْﺰَﻣُنِيْ ﻧَﻔَﻘَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺷَﺮْﻋًﺎ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Artinya:
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku dan seluruh orang yang nafkahnya menjadi tanggunganku, fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

e. Untuk Orang yang diwakilkan

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ (..…) ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Artinya:
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk… (sebutkan nama spesifik), fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

ZAKAT : Pengertian Macam dan Cara Menghitungnya

ZAKAT : Pengertian Macam dan Cara Menghitungnya

My Dock - Zakat merupakan rukun islam yang ke 4 dan wajib dieluarkan oleh umat islam yang mampu. Ditinjau dari segi bahasa, Zakat berasal dari kata zaka berarti mensucikan, baik, berkah dan tumbuh. Sedang menurut istilah, Zakat berarti Sejumlah harta tertentu yang diwajibkan oleh Allah SWT untuk diserahan kepada orang-orang yang berhak (mustahik zakat). 

Secara terperinci, orang yang berhak mengeluaran zakat adalah setiap umat muslim yang sudah baligh, sehat jasmani dan rohani serta mempunyai harta yang sudah mencapai nisab dan telah sampai waktunya yakni 1 (satu) tahun Qamariyah. Nisab merupakkan jumlah minimal dari harta seseorang yang telah wajib untuk dikeluarkan zakatnya.

Zakat Mal (Harta Benda)

Zakat Harta

Allah SWT memerintahkan untuk mengeluarkan zakat sejak permulaan agama Islam tanpa ditentukan kadarnya dan tanpa dijelaskan harta-harta yang wajib untuk dikeluarkan zakatnya. Baru pada sekitar tahun 623 Masehi, syara' menentukan harta-harta yang wajib dizakati beserta kadarnya. Harta yang wajib dizakati tersebut adalah,

Zakat Harta Kekayaan
Zakat dari semua jenis harta yang sengaja disimpan, baik untuk modal usaha maupun tabungan. Yang termasuk kedalam zakat ini adalah emas, perak intan, berlian, zamrud, platina, uang simpanan, deposito, uang tunai, cek, saham dan lain sebagainya. Besarnya nilai yang harus dikeluarkan adalah 2,5% setiap tahun dari harta senilai 94 gram emas.

Trus bagaimana jika mempunyai harta emas yang digunakan untuk perhiasan, apakah setiap tahun juga harus dizakati? Jawabnya adalah tidak jika anda mempunyai harta berupa perhiasan, emas contohnya dan emas tersebut tidak digunaan untuk modal usaha maka tetap dizakati tetapi hanya sekali selama dimiliki, yaitu sebesar 2,5% dari harta senilai 94 gram.

Pardi seorang pegawai negeri gaji bulanannya sebesar Rp 1.000.000, penghasilan lain yang berhubungan dengan pekerjaanya sebagai pegawai negeri adalah Rp 500.000. Untuk kebutuhan sehari-hari yang bersifat pokok, Pardi mengeluarkan uang sebesar Rp 800.000. Sisa gaji Pardi setiap bulannya adalah Rp 700.000,-. Diakhir tahun uang yang dimiliki Pardi adalah 11 x Rp 700.000 + (Rp 1.000.000 + Rp 500.000) =  Rp 9.200.000,-

Jumlah tersebut belum mencapai nisab, karena 1 gram emas murni saat ini senilai Rp 500.000. 94 x Rp 500.000 = Rp 47.000.000. Pardi tidak diwajibkan membayar zakat atas penghasilannya karena total seluruh gaji yang diterima Pardi dalam satu tahun setelah dikurangi biaya kebutuhan pokok tidak mencukupi nisab emas seberat 94 gram.

Zakat Perniagaan
Zakat perniagaan merupakan zakat dari semua jenis usaha seperti, perdagangan, industri, pariwisata, real estate, jasa (notaris, akuntan, biro perjalanan dll.), pendapatan (gaji, insentif, honorarium dll) dan usaha usaha pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. Nilai zakat yang harus dieluarkan adalah 2,5% tiap tahun dari harta senilai 94 gram emas.

Contoh:
Sebuah perusahaan ekspor/impor pada tanggal 1 Syawal 1440 H memiliki modal Rp 700.000.000,- kemudian pada tanggal 1 Syawal pada tahun berikutnya perusahaan tersebut mendapat keuntungan yang tadinya Rp 700.000.000,- menjadi Rp 1.000.000.000,-. Maka zakat yang harus dikeluarkan perusahaan tersebut pada 1 Syawal 1441 adalah Rp 700.000.000,-. Modal perusahaan tersebut sudah cukup haul dan nisabnya.

Sebagai gambaran, harga 94 gram emas murni pada tanggal 1 Syawal 1441 H adalah Rp 500.000,-. 94 x Rp 500.000 = Rp 47.000.000. Zakat yang harus dikeluarkan perusahaan tersebut adalah 2,5% x Rp 700.000.000 = Rp 17.500.000,-

Apabila ditahun berikutnya perusahaan tersebut mendapatkan keuntungan dan modalnya bertambah menjadi Rp 1.000.000.000, maka zakat yang harus dikeluarkan dihitung dari Rp 1.000.000.000, demikian seterusnya.

Zakat Binatang Ternak


Zakat Binatang Ternak

Jika anda memelihara binatang ternak seperti, unta, sapi, kerbau, kuda, kambing dan domba maka wajib bagi anda mengeluarkan zakat apabila sudah mencapai nisab. Nisab zakat binatang ternak menurut syariat adalah sebagai beriut,


























Zakat Tanaman


Zakat Tanaman

Zakat dapi hasil pertanian besarnya zakat adalah 5% jika dalam pengelolaannya memerlukan biaya pengairan (pada musim kemarau) dan 10% jika dalam pengelolaannya tidak memerlukan biaya pengairan (pada musim penghujan). Untuk nisab zakat dari hasil pertanian senilai 1350 Kg gabah atau 750 Kg beras dan dikeluarkan setiap kali panen.

Contoh:
Pak Hadi seorang petani kedelai pada bulan Agustus mengalami panen dan menghasilkan 1500 Kg kedelai. Pada saat menggelola tanaman kedelai terbebut, Pak Hadi memerlukan pengairan menggunakan air dari sumur galian (memerlukan biaya untuk mengelola tanaman kedelai). Zakat yang harus dikeluarkan pak hadi adalah 5% dari perolehan kedelai saat panen. 5 / 100 x 1500 = 75 Kg Kedelai.

Zakat Temuan merupakan zakat dari harta yang berasal dari barang temuan atau bisa juga dikatakan zakat dari harta yang diperoleh dengan tidak sengaja. Besarnya zakat yang harus dikeluaran adalah 20% dari nilai harta yang ditemukan tersebut dan dikeluarkan zakatnya pada saat barang tersebut ditemukan.

Contoh:
Junet seorang pemulung, pada saat memulung menemukan sebuah kotak peti dibawah sebuah pohon besar dengan kondisi peti tersebut hanya terlihat bagian atas dan terlihat seperti ada lobang kunci. Tempat tersebut jarang sekali dilalui oleh orang kerana berada di pinggiran hutan. Setelah Junet mengambil dan membuka peti tersebut, Junet sangat terkejut hingga mau pingsan. Ternyata didalamnya tersimpan banyak sekali uang kuno dan perhiasan mas-masan yang jumlahnya sangat banyak sekali. Jika di uangkan barang tersebut nilainya hampir mencapai 1 Triliyun. Dalam kondisi seperti ini Junet diharuskan membayar zakat sebesar 20% dari nilai barang temuannya tersebut.

Zakat Fitrah (Nafs)

Zakat fitrah

Zakat fitrah atau bisa juga dikatankan sebagai zakat jiwa, termasuk zakat harta. Merupaan kegiatan mengeluarkan sebagian dari makanan pokok (di Indonesia biasanya sembako/beras) menurut ukuran yang ditentukan oleh agama dan diberikan berkenaan dengan telah selesai mengerjakan puasa yang difardlukan (puasa ramadlan). Berkaitan dengan berapakah ukuran makanan pokok yang harus dikeluarkan oleh umat islam? Abi Sa'id al-Khudri menjelaskan "Kami mengeluarkan zakat fitrah dizaman Rasulullah pada hari lebaran fitri satu sa' (2,5 kg atau 3,5 liter) dari makanan". (HR. Buhari). Waktu membagikan zakat fitrah setelah shalat subuh dan sebelum mengerjakan shalat Idul Fitri, selain waktu itu disebut dengan shadaqah.

