Gerhana Matahari Pertama Tahun 2014

Gerhana Matahari
My-Dock News - Pada bulan April ini, Badan Antariksa Amerika Serikat memprediksi akan terjadi gerhana Matahari di wilayah Indonesia bagian selatan, Australia, Samudra India Selatan. Hal ini akan menyebabkan langit menjadi gelap pada saat gerhana mencapai puncaknya. Gerhana Matahari pertama kali pada tahun 2014 ini terjadi pada bulan yang menurun node dalam Aries selatan.

Gerhana Matahari khusus ini agak tidak biasa, hal ini dikarenakan poros tengah bayangan antumbral Bulan menutupi bagian bumi seluruhnya. Sedangkan bayangan tepi merambati planet ini. Gerhana Matahari ini dikategorikan sebagai gerhana non-sentral, peristiwa seperti ini sangatlah jarang terjadi. Dari jumlah gerhana anular yang terjadi (3.956) selama periode 5.000 tahun dari -2.000 sampai dengan 3.000, hanya 68 atau 1,7% adalah gerhana non-pusat.

Proses awal mula gerhana akan terjadi di wilayah Antartika. Pada 05:57:35 UT, tepi utara bayangan antumbral pertama akan terjadi di Antartika. Gerhana besar baru akan terjadi enam menit kemudian  di 06:03:25 UT. Untuk bisa mengamati terjadinya gerhana matahari langka ini kordinat geografis yang dekat dengan sumbu bayangan adalah 131' 15,6' E, 79' 38,7' S. Pertama-tama Matahari akan muncul di Cakrawala selama fase annular 49 detik. Enam menit kemudian 06:09:36 UT, bayangan antumbral mengangkat dari permukaan Bumi sebagai gerhana berakhir annular. Seluruh zona dari annularity muncul sebagai daerah berbentuk kecil di Antartika timur.

Annular Solar Eclipse 29 April 2014

Para pakar astronomi menamakan gerhana Matahari-21 ini sebagai Saros 148 (Espenak dan Meeus, 2006). Gerhana ini dimulai dengan serangkaian 20 gerhana parsial yang dimuulai pada 21 September 1653, kemudian terjadi pada bulan april ini pada tanggal 29 April 2014. Gerhana annular akan terjadi lagi pada 09 Mei 2032, kemudian akan beralih menjadi gerhana hibrida pada 20 Mei 2050 dan diikuti 40 gerhana total pertama pada 31 Mei 2068. Setelah akhir gerhana parsial 12, Saros 148 berakhir pada 12 Desember 2987.

Gerhana Saros 148


Wahana Cassini Temukan Lautan di Enceladus

Planet Saturnus Enceladus
My-Dock News - Wahana antariksa Cassini milik Badan Penerbangan Antariksa Amerika (NASA) akhir-akhir ini menemukan sebuah samudra dibawah permukaan es salah satu bulan plane Saturnus (Enceladus). Wahana Casini tersebut mengorbit sistem Saturnus sejak 17 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1997.

Samudra yang ditemukan oleh wahana Cassini tersebut mempunyai wilayah yang sangat luas. Jika dibandingkan dengan wilayah bumi, luas samudra di bulan planet Saturnus tersebut membentang mulai dari Kutub Selatan hingga Selandia Baru. Berdasarkan perkiraan para pakar astronomi luas samudra di Enceladus tersebut membentang hingga hampir seluruh wilayah Enceladus. Akan tetapi para Pakar astronomi tidak mengetahui apakah luas samudra yang berisi air tersebut mencapai wilayah kutub utara.

Pimpinan tim Peneliti dari Sapienza University Roma Luciano Less mengatakan, "Letak samudra tersebut berada sekitar 40 Km dibawah lapisan es dan dasar samudra tersebut terdiri dari bebatuan".

Berikut komentar para pakar astronomi mengenai adanya samudra di bulan planet Saturnus (Enceladus):
Pakar keplanetan Cornell University Jonathan Lunine,
"Penemuan ini menjadikan Enceladus sebagai tempat potensial yang sangat menarik untuk mencari adanya makhluk hidup di Bulan planet Saturnus". 
Anggota dari tim riset dan pakar astronomi California Institute of Technologi David Stevenson,
"Hasil penemuan dan Riset ini sangat menarik dan menunjukkan kehebatan dari wahana Cassini".
Stevenson
"Penemuan dan Riset ini tidak seperti memetakan permukaan Bumi maupun Bulan. Ini lebih kasar dan mengagumkan, bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang terbaik yang bisa kita lakukan", (03/04/14).
Penemuan lautan maupun samudra seperti ini tidak hanya ditemukan pada bulan planet Saturnus (Enceladus), akan tetapi juga terdapat di Titan, bulan lain Saturnus, serta bulan planet Jupiter. Hasil riset ini telah dipublikasikan pada jurnal Science, Kamis 03/04/14.


