Konsep Penalitian Kuantitatif

Konsep Penalitian Kuantitatif - Metodologi penelitian kuantitatif dengan teknik statistiknya diakui mendominasi anlisis penelitian sejak abad ke-18 sampai abad ini. Dengan semakin canggihnya teknologi komputer, berkembang teknik-teknik anlisis statistikyang mendukung pengembangan penelitian kuantitatif. Metodologi penelitian kuantitatif statistik menjadi lebih bergengsi daripada penelitian kualitatif. Lebih-lebih bila diperhatikan pula sejumlah kenyataan bahwa ada sementara calon ilmuan yang menggunakan metodologi kualitatif dengan alasan dan bukti ketidak mampuannya menguasai teknik-teknik analisis statistik.

Pada segi lain, karena bergengsinya metodologi penelitian kuantitatif dengan teknik-teknik statistiknya banyak ilmuwan ataupun pakar ilmu yang tenggelam ke dalam teknik-teknik analisis statistik yang canggih, dan tidak tahu atau melupakan kelemahan di samping keunggulan filsafat dan teori metodologi penelitian yang melandasinya.

Metodologi penelitian kuantitatif statistik bersumber dari wawasan filsafat potivisme Comte, yang menolak metafisik dan teologik; atau setidak-tidaknya mendudukan metafisik dan metologik sebai primitif. Materialisme mekanistik-mekanistik sebagai perintis pengembangan metodologi ini mengemukakan bahwa; gambar dunia secara lebih menyakinkan didasarkan pada penelitian empirik daripada spekulasi filosofik.

Posivisme logik lebih jauh mengembangkan metodologi aksiomatisasi teori ilmu kedalam logika matematika; dan dikembangkan lebih jauh lagi dalam logika induktif, yaitu; ilmu itu bergerak naik dari fakta-fakta khusus fenomenal ke generalisasi teoritik.  Menurut positivisme, ilmu valid adalah ilmu yang dibangun dari empirik.

Dengan pendekatan positivisme dan metodologi penelitian kuantitatif, generalisasi diskontruksi dari rerata keragaman individual atau rerata frekuensi dengan memantau kesalahan-kesalahan yang mungkin. Metodologi kuantitatif menuntut adanya rancangan penelitian yang menspesifikan obyeknya secara eksplisit dielimenasikan dari obyek-obyek lain yang tidak diteliti. Tata fikir logik sesuai dengan teknik analisis yang telah diperkembangkan, metodologi penelitian kuantitatif membatasi sejumlah tatafikir logik tertentu, yaitu korelasi, kausalitasdan interaktif; sedangkan obyek data ditata dalam tatafikir katagorisasi, interfalisasikdan kontinuasi.

Bila diringkaskan, metodologi penelitian kuatitatif mulai dengan penetapan obyek studi yang spesifik, dieliminasikan dari totalitas atau konteks besatnya; sehingga eksplisit jelas obyek studinya. Disusun kerangka teori sesuai dengan obyek studi spesifiknya. Dari kerangka teori itu ditelorkan hipotesis atau problematik penelitian, instrumentasi pengumpulan data, dan teknik sampling serta teknik tasisnya;juga rancangan metodologik lain, seperti; penetapan batas signifikansi, teknik-teknik penyesuain bila ada kekurangan atau kekeliruan dalam hal data, administrasi, analisis, dan semacamnya. Dengan kata lain semua dirancangkan masuk terjun kelapangan untuk meneliti.

Menurut Imran Arifin (1996) bahwa penelitian kuantitatif adalah penelitian mempunyai paradigma penelitian yang bercirikan: posivistik, hipotetik deduktif, surfase behafior dan partikulastik. Metodologi penelitian yang mempunyai landasan posivistik mempunyai ciri-ciri didalamnya: a).  menggunakan logika eksperimen dengan memanipulasi variabel yang dapat diukur secara kuantitatif agar dapat dicari hubungan diantara variabel, b). mencari  hukum universal yang dapat meliputi semua kasus, walaupun dengan pengolahan statistik dicapai tingkat probabilitas dengan mementingkan sampling untuk mencari generalisasi, c). netralitas pengamatan dengan hanya meniliti gejala-gejala yang dapat diamati secara langsung dengan mengabaikan apa yang tidak dapat diamati dan diukur dengan instrumen yang valid dan reliabel.

Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit

0 komentar:

Posting Komentar