Amalan Bulan Ramadlan yang Wajib Diketahui

Amalan Bulan Ramadlan yang Wajib Diketahui

My Dock - Puasa Ramadlan merupakan Rukun Islam ke 3 yang wajib dilakukan oleh Umat Islam. Allah SWT pertama kali memerintahkan puasa dalam Q.S Al-Baqarah ayat 183 yang artinya "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa".

Puasa sendiri berarti menahan diri dari semua perbuatan yang membatalkan puasa, makan, minum dan melakukan hubungan suami-istri mulai dari terbit fajar hingga tenggelam matahari di sore hari. Selain menahan diri dari semua perbuatan yang membatalkan puasa, kita juga harus bisa menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama agar puasa kita bisa sempurna.

Tujuan utama dari ibadah puasa adalah untuk meningkatkan kerohanian umat islam menuju puncak kehidupan yang paling tinggi dan mulia menjadi umat islam yang bertakwa. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S Al-Baqarah ayat 183.

Agar puasa Ramadlan kita menjadi lebih sempurna, ada beberapa amalan yang wajib untuk ketahui. Amalan-amalan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Melaksanakan Makan Sahur

Melaksanakan Makan Sahur

Rasulullah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, "Bersahurlah kamu karena makan sahur itu adalah berkahnya." Makan sahur yang baik menurut Rasulullah adalah mendekati waktu Imsa'.

2. Mempercepat Berbuka Apabila Sudah Waktunya

Mempercepat Berbuka Apabila Sudah Waktunya

Rasulullah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, "Manusia senantiasa dalam kebajikan, selama mereka cepat-cepat berbuka puasa". Pada waktu berbuka puasa dianjurkan untuk mendahulukan dengan menyantap hidangan yang manis-manis seperti buah kurma, pisang dan lain sebagainya.

3. Memperbanyak Membaca Al-Qur'an

Memperbanyak Membaca Al-Qur'an

Rasulullah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, "Orang-orang yang berkumpul di Masjid dan membaca Al-Qur'an (dan mempelajarninya), maka Allah SWT akan menurunkan kepada mereka ketenangan batin dilimpahi dengan rahmat." Maksud dari "Membaca" dalam hadis di atas termasuk membaca dengan seksama, mempelajari, menelaah dan lain sebagainya atau terkenal di masayarakat dengan Tadarus.

4. Memperbanyak Sedekah

Memperbanyak Sedekah

Sedekah tidak hanya berupa sedekah harta benda, sedekah banyak sekali macamnya. Ramah kepada orang lain, menolong orang yang sedang kususahan bisa juga dikatan sebagai sedekah. Rasulullah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmizi, "Sedekah yang paling utama ialah sedekah yang dilakukan pada bulan Ramadlan."

5. Melaksanakan shalat Tarawih

Melaksanakan shalat Tarawih

Shalat tarawih merupakan shalat sunah yang dikerjakan hanya pada bulan Ramadlan. Waktu pelaksanaanya setelah shalat isya' hingga sebelum shalat subuh. Shalat tarawih bisa dilakukan dengan berjama'ah atau sendiri, sedang tempatnya boleh di masjid, musholla, dirumah dan tempat lain yang suci. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang melakukan salat malam pada bulan Ramadlan dengan iman kepada Allah dan mengharapkan pahalanya, maka dosanya akan diampuni oleh Allah." (H.R. Abu Hurairah).

6. I'tikaf

I'tikaf

Berdiam diri di masjid dengan melakukan ibadah terutama pada malam dua puluh sampai akhir Ramadlan. Cara melakukan I'tikaf yang baik dan benar, yang harus dilakukan pertama kali adalah dengan melakukan wudu dan dilanjutkan masuk kedalam masjid dan melaksanakan shalat sunah tahiyyatul masjid, terakhir melaksanakan I'tikaf dengan cara berdzikir, membaca Al-Qur'an dan atau melaksanakan shalat sunah lain.

7. Menjauhkan Diri dari Perbuatan Tercela

Menjauhkan Diri dari Perbuatan Tercela

Agar tidak rugi dalam menjalankan ibadah puasa Ramadlan, kita harus pandai dalan bersikap menjauhi semua perbuatan yang membatalkan puasa dan perbuatan yang dilarang oleh Agama. Kadang kita tidak sadar sudah melakukan perbuatan tercela karena perbuatan tersebut biasa dilakukan seperti, membicarakan orang lain, berbohong, berkata kotor dan lain sebagainya. Rasulullah bersabda "Banyak diantara yang berpuasa, tetapi hasilnya hanya lapar dan dahaga." (H.R. Ibnu Huzaimah dari Abu Hurairah).

8. Membayar Zakat Fitrah

Membayar Zakat Fitrah

Zakat Fitrah merupakan sejumlah harta tertentu yang diwajibkn oleh Allah SWT untuk diserahkan kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya dan dilakukan pada akhir bulan Ramadlan sebelum shalat idul Fitri.

Rasulullah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah: "Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan diri orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan busuk serta untuk memberi makan orang miskin. Maka barang siapa yang melakukannya sebelum shalat Id, itulah zakat yang diterima, sedang yang menunaikan zakat sesudah shalat Id, maka hal itu adalah sedekah biasa."

Sumber:
Hidayat, Rachmat Taufiq, dkk. 2000. Almanak Alam Islami: Sumber rujukan Keluarga Muslim Milenium Baru. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
Wikipedia. Saum : https://id.wikipedia.org/wiki/Saum.
Wikipedia. Zakat Fitrah : https://id.wikipedia.org/wiki/Zakat_Fitrah.

Macam-macam Cerai (Thalaq) Dalam Islam

Macam-macam Thalaq :
  • Thalaq Raj’i ialah thalaq yang suami boleh ruju’ kembali, pada bekas istrinya dengan tidak perlu melakukan aqad baru, asal istrinya masih didalam ‘iddahnya seperti thalaq satu dan dua.
  • Thlaq Ba’in ialah thalaq yang suami tidak boleh ruju’ kembali kepada bekas istrinya, melainkan mesti dengan ‘aqad baru.

Thalaq Ba’in ada dua macam :
  • Ba’in Sughra (kecil) seperti thalaq tebus (Khulu’) dan menthalaq istrinya yang belum dicampuri.
  • Ba’in Kubra (besar) yaitu thalaq tiga.
Keterangan :
Pada talaq bain kubra, bekas suami boleh menikah kembali kepada bekas istrinya setelah kawin dengan orang lain dan sesudah dicerai setelah habis ‘iddahnya dari perceraian suami yang kedua. Yang dimaksud suami kedua adalah Muhallil.

Pelaksanaan fasakh nikah harus dilakukan dengan mengajukan tuntutan kepada Pengadilan Agama oleh suami/istri dengan segera setelah mengetahui cacatnya.
  • Fasakh karena belanja :
Istri yang ta’at yang tidak mendapat belanja makan, pakaian atau tempat kediaman sebab suaminya papa, boleh menuntut fasakh kepada Hakim jika ia tidak sabar. Hakim syar’i dapat menfasakhkan nikah itu.
  • Fasakh karena janji :
Perjanjian yang dapat menjadi sebab memfasakh nikah ialah perjanjian yang disebutkan dalam aqad nika, misalnya wali mengijabkan dengan katanya : “Aku nikahkan anakku Fulanah kepadamu dengan janji bahwa ia pandai membaca Al-Qur’an”. Jika ternyata kemudian Fulanah tidak pandai membaca Al-Qur’an dan suami tidak suka menerimanya, maka ia dapat memfasakh nikah tersebut.
  • Fasakh karena mahar :
Istri boleh menuntut fasakh jika suami tidak sanggup membayar mahar yang tunai yang telah disebutkan dalam aqad nikah sedang suami belum lagi bergaul ( qabla dukhul ). Ada lagi fasakh yang disebabkan karena suami hilang, tidak diketahui apakah masih hidup atau sudah mati, sesudah 4 tahun.