Teleskop Hubble Temukan Abell2744 Y1

Abell2744 Y1
My-Dock News - Akhir-akhir ini terdapat berita baru dari teleskop hubble, yang dalam rangkaian citra Frontier Field mengungkap kandidat obyek tertua di alam semesta. Obyek tersebut berjarak sekitar 13 miliar tahun cahaya dari planet bumi. Hasil foto Frontier Field tersebut diperoleh dengan menggunakan teknik pengamatan gravitational lensing.

Citra Deep Field disuguhkan teleskop huble dengan menampakkan wilayah langit di Konstelasi Ursa Major. Citra tersebut kaya akan obyek alam semesta yang jaraknya jauh dari bumi. Sebelumnya Citra Deep Field berhasil mengungkap adanya 3.000 galaksi yang belum pernah diketahui sebelumnya pada tahun 1996.

Galaksi yang berjarak 13 miliar dari bumi tersebut diberinama Abell2744 Y1. Dilihat dari jaraknya yang jauh dari bumi sekitar 13 miliar tahun, 13 miliar tahun jugalah manusia baru bisa melihat objek tersebut. Berdasarkan keterangan dari pakar Astronomi Amerika, obyek tersebut diduga terbentuk hanya 650 juta tahun setelah Big Bang.

Galaksi yang diberinama Abell2744 Y1 tersebut mempunyai ukuran lebih kecil apabila dibandingkan dengan galaksi Bimasakti. Akan tetapi membentuk bintang 10 kali lebih cepat dari Bimasakti.


Semburan Uap Air di Ceres

My-Dock News - Asteroid terbesar di tata surya yang diberinama Ceres kembali menampakkan fenomena luar biasa di luar angkasa. Asteroid yang diberi nama Ceres tersebut menyemburkan uap air ke antariksa. Fakta tersebut ditemukan oleh wahana antariksa Herschel milik Badan Antariksa Eropa/ESA dan di beritakan pada jurnal Nature edisi teranyar.

Para Ilmuan sudah lama memprediksi bahwa pada asteroid paling besar di tata surya (Ceres) tersebut mempunyai kandungan air. Akan tetapi baru kali ini Ceres menampakkan adanya kandungan air pada asteroid tersebut dengan menyemburkan uap air dan baru kali ini juga fenomena terebut dapat dideteksi oleh para peneliti.

Menurut keterangan para ilmuan astronomi, uap air yang disemburkan tersebut berasal dari suatu daerah berwarna gelap di permukaan Ceres. Akan tetapi penyebab munculnya semburan uap air tersebut belum diketahui. Semburan uap air di Ceres memag tidaklah banyak akan tetapi para ilmuan yakin bahwa yang disemburkan Ceres tersebut terdapat molekul air.

Salah satu pakar astronomi ESA, Michael Kuppers mengungkapkan, salah satu hipotesa penyebab munculnya semburan uap air pada Ceres karena adanya pemanasan oleh Matahari sehingga es yang terdapat pada Ceres menguap. Selain itu juga bisa karena adanya energi di interior Ceres. Energi pada interior Ceres tersebut sama seperti Gletser, bedanya karena tekanan rendah di permukaan asteroid, air keluar dalam bentuk gas, bukan cairan.

Lapetus Berbentuk YIN dan YANG

NASA kembali menemukan fenomena menakjubkan yang terjadi di antariksa. Fenomena tersebut terjadi di salah satu bulan Saturus yang diberi nama  Lapetus menggunakan wahana antariksa Cassini.

Penemu Lapetus pertama kali adalah Giovani Cassini sekitar tahun 1872. Pesawat pengintai planet Saturnus yang diberi nama Cassini diluncurkan pada tahun 1997 dan sampai planet Saturnus pada tahun 2004. Wahana ini akan terus meneliti planet Saturnus dan bulannya hingga tahun 2017.

Nasa menemukan citra tersebut pada bulan Agustus 2013. Fenomena tersebut berupa bulan Saturnus (Lapetus) yang tampak seperti simbol Yin dan Yang. Simbol Yin dan Yang tersebut timbul pada bagian Lapetus yang menghadap ke arah Saturnus.

citra tersebut diambil menggunakan kamera narrow-angle pada tanggal 30 Agustus 2013. Beberapa ilmuan berfikir hal tersebut terjadi akibat rotasi Lapetous yang lambat, sehingga bagian gelapnya menyerap lebih banyak panas, membutuhkan waktu yang lama untuk memanas.