Syarat Hewan Yang Bisa Di Kurban

Syarat Hewan Yang Bisa Di Kurban
Powel dan tidak cacat adalah sebagian dari syarat hewan qurban:

(وقوله: جذع ضأن) أي جذع من الضأن، وذلك لخبر أحمد: ضحوا بالجذع من الضأن، فإنه جائز وكلامه صادق بالذكر والانثى والخنثى فيجزئ كل منها لكن الافضل الذكر. وقوله: له سنة أي تم لذلك الجذع سنة، فهي تحديدية. (قوله: أو سقط سنه) أي أو لم يتم له سنة، لكن سقط سنه. والمراد مقدم أسنانه. حاشية إعانة الطالبين - (ج 2 / ص 376)

(Dan ucapan mushanif : kibas umur 4 thun masuk 5 tahun) artinya adalah kibas yang berumur 4 tahun masuk 5 tahun, demikian menurut hadits Imam Ahmad : Berqurbanlah kalian dengan kibas umur 4 tahun masuk 5 tahun”, demikian itu diperbolehkan. Dan ucapannya : Dibenarkan qurban dengan hewan jantan, betina dan banci, maka diperbolehkan semua itu, tetapi utamanya hewan jantan.  Dan ucapan (pengarang kitab), baginya (qurban itu) cukup umur, artinya telah sempurna kibas itu akan umur, maka itu sebagai batasan. (Ucapan : atau sudah copot giginya / powel-Jw.) artinya atau belum sempurna umurnya, tetapi sudah copot giginya. Dan dikendaki adalah gigi serinya (depannya). (Hasyiyah I’anatut Thalibin Juz 2 halaman 376).
قَوْلُهُ : ( أَيْ سَقَطَتْ أَسْنَانُهُ ) هَلْ وَلَوْ وَاحِدَةً وَقِيَاسُ الِاكْتِفَاءِ بِقَطْرَةٍ فِي الْبُلُوغِ بِالِاحْتِلَامِ الِاكْتِفَاءُ بِسُقُوطِ السِّنِّ الْوَاحِدَةِ. ا هـ  .(حاشية البجيرمي على الخطيب - ج 13 / ص 217)
Katanya kupak {powel-Jw.}  : (artinya sudah copot gigi-giginya), apakah mema-dai walaupun satu kupaknya ?. Dan meng-qiyaskan memadai dengan satu tetes air mani pada tanda baligh dengan mimpi jima’, adalah memadai dengan gugurnya gigi yang satu. Selesai.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« لاَ تَذْبَحُوا إِلاَّ مُسِنَّةً إِلاَّ أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِى الصَّحِيحِ
Dari Jabir bin ‘Abdillah ra. ia berkata : Rasulullah Saw, telah bersabda : “Jangan kamu sembelih selain yang musinnah (hewan umur 2 tahun masuk ke 3 tahun), kecuali jika sulit bagi kamu mendapatkannya, maka boleh kamu menyembelih yang jadza’ah ( hewan berumur 4 tahun masuk ke 5 tahun) dari kambing”. HR. Muslim.
عَنِ اَلْبَرَاءِ بنِ عَازِبٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ: - "أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي اَلضَّحَايَا: اَلْعَوْرَاءُ اَلْبَيِّنُ عَوَرُهَا, وَالْمَرِيضَةُ اَلْبَيِّنُ مَرَضُهَا, وَالْعَرْجَاءُ اَلْبَيِّنُ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرَةُ اَلَّتِي لَا تُنْقِي" - رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ. وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ.
Dari Bara’ bin ‘Azib ra. beliau berkata : Rasulullah Saw, berdiri ditengah-tengah kami lalu bersabda : “Empat macam hewan yang tidak boleh untuk berkorban : Yang juling (pece-Jw.) yang nyata-nyata julingnya, yang sakit yang nyata-nyata sakitnya, yang pincaang yang nyata-nyata pincangnya dan yang banyak umurnya yang tidak mempunyai sum-sum / lemak (kurus)”.HR. Ahmad, Abu Dawud,   Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Hibban.

Menurut hadits ini dapat diambil pengertian sebagaimana yang diterangkan di dalam kitab “Al-Bahru” ; dimaafkan apabila mata yang cacat itu hanya sepertiga saja dan yang kurang dari itu. Begitu pula yang pincang sedikit yang tidak sampai mengganggu jalannya dan mengakibatkan tidak ada nafsu makan karena pincangnya itu sehingga menjadi kurus. Selain empat cacat tersebut diatas asal tidak lebih berat cacatnya, maka hal itu dima’afkan, dan syah sebagai qurban.
Hewan yang terpotong ekornya yang tebal dan ujung ekornya, maka sungguh sah dijadikan hewan qurban, dengan dasar dalil haditsnya Nabi Saw :
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ قَالَ اِشْتَـرَيْتُ كَبْشًا ِلأُضَحِيَّ بِهِ فَعَدَّا الذِّئْبُ فَأَخَذَ مِنْهُ اْلأَلِيَةَ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقاَلَ ضَحِ بِهِ. رواه أحمد وابن ماجه والبيهقي.
Dari Abu Sa’id ia berkata : Saya membeli seekor kibasy untuk saya qorbankan, lalu seekor serigala berlari-lari mendekatinya kamudian memakan ekor tebalnya kibasy itu. Aku tanyakan pada Nabi Saw, tentang hal ini.  Maka jawab Nabi Saw, : Berqorbanlah dengan kibasy itu. HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Baihaqiy.
عَنْ عُتْبَةَ بْنَ عَبْدٍ السُّلَمِىَّ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ  عَنِ الْمُصْفَرَّةِ وَالْمُسْتَأْصَلَةِ وَالْبَخْقَاءِ وَالْمُشَيَّعَةِ وَالْكَسْرَاءِ فَالْمُصْفَرَّةُ الَّتِى تُسْتَأْصَلُ أُذُنُهَا حَتَّى يَبْدُوَ سِمَاخُهَا وَالْمُسْتَأْصَلَةُ الَّتِى اسْتُؤْصِلَ قَرْنُهَا مِنْ أَصْلِهِ وَالْبَخْقَاءُ الَّتِى تَبْخَقُ عَيْنُهَا وَالْمُشَيَّعَةُ الَّتِى لاَ تَتْبَعُ الْغَنَمَ عَجْفًا وَضَعْفًا وَالْكَسْرَاءُ الْكَسِيرَةُ. رواه ابو داود والحاكم
Dari ‘Utbah bin ‘Abdis Sulamiy berkata : Rasulullah Saw, telah melarang qurban dari hewan Mushfirah, Musta’shilah, Bahqa’, Musyaya’ah dan Kasra’. Adapun Mushfirah adalah yang putus telinga hingga pangkal, Musta’shilah yaitu yang patah tanduknya hingga pangkal, Bahqa’ yaitu yang sakit matanya, Musyaya’ah yaitu yang tidak dapat mengikuti kawannya karena kurus dan lemahnya, Kasra’ yaitu yang patah kakinya. HR. Abu Dawud dan Al-Hakim.

Hukum Arisan Qurban Dalam Islam

Hukum Arisan Qurban Dalam Islam - Arisan itu pada hakekatnya diperbolehkan, selagi tidak ada gharar di dalam pelaksanaannya dan saling bertanggung jawab, apa itu arisan berbentuk uang maupun barang. 

Begitu pula arisan qurban itu boleh dan sah dan tidak termasuk riba, sekalipun harga hewan qurban itu tidak menetap setiap tahunnya, sebab yang dimaksudkan bukan arisan uang qurban, tetapi arisan manfa’at/hak qurban. Sedangkan manfa’at, termasuk sesuatu yang berharga (mutaqowwan) yang sah dihutangkan.

إذَا كانت على كل وَاحِدٍ منهم شَاةٌ لِأَنَّ هذا في مَعْنَى الشَّاةِ وَلَوْ أَخْرَجَ كُلُّ وَاحِدٍ منهم حِصَّتَهُ من ثَمَنِهَا أَجْزَأَتْ عَنْهُم. الأم - (ج 2 / ص  222
Apabila ada atas tiap-tiap satu orang dari mereka itu seekor kambing, karena sesungguhnya demikian ini di dalam artian seekor kambing, dan sekalipun tiap-tiap seorang dari mereka mengeluarkan perhitungannya dari harga seekor kambing maka telah mencukupi dari mereka.

فرع : اَلْجُمْعَةُ الْمَشْهُوْرَةُ بَيْنَ النِّسَاءِ بِأَنْ تَأْخُذَ امْرَأَةٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فِي كُلِّ جُمْعَةٍ أَوْ شَهْرٍ وَتَدْفَعُهُ لِوَاحِدَةٍ بَعْدَ وَاحِدَةٍ , إِلَى آَخِرِهِنَّ جَائِزَةٌ كَماَ قَالَهُ الْوَلِيُّ الْعِرَاقِي. حاشية قليوبي - (ج 2 / ص( 321
( Furu’ ) Hari Jum’at itu dimasyhurkan diantara para wanita, bilamana seorang perempuan telah mengambil (bagiannya/ betho’an) dari seorang dari jama’ah perempuan itu akan ukuran yang ditentukan pada setiap jum’at atau setiap bulan, dan menyerahkannya untuk seorang setelah seorang lainnya (gilirannya), sampai perempuan yang terakhir (dari jama’ah) itu diperbolehkan, sebagaimana yang di ucapkan Al-Waliyul ‘Iraqiy. ( Hasyiyah Qolyubiy. Juz : II halaman : 321 ).

Hewan Yang Dinadzarkan Untuk Berqurban Ternyata Terdapat Cacat

Hewan Yang Dinadzarkan Untuk Berqurban Ternyata Terdapat Cacat - Bilamana seekor hewan telah dita’yinkan untuk dijadikan sembelihan qurban, seumpama pemilik hewan itu mengatakan : “Ini adalah kambing qurban saya”, maka jadilah qurban itu qurban mu’ayyan atau qurban wajib, tidak boleh si pemilik kambing itu dan sekeluarga ikut memakan daging dari kambing qurban wajibnya tersebut.

Dan apabila ternyata terdapat cacat pada kambing yang di mu’ayyankan tadi sekalipun parah cacatnya wajiblah kambing itu disembelih sebagai qurbannya, dan tidak boleh diganti dengan yang lainnya, karena sudah ta’yin. 

( قوله ولو نذر التضحية بمعيبة إلخ ) أفاد بهذا أنه لو نذر التضحية بسليمة ثم حدث فيها عيب ضحى بها وثبت لها سائر أحكام التضحية.) إعانة الطالبين -  ج 2 / ص 332)

(Dan kata mushanif, jika seseorang bernadzar akan berqurban dengan hewan yang cacat, telah mengambil faedah dengan ini jika seseorang bernadzar akan berqurban dengan hewan yang tidak cacat, kemudian ternyata terdapat cacat maka berqurbanlah dengannya, dan tetap baginya berlaku seluruh hukum qurban.
(I’anatut Thalibin – Juz 2 halaman 233).

النَّوْعُ الرَّابِعُ الْأَكْلُ  من الْأُضْحِيَّةِ وَالْهَدْيِ أَيْ حُكْمُهُ فَلَا يَجُوزُ الْأَكْلُ من دَمٍ وَجَبَ بِالْحَجِّ وَنَحْوِهِ كَدَمِ تَمَتُّعٍ وَقِرَانٍ وَجُبْرَانٍ وَلَا من أُضْحِيَّةٍ وَهَدْيٍ وَجَبَا بِنَذْرٍ مُجَازَاةً كَأَنْ عَلَّقَ الْتِزَامَهُمَا بِشِفَاءِ الْمَرِيضِ وَنَحْوِهِ لِأَنَّهُ أَخْرَجَ ذلك عن الْوَاجِبِ عليه فَلَيْسَ له صَرْفُ شَيْءٍ منه إلَى نَفْسِهِ كما لو أَخْرَجَ زَكَاتَهُ فَلَوْ وَجَبَا بِمُطْلَقِ النَّذْرِ أَيْ بِالنَّذْرِ الْمُطْلَقِ وَلَوْ حُكْمًا بِأَنْ لم يُعَلِّقْ الْتِزَامَهَا بِشَيْءٍ كَقَوْلِهِ لِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهَذِهِ الشَّاةِ أو بِشَاةٍ أو أُهْدِيَ هذه الشَّاةَ أو شَاةً أو جَعَلْت هذه أُضْحِيَّةً أو هَدْيًا أَكَلَ جَوَازًا من الْمُعَيَّنِ ابْتِدَاءً كَالتَّطَوُّعِ. أسنى المطالب في شرح روض الطالب - (ج 1 / ص 545)

Macam ketentuan hukum yang ke empat, adalah memakan daging qurban. Tidak boleh memakan daging hewan yang disembelih untuk memenuhi Dam yang wajib dibayar ketika ibadah haji, seperti haji Tamathu’ atau Qiron dan tidak boleh pula memakan daging hewan qurban wajib, seperti qurban nadzar yang dikaitkan dengan keberhasilan atau perolehan sesuatu, seperti dikaitkan dengan sembuh dari sakit dan sebagainya. Karena hukum mengeluarkannya wajib, maka tidak boleh ikut menikmatinya, seperti seseorang yang mengeluarkan zakat. Apabila nadzar yang dilakukan adalah Muthlaq, seperti ia mengatakan : Aku harus qurban dengan kambing ini, atau kambing ini akan saya sembelih sebagai qurban, maka bagi yang melakukannya boleh ikut memakan dagingnya, sebagaimana seseorang yang melakukan qurban sunah, maka ia boleh ikut memakan dagingnya. ( Asnal Matholib fi Syarhi Roudlatut Tholib Juz : I halaman : 545 ).

وقال السيد عمر: ما نصه ينبغي أن محله أي التعيين بقوله هذه أضحية ما لم يقصد الاخبار بأن هذه الشاة التي أريد التضحية بها فإن قصده فلا تعيين وقد وقع الجواب كذلك في نازلة رفعت لهذا الحقير وهي أن شخصا اشترى شاة للتضحية فلقيه شخص فقال ما هذه ؟ فقال أضحيتي اه. حواشي الشرواني والعبادي - (ج 9 / ص 356)

Dan Sayid ‘Umar telah mengatakan : dimana nashnya (pernyataannya) sebaiknya adalah tempatnya yaitu ta’yin dengan ucapan “Ini untuk qurban” selagi tidak bermaksud mengkhabarkan, dengan sesungguhnya kambing ini yang  aku kehendaki untuk qurban, maka jika yang dimaksudkan mengkhabarkan maka tidak ta’yin dan sungguh yang terjadi jawaban demikian itu hilanglah cela ini. Dan dia itu adalah, apabila seseorang membeli kambing untuk qurban, lalu ketemu seseorang, kemudian orang itu bertanya : Untuk apa kambing ini ? lalu ia jawab : Untuk qurbanku. ( Hawasyi As-Syarwani wal ‘Ibadiy : Juz : IX halaman : 356 ).

Jadi umpama orang mengatakan kambingku ini akan aku jadikan qurban, apabila orang itu tidak ada niyat nadzar dan hanya niyat mengkhabarkan saja, maka orang itu harus berqurban dengan kambing itu, dan boleh dia menikmati daging qurbannya. Begitu pula seumpama orang beli kambing, dia ditanya orang lain : “Untuk apa beli kambing ?”, dia jawab : “Untuk qurban”. Jika jawaban itu tidak ada niyat nadzar, maka tidak terjadi nadzar, dan boleh dia menikmati daging qurbannya. 

Hukum Menjual Daging Kurban

Salam Bloging... Pada hari raya Idul Adha (hari raya qurban) tahun ini saya menemukan ada beberapa umat muslim yang menjual daging qurban milik mereka. Umat muslim menjual daging qurban tersebut dikarenakan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah umat musli tersebut membutuhkan uang dibandingkan dengan daging qurban, selain itu juga karena banyaknya daging qurban yang diterima oleh umat muslim tersebut sehingga kuwalahan untuk mengolahnya. Permasalahan ini timbul di masyarakat karena kebutuhan hidup masyarakat yang semakin meningkat selain itu juga semakin banyaknya hewan yang diqurbankan dan tempat penyembelihan hewan qurban. Dari permasalahan tersebut menimbulkan sebuah pertanyaan yaitu Bagaimanakah hukum menjual daging qurban tersebut di dalam hukum islam?

Jawaban dari permasalahn yang terjadi di masyarakat tersebut adalah sebagai berikut. Menjual kulit hewan qurban tidak diperbolehkan kecuali oleh orang yang berhak menerimanya.

Qs. Al-Haj ayat 36

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam Keadaan berdiri (dan telah terikat). kemudian apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur. QS. Al-Haj : 36.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلاَ أُضْحِيَّةَ لَهُ ».رواه البيهقي والديلمي وصححه الحاكم

Dari Abu Hurairah ra. Berkata : Rasulullah Saw, telah bersabda : “Barangsiapa yang menjual kulit binatang kurbannya, maka ia tidak memperoleh kurban apapun”. HR. Al-Baihaqiy dan Ad-Dailamiy dan dishahihkannya oleh Imam Al-Hakim.

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَعَثَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُمْتُ عَلَى الْبُدْنِ فَأَمَرَنِي فَقَسَمْتُ لُحُومَهَا ثُمَّ أَمَرَنِي فَقَسَمْتُ جِلَالَهَا وَجُلُودَهَا. رواه البخاري

Dari ‘Ali ra, berkata : Nabi Saw, telah mengutusku, agar aku mengurus atas qurban unta, lalu beliau memerintahku agar aku bagikan dagingnya, lalu memerintahku agar aku bagikan kotorannya dan kulitnya.HR. Al-Bukhariy.

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ - رضي الله عنه - قَالَ:  أَمَرَنِي اَلنَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم  أَنَّ أَقْوَمَ عَلَى بُدْنِهِ, وَأَنْ أُقَسِّمَ لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلَالَهَا عَلَى اَلْمَسَاكِينِ, وَلَا أُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا مِنْهَا شَيْئاً - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ (صحيح. رواه البخاري : 1707 ، ومسلم : 1317) .

Dari ‘Ali bin Abi Thalib ra, berkata : “Rasulullah Saw, memerintahkan saya untuk mengurus hewan-hewan qurbannya dan supaya saya membagikan daging-daging, kulit dan kotorannya kepada orang-orang miskin dan tidak boleh saya berikan sedikitpun dari bagian hewan qurban itu untuk upah penyembelihannya”. HR. Bukhariy-Muslim. (hadits diriwayatkan al-Bukhariy hadits nomor : 1.707 dan Muslim hadits nomor : 1.317 ).

Dalam hadits ini jelas tidak ada perintah menjual daging, kulit sampai kotorannya hewan qurban, yang ada perintah membagikan semuanya kepada orang yang berhak menerimanya.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa hewan qurban itu dishadaqahkan kulit-kulit dan kotorannya (untuk pupuk), sebagaimana dishadaqahkan daging-dagingnya. Dan tidak boleh pula penyembelih (jagal) qurban itu diberi sedikitpun dari daging atau lainnya dari binatang qurban sebagai upah penyembelihannya. Namun ‘Ali ra. memberi daging qurban kepada penyembelih itu diambilkan dari bagian yang sudah diterima oleh Sayidina ‘Ali ra. seperti yang dikisahkan pada hadits berikut :

عَنْ عَلِىٍّ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَقْسِمَ جُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا وَأَمَرَنِى أَنْ لاَ أُعْطِىَ الْجَازِرَ مِنْهَا شَيْئًا وَقَالَ :« نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا ». رواه ابو داود والبيهقي وابى عوانة وابو يعلى الموصلي وابن عساكر. (قال حسين سليم أسد : إسناده صحيح)

Dari ‘Ali ra, berkata : “Rasulullah Saw, memerintahkan saya untuk mengurus hewan-hewan qurbannya dan supaya saya membagikan kulit dan kotorannya dan memerintahkan saya  supaya tidak memberikan sedikitpun dari bagian hewan qurban itu untuk upah penyembelihannya”. Dan ‘Ali berkata : “Kami memberinya dari bagian kami”. HR. Abu Dawud, al-Baihaqi, Abi ‘Awanah, Abu Ya’la al-Mushiliy dan Ibnu ‘Asakir. (Husain Salim Asad berkata : Sanadnya hadits ini Shahih).

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ هَذَا الْحَرْفَ (فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافِنَ) يَقُولُ : مَعْقُولَةً عَلَى ثَلاَثٍ يَقُولُ بِاسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ قَالَ فَسُئِلَ عَنْ جُلُودِهَا فَقَالَ : يَتَصَدَّقُ بِهَا أَوْ يَنْتَفِعُ بِهَا. رواه البيهقي

Dari Ibnu ‘Abbas : Bahwa Nabi Saw, adalah membaca ini huruf ( Maka sebutlah olehmu nama Alloh ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri). Ia berkata : Diikatnya (qurban) itu atas tiga ikatan, lalu beliau berdo’a : “Dengan menyebut asma Alloh, dan Alloh itu Maha Besar, wahai Alloh ini (qurban) dari-Mu dan untuk-Mu”. Ibnu ‘Abas berkata : Kemudian ditanyakan tentang kulit qurban itu. Lalu jawab Nabi : “Kulit itu dishadaqahkan atau dimanfa’atkan”. HR. Al-Baihaqiy.

Artinya kulit qurban itu bisa digunakan untuk sesuatu yang ada manfa’atnya, umpama untuk kriba (wadah air), rebana, bedug dan lainnya, bukan dalam artian dapat dijual. 

عَنْ قَتَادَةَ بْنَ النُّعْمَانِ فَأَخْبَرَهُ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَامَ، فَقَالَ: "إِنِّى كُنْتُ أَمَرْتُكُمْ أَنْ لا تَأْكُلُوا الأَضَاحِىَّ فَوْقَ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ لِتَسَعَكُمْ، وَإِنِّى أُحِلُّهُ لَكُمْ، فَكُلُوا مِنْهُ مَا شِئْتُمْ، وَلاَ تَبِيعُوا لُحُومَ الْهَدْىِ وَالأَضَاحِىِّ، فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَاسْتَمْتِعُوا بِجُلُودِهَا وَلاَ تَبِيعُوهَا، وَإِنْ أُطْعِمْتُمْ مِنْ لَحْمِهَا فَكُلُوا إِنْ شِئْتُمْ.  رواه ابي يعلى الموصلي.

Dari Qatadah bin an-Nu’man mengkabarkannya, bahwa Nabi Saw, berdiri, kemudian bersabda : “Sungguh aku perintahkan kalian, agar jangan sampai kalian makan daging qurban melebihi tiga hari agar leluasa kamu dan aku menghalalkannya bagimu, maka makanlah kamu dari daging qurban itu sesukamu dan jangan kamu jual dagingnya sembelihan hadiyah dan qurban. Sama makanlah dan shadaqahkan dan manfa’atkan kulitnya dan jangan kamu jual kulitnya itu, jika kalian ingin makan dagingnya, makanlah sekehendakmu. HR.Abi Ya’la al-Mushiliy.

Diperbolehkan bagi orang yang berkurban sunah itu untuk memakan daging dari hewan kurbannya, tetapi sekalipun dalam hadits diatas disebutkan “makanlah sekehendakmu”, tidak berarti terus kita makan sekendak kita dan tidak dibagikan untuk orang lain, namun kita boleh mengambil sepertiga dari daging hewan kurban itu untuk kita.

Sumber : Moh Cholil

Cegatan dalam Khataman Al-Qur'an

Cegatan dalam Khataman Al-Qur'an - Khataman Al-Quran merupakan sebuah kegiatan keislaman yang dilakukan diwaktu-waktu tertentu. Kegiatan khataman Al-Qur'an ini dilakukan untuk memperingati hari-hari besar agama islam ataupun yang lainnya. Kata Khataman berasal dari kata khatam yang berarti telah selesai, tamat atau habis. Sedangkan khataman Al-Qur'an berarti telah selesai dalam membaca ataupun mengkaji Al-Qur'an. 

Dalam praktek dilapangan kegiatan Khataman Al-Qur'an bisa selesai dalam waktu satu hari, mulai dari habis subuh sampai habis magrib apabila dilakukan oleh seorang khafidz. Akan tetapi apabila dilakukan oleh orang biasa (bukan seorang Khafidz al-Qur'an) kegiatan khataman ini tidak selesai apabila dikerjakan dalam waktu sehari. Maka dari itu dalam masyarakat sering didengar kata cegatan dalam membaca Al-Qur'an. Dengan sering dilakukan cegatan dalam membaca Al-Qur'an, banyak sekali masyarakat yang bertanya masalah itu. Apakah sistim cegatan itu diperbolehkan, artinya mereka baca Al-Qur’an bersama-sama dengan bagian juznya masing-masing?

Jawab :
Kegiatan cegatan dalam khataman Al-Qur'an itu boleh dilakukan dan bahkan disunahkan untuk melakukan cegatan. Hal ini didasarkan dalam sebuah hadis dibawah ini.

وفضل القارئين من الجماعة والسامعين: أعلم أن قراءة الجماعة مجتمعين مستحبة بالدلائل الظاهرة وأفعال السلف والخلف المتظاهر فقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم من [ رواية أبي هريرة قال [ ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله تعالى يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده ] رواه مسلم و أبوداود باسناد صحيح على شرط البخاري و مسلم. أرشيف ملتقى أهل التفسير - (ج 1 / ص 175)

Fadlilahnya Siwakan atau Sikat Gigi

عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يُفَضِّلُ الصَّلاَةَ الَّتِي بِسِوَاكٍ عَلَى الصَّلاَةِ الَّتِي لاَ سِوَاكَ لهَا سَبْعِينَ ضِعْفًا. رواه أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَل والبزار وابن خزيمة وأَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيِّ والحاكم

Dari ‘Aisyah ia berkata : Adalah Rasulullah SAW, telah bersabda : “Dilebihkan pahala shalat dengan bersiwak atas shalat yang tidak siwakan terlebih dahulu dengan tujuh kali lipatan”. HR. Ahmad bin Hanbal, al-Bazar, Ibnu Khuzaimah, Abu Ya’la Al-Maushiliy dan Al-Hakim.[1]

عَنْ أَبِي بَكْرٍ - رَضِيَ الله عَنْهُ - سَمِعْتُ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم ، يَقُولُ : السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ. رواه أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيِّ

Dari Abu Bakar ra, berkata : aku pernah Rasulullah SAW, bersabda : “Siwakan (sikat gigi) itu dapat membersihkan mulut, dan dicintai Alloh”. HR. Abu Ya’la al-Maushiliy.[2]

-----------------------------------
  1. Ittihaaful Khairaatil Mahirah, Juz : 2 halaman : 151. Maktabah Syamilah.
  2. Ittihaaful Khairaatil Mahirah, Juz : 1 halaman : 288. Maktabah Syamilah.

Ziarah Kubur Nabi SAW

Ziarah Kubur Nabi SAW - Ziarah kubur itu disamping menjadi kebiasaan Nabi Saw, beliau juga telah berpesan kepada umatnya agar mereka juga menziarahi kubur beliau setelah beliau meninggal dunia ( wafat ), sebagaimana keterangan hadits di bawah ini :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ, قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  :مَنْ زَارَ قَبْرِي بَعْدَ مَوْتِي كَانَ كَمَنْ زَارَنِي فِي حَيَاتِي. رواه الطبراني

Dari Ibnu ‘Umar, berkata : Rasulullah Saw telah bersabda : Barangsiapa ziarah ke kuburku setelah matiku, seakan-akan orang itu ziarah kepadaku diwaktu hidupku. HR. At-Thabraniy. (1)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ , عَنِ النَّبِيِّ  , قَالَ : مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِي بَعْدَ وَفَاتِي كَانَ كَمَنْ زَارَنِي فِي حَيَاتِي. رواه الطبراني والبيقي والدارقطني

Dari Ibnu ‘Umar dari Nabi Saw, bersabda : Barangsiapa naik haji lalu ziarah ke kuburku setelah matiku, seakan orang itu ziarah kepadaku diwaktu hidupku. HR. At-Thabraniy, Al-Baihaqiy dan Ad-Daraquthniy. (2)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ زَارَ قَبْرِى وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِى ». رواه الدارقطني

Dari Ibnu ‘Umar, berkata : Rasulullah Saw telah bersabda : Barangsiapa ziarah ke kuburku, wajib ia mendapat syafa’atku. HR. Ad-Daraquthniy dan Al-Baihaqiy. (3)

------------------------------------
  1. Al-Mu’jamul Kabir li At-Thabraniy, Juz 11 halaman 36 nomor 1.334. Maktabah Syamilah. CD. Com.
  2. Al-Mu’jamul Kabir li At-Thabraniy, Juz 11 halaman 218 nomor 411 – Al-Mu’jamul Ausath li At-Thabraniy, Juz 7 halaman 490 nomor 3.507 – As-Sunanul Kubra li Al-Baihaqiy, Juz 5 halaman 246 – Syu’bul Iman li Al-Baihaqiy, Juz 9 halaman 188 – Sunan Ad-Daraquthniy, Juz 6 halaman 472 nomor 2.725. Maktabah Syamilah. CD. Com.
  3. Sunan ad-Daraquthniy, Juz 6 halaman 474 nomor 2.727 – Syu’bul Iman li Al-Baihaqiy, Juz 9 halaman 192. Maktabah Syamilah. CD. Com.

Amalan Ziarah Kubur

Amalan Ziarah Kubur - Amalan ziarah kubur adalah merupakan sunah Rasulullah Saw, dan beliau sendiri telah melakukannya dan mengajarkannya kepada segenap para shahabat tentang tatacara mereka melakukan ziarah kubur, dimasa Rasulullah Saw, belum meninggal dunia.
Ziarah kubur merupakan perintah dari Alloh kepada Nabi Muhammad Saw, melalui Malaikat Jibril sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits :

عَنْ عَائِشَةُ أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ عَنِّي وَعَنْ رَسُولِ اللَّهِ  قَالَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَقَالَ إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيعِ فَتَسْتَغْفِرَ لَهُمْ قَالَتْ قُلْتُ كَيْفَ أَقُولُ لَهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُولِي السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلاَحِقُونَ. رواه أحمد و مسلم وابن حبان.

Dari ‘Aisyah berkata : Ingatlah aku ceritakan pada kalian (para shahabat) dari aku dan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda : Bahwa malaikat Jibril mendatangiku lalu berkata : Sungguh Tuhanmu  memerintah kamu (Muhammad) untuk mendatangi (ziarah) makam ahli Baqi’, maka kamu mintakan ampun mereka (ahli kubur Baqi’). Kata ‘Aisyah : Aku bertanya : Bagaimana yang aku ucapkan pada mereka (ahli kubur Baqi’) wahai Rasulullah ?. Jawab Rasulullah : Bacalah ;


السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلاَحِقُونَ
.

Kesejahteraan buat kalian wahai penghuni kubur orang mukmin dan orang muslim, semoga Alloh menyayangi kalian, baik yang terdahulu maupun yang terbelakang, dan jika Alloh menghendaki kami pasti akan menyusul kalian. HR. Ahmad, Muslim dan An-Nasa’iy.(1)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّه ِ :"مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ غُفِرَ لَهُ وَكُتِبَ بَرًّا". رواه الطبراني والبيهيقي
.

Dari Abu Hurairah, berkata : Rasulullah Saw, telah bersabda : Barangsiapa ziarah kubur kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada tiap hari Jum’at, di ampuni dosa baginya dan dicatat berbakti (kepada keduanya). HR. At-Thabraniy dan Al-Baihaqiy. (2)

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ التَّيْمِيِّ قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ  يَأْتِي قُبُوْرَ. رواه عبد الرزاق

Dari Muhammad bin Ibrahim at-Taimiy, berkata : Adalah Nabi Saw, juga mendatangi pekuburan (ziarah). HR. Abdurrazaq. (3)

Baca juga artikel Ziarah Kubur Nabi SAW
-------------------------------------------
  1. Musnad Ahmad, Juz 52 halaman 328 nomor 24.671 – Shahih Muslim, Juz 5 halaman 102 nomor 1.619 – Sunan al-Kubra Li an-Nasa’iy, Juz 1 halaman 656 nomor 2.164. Maktabah Syamilah. CD. Com.
  2. Al-Mu’jamul Kabir li At-Thabraniy, Juz 19 halaman 85 nomor 193 – Al-Mu’jamul Ausath li At-Thabraniy, Juz 13 halaman 371 nomor 6.293 – Syu’bul Iman li Al-Baihaqiy, Juz 16 halaman 418. Maktabah Syamilah. CD. Com.
  3. Mushnaf Abdurrazaq, Juz 3 halaman 573 nomor 6.716. Maktabah Syamilah. CD. Com.

Fadhilah Menjauhi Barang Najis dan Kotor

انّما حرّم عليكم الميتة والدّم ولحم الخنزير وما أهلّ به لغير الله, فمن اضطرّ غير باغ ولا عاد فلا اثم عليه, انّ الله غفور رّحيم.

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah [1]. Tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Q.S [2] Al-Baqarah : 173.

يأيّها االّذين ءامنوا انّما الخمر والميسر ولأنصاب والأزلم رجس من عمل الشّيطن فاجتنبوه لعلّكم تفلحون

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah [2], adalah najis (kotor) termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Q.S [5] Al-Maidah : 90.

عَنْ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم "لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ وَدَمٌ نَبَتاَ مِنْ نَجِسٍ".  رواه البيهقي فى شعب الإيمان.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata : Nabi SAW, telah bersabda : “Tidak akan dapat masuk sorga daging dan darah (manusia) yang tumbuh keduanya dari makanan yang najis”. HR. Al-Baihaqiy didalam kitab Syu’bul Iman.[3]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم "وَاَّلذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لِأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ تُراَباً فَيَجْعَلَهُ فِي فَيْهِ خَيْـرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْعَلَ فِي فَيْهِ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ" . رواه الحاكم في تاريخه.

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Nabi SAW, telah bersabda : “Demi nyawaku yang ada pada tangan-Nya, hendaklah seseorang itu mengambil debu dan di masukkan ke mulutnya itu lebih baik, daripada ia memasukkan pada mulutnya sesuatu yang diharamkan oleh Alloh”. HR. Al-Hakim di dalam Tarikhnya.[4]


عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الله رَضِيَ الله عَنْهُمَا ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ :  يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ : لاَ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ. رواه احمد

Dari Jabir bin ‘Abdullah ra, bahwa Nabi SAW, telah berkata kepada Ka’ab bin ‘Ujrah : “Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah : Tidak akan dapat masuk sorga daging (manusia) yang tumbuh dari makanan yang kotor”. HR. Ahmad.[5]

عَنْ عِيَاضٍ بن غَنْمٍ، سَمِعْتُ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يَقُولُ : مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، فَإِنْ مَاتَ فَإِلَى النَّارِ، فَإِنْ تَابَ قَبِلَ الله مِنْهُ، فَإِنْ شَرِبَهَا الثَّانِيَةَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، فَإِنْ مَاتَ فَإِلَى النَّارِ، فَإِنْ تَابَ قَبِلَ الله مِنْهُ، فَإِنْ شَرِبَهَا الثَّالِثَةَ أَوِ الرَّابِعَةَ كَانَ حَقًّا عَلَى الله أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ رَدْغَةِ الْخَبَالِ، قِيلَ : يَا رَسُولَ الله، وَمَا رَدْغَةُ الْخَبَالِ ؟ قَالَ : عُصَارَةُ أَهْلِ النَّارِ. رواه أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيِّ
.

Dari ‘Iyadl bin Ghonmin berkata : aku pernah mendengar Rasulullah SAW, bersabda : “Barangsiapa minum khomer (arak) tidak diterima baginya shalat selama 40 hari, jika ia mati maka ke neraka, apabila ia taubat Alloh menerima taubatnya. Jika meminumnya yang kedua kali, tidak diterima baginya shalat selama 40 hari, jika ia mati maka ke neraka, apabila ia taubat Alloh menerima taubatnya. Jika meminumnya yang ketiga kali atau ke empat kalinya, itu adalah hak Alloh untuk meminuminya dari lumpur racun. Ditanyakan : Wahai Rasul Alloh, apakah lumpur racun itu ?. Jawab Rasul : Air perahan penduduk neraka”. HR. Abu Ya’la al-Maushiliy.[6]

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيْدٍ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ : مَنْ شَرِبَ مُسْكِراً مَا كَانَ لَمْ يَقْبَلِ اللهُ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا. رواه الطبراني

Dari Saib bin Yazid, bahwa Rasulullah SAW, telah bersabda : “Barangsiapa minum sesuatu yang memabukkan seperti itu adanya Alloh tidak akan menerima baginya shalat selama 40 hari”. HR. At-Thabraniy.[7]

Baca juga artikel tentang Fadlilahnya Siwakan atau Sikat Gigi
----------------------------------
  1. Haram juga menurut ayat ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.
  2. Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan Apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya Ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing Yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah. bila mereka hendak melakukan sesuatu Maka mereka meminta supaya juru kunci ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti Apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, Maka undian diulang sekali lagi.
  3. Kanzul ‘Umal fi Sunanil Aqwali wal ‘Af’al, Juz : 4 halaman : 16 nomor hadits : 9.273
  4. Kanzul ‘Umal fi Sunanil Aqwali wal ‘Af’al, Juz : 4 halaman : 16 nomor hadits : 9.274
  5. Ittihaaful Khairaatil Mahirah, Juz : 5 halaman : 52. Maktabah Syamilah.
  6. Ittihaaful Khairaatil Mahirah, Juz : 4 halaman : 383. Maktabah Syamilah.
  7. Al-Mu’jamul Kabir li At-Thabraniy, Juz : 7 halaman : 154. Maktabah Syamilah.



Talqin untuk Orang yang Sudah Meninggal Dunia

Talqin untuk orang yang sudah meninggal dunia - Mentalqin orang yang akan wafat dengan kalimat “Laailaaha illallaah” dan dibacakan surat “Yasin” untuk orang yang sudah mendekati kematiaannya adalah disunahkan dan dapat pahala bagi orang yang membacakannya. Begitu pula disunahkan mentalqin orang yang sudah meninggal dunia dan telah dikuburkannya, diberi pahala orang yang mengerjakannya dan berfaidah pula untuk mayit yang ditalqinkannya sebagaimana yang pernah di lakukan oleh Nabi Muhammad Saw, ketika meninggalnya seorang shahabat Anshor.


عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ  فِي جَنَازَةِ رَجُلٍ مِنْ اْلأَنْصَارِ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ وَلَمَّا يُلْحَدْ فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ  وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ كَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرُ وَفِي يَدِهِ عُودٌ يَنْكُتُ بِهِ فِي اْلأَرْضِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا زَادَ فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ هَاهُنَا وَقَالَ وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ حِينَ يُقَالُ لَهُ يَا هَذَا مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ  قَالَ هَنَّادٌ قَالَ وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنِ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ دِينِيَ اْلإِسْلاَمُ فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ قَالَ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ  فَيَقُولاَنِ وَمَا يُدْرِيكَ فَيَقُولُ قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآَمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ زَادَ فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ{ يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا }. رواه ابو داود

Dari Bara’ bin ‘Azib berkata: Kami bersama Rasulullah Saw, mengan tar jenazahnya seorang lelaki dari shahabat Anshor lalu kami sampai di pekuburan, setelah dikuburkan lalu Rasulullah Saw, duduk dan kamipun duduk disekitar beliau, seakan-akan diatas kepala kami suara burung dan ditangan Nabi sebuah tongkat yang ditancapkan kebumi lalu beliau mengangkat kepala beliau seraya bersabda : Sama mintakanlah perlindungan kepada Alloh dari siksa kubur, diulanginya 2 x atau 3 x. Ditambahkan didalam haditsnya Jarir disini, dan beliau bersabda : Sesungguhnya mayit itu dapat mendengar suara sandal mereka ketika mereka (pentakziah) meninggalkan pekuburan. Ketika itu di tanyalah dia (mayit) itu : Siapa Tuhanmu?, apa agamamu? dan siapa Nabimu?. Hanad telah berkata : kata dia dan mayit itu didatangi 2 Malaikat,keduanya mendudukkan mayit itu lalu keduanya bertanya : siapa Tuhanmu ? jawabnya:Tuhanku Alloh. Keduanya bertanya : Apa agamamu?, jawabnya : Agamaku Islam, keduanya bertanya : Siapa seorang yang diutus kepadamu?, jawabnya : Dia adalah Rasululloh Saw, keduanya bertanya:apa yang kamu pedomani?, jawabnya : Aku membaca Kitab Alloh, aku iman dengannya dan aku membenarkannya. Ditambahkan didalam haditsnya Jarir:Demikian itulah apa yang telah difirmankan Alloh Azza wa Jalla {Alloh meneguhkan orang-orang yang beriman }. HR. Abu Dawud.(1)

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ عَنْ النَّبِيِّ  قَالَ {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ} قَالَ نَزَلَتْ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ فَيُقَالُ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللَّهُ وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ  فَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ{يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوابِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِالدُّنْيَا وَفِي اْلآَخِرَةِ}. رواه أحمد ومسلم والترمذي والنسائي.

Dari Bara’ bin ‘Azib dari Nabi Saw, bersabda { Alloh meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh }, sabda beliau diturunkan ayat ini berhubungan dengan siksa kubur. Maka ditanyakan padanya ( mayit ) : Siapakah Tuhanmu?, maka ia jawab :Tuhanku Alloh dan Nabiku Muhammad Saw. Demikian itulah (arti) ayat : { Alloh meneguhkan orang-orang yang ber-iman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat }. HR. Ahmad, Muslim, An-Nasa’iy dan Ibnu Majah. (2)

Mentalqin orang yang mendekati ajalnya adalah disunahkan, begitu pula dibacakan surat “Yasin” di sisinya, tentu banyak manfaat bagi orang yang akan mati itu. Talqin itu hukumnya sunah baik itu untuk orang yang akan mati, ataupun bagi orang yang sudah mati setelah di kuburkannya dan yang demikian ini pernah dilakukan oleh Nabi Saw, keti-ka meninggalnya seorang shahabat Ansor.

-------------------------------
  1. Sunan Abu Dawud, Juz 12 halaman 368 nomor 4.127. Maktabah Syamilah. CD. Com.
  2. Musnad Ahmad, Juz 38 halaman 24 nomor 17.837 – Shahih Muslim, Juz 14 halaman 33 nomor 5.117 – Sunan An-Na- sa’iy, Juz 7 halaman 194 nomor 2.030  - Sunan Ibnu Majah, Juz 12 halaman 322 nomor 4.259. Maktabah Syamilah. CD. Com.

Fadlilah Mensucikan Diri Dari Najisnya Air Kencing

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا هَذَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنْ بَوْلِهِ وَأَمَّا هَذَا فَإِنَّهُ كَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ دَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ فَغَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا ثُمَّ قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا. رواه النسائي

Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata : Rasulullah SAW, telah melewati diatas dua buah pekuburan lalu beliau bersabda : Sungguh keduanya (ahli kubur) sedang di siksa, dan tiadalah keduanya disiksa sebab dosa besar, adapun yang ini adalah dia itu tidak mensucikan dari bekas kencingnya. Dan adapun yang ini dia itu adalah suka mengadu domba, kemudian beliau meminta pelepah kurma yang basah, beliau belahnya menjadi dua, lalu beliau tanamkan yang satu diatas kubur ini, dan diatas kubur ini yang satunya lagi, kemudian beliau bersabda : Kalau-kalau akan meringankan (siksa) keduanya selagi belum kering”. HR. An-Nasa’i.[1]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم : إِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنَ الْبَوْلِ ، فَتَنَزَّهُوا مِنَ الْبَوْلِ. رواه الْبَزَّارُ في مُسْنَدِهِ ، والطَّبَرَانِيُّ في الْكبير ، وَالْحَاكِمُ ، وَالدَّارَقُطْنِيّ

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata :Rasulullah SAW, telah bersabda : “Sungguh pada umumnya siksa kubur itu disebabkan dari air kencing, maka bersucilah kamu semua dari kencing”. HR. Al-Bazar didalam Musnadnya, At-Thabraniy di dalam Mu’jamul Kabir, Al-Hakim dan Ad-Daraquthniy.[2]




عَنْ مَيْمُونَةَ أَنَّهَا قَالَتْ : يَا رَسُولَ اللهِ، أَفْتِنَا عَنِ الصَّدَقَةِ قَالَ : إِنَّهَا حِجَابٌ عَنِ النَّارِ، لِمَنِ احْتَسَبَهَا، يَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ قَالَتْ : أَفْتِنَا يَا رَسُولَ اللهِ، فِي ثَمَنِ الْكَلْبِ قَالَ: طُعْمَةٌ جَاهِلِيَّةٌ، وَقَدْ أَغْنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا قَالَتْ : وَأَفْتِنَا عَنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، فَقَالَ : مِنْ أَثَرِ الْبَوْلِ، فَمَنْ أَصَابَهُ بَوْلٌ فَلْيَغْسِلْهُ بِمَاءٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ مَاءً، فَلْيَمْسَحْهُ بِتُرَابٍ طَّيِّبٍ
.

Dari Maimunah, bahwa ia berkata : “Wahai Rasulullah, fatwakan padaku tentang shadaqah, kata Rasulullah : Sungguh (shadaqah) itu penutup neraka, bagi orang yang bershadaqah itu hanya mengharap ridla Alloh. Kata Maimunah : Fatwakan padaku wahai Rasulullah tentang uang hasil jualan anjing, kata Rasulullah : Itu makanan kaum jahiliyah, dan Alloh telah mencu-kupkan (kita) daripadanya. Maimunah berkata : Fatwakan padaku tentang siksa kubur. Maka kata Rasulullah : (siksa kubur) itu sebab bekas air kencing, maka barangsiapa terkena air kencing basuhlah ia dengan air (mutlaq), barangsiapa tidak mendapati air, maka usaplah dia dengan tanah yang suci”.
Al-Hadits Maimunah.[3]

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ :« اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ ». رواه البخاري ومسلم وابو داود والترمذي والنسائي والبيهقي

Dari Anas bin Malik, ia berkata : Adalah Nabi SAW, apabila memasuki tempat buang air besar (Toilet/WC) berdo’a : “Allohumma innii a’udzubika minal khubutsi wal khobaaitsi” (Wahai Alloh aku berlindung padamu dari perkara yang kotor dan beberapa najis). HR. Al-Bukhariy, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Al-Baihaqiy.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلاَءِ قَالَ : " اَلْحَمْدُلِهَِ￿  الَّذِي أَذْهَبَ  عَنِّي اْلأَذَى وَعَافَانِي". رواه النسائي
.

Dari Abu Dzar, ia berkata : Adalah Nabi SAW, apabila keluar dari WC berdo’a : “Alhamdulillaahi alladzi adzhaba ‘anniiy al adza wa ‘aafaaniy” (Segala puji hanya bagi Alloh yang telah menghilangkan dariku penyakit dan mensehatkan aku). HR. An-Nasa’i.

Baca juga artikel tentang Fadhilah Menjauhi Barang Najis dan Kotor
--------------------------------
  1. Sunan An-Nasa’i, Juz : 1 halaman : 28 nomor hadits : 31, Maktabah Syamilah.
  2. Ittihaaful  Khairatil Mahirah, Juz : 1 halaman : 281.
  3. Al-Ahad wal Matsaniy, Juz : 5 halaman : 593 – Maktabah Syamilah.