Kyai Imampuro

My-Dock Sejarah Ponorogo - Semula Desa Sukosari banyak tempat un-tuk peribadatan orang-orang hindu buda pada ma sa kekuasaan kerajaan Wengker dibawah pengua sa Suryo Ngalam atau Ki Ageng Kutu, sebab disi ni banyak peninggalan arca-arca siwa yang diya-kini oleh orang hindu sebagai arca dewa sebagai sesembahannya. 

Pada saat jatuhnya Wengker ke tangan Ba-toro Katong pengembangan dakwah Islam mulai masuk ke daerah-daerah pedalaman seperti di wi layah hutan sukosari ini. Akan tetapi daerah ini mulai dimasuki agama Islam yang dibawa oleh seorang Ulama dari Demangan Siman yang ber-nama Imampuro. 

Imampuro adalah putra dari R. Jamkasari putra P. Abuyamin putra Raja Banten Jawa Barat, yang datang ke Ponorogo untuk misi dakwah Is-lam juga.

Di Ponorogo P. Abuyamin diambil menan-tu oleh K. Cholifah putra ke VI (lihat hal. 39) da ri K. Mohammad Besari Tegalsari, dengan demi kian berarti P. Abuyamin adalah cucu menantu dari K. Mohammad Besari Tegalsari, yang selan-jutnya menurun K. Imampuro sebagai buyut dari K. Mohammad Besari.

Untuk mengawali babad di Sukosari ini K. Imampuro mengambil tempat yang dekat dengan kali bengawan yang kebetulan di lingkungan ini banyak bekas tempat peribadatan orang hindu ka rena di tempat ini banyak arca-arca dewa siwa se bagai sesembahannya. Dan di tempat ini tampak angker dan wingit yang dipercayai sebagai da- nyangan tempatnya bangsa lelembut, jin, syetan dan genderuwo. 

Namun demikian, sekalipun tempat ini ter-kenal angker dan menakutkan, bagi K. Imampuro justru tidak dianggap gawat, malah disini didiri-kan bangunan Masjid sebagai tempat ibadah bagi umat Islam pengikut K. Imampuro.

Pejuangan dakwah K. Imampuro juga men dapatkan tantangan, diantaranya dari seorang gu-ru atau resi yang bernama Mbah Guno, seorang penganut ajaran peninggalan Ki Ageng Suryo Ngalam, yang beragama hindu atau kepercayaan kejawen. Mbah Guno adalah guru yang sangat sakti, murid-murid di perguruannya diajari ilmu-ilmu kanuragan, seperti tidak mempan di tusuk pi sau, atau dibacok, bisa menghilang dari panda-ngan mata, dan sebagainya.

Pada suatu hari, K. Imampuro hendak ber-silaturrahim ke Padepokan Mbah Guno yang letaknya tidak jauh dati tempatnya agak ke timur untuk diajak agar dapat menerima dakwahnya yaitu mau masuk Islam, tetapi rupanya niatan baik ini tidak mendapatkan sambutan sebagaima na yang diharapkan oleh K. Imampuro, justru murid-murid Mbah Guno menampakkan watak adigang adigungnya, sombong dan kasar pamer kesaktian. Di saat seperti ini K. Imampuro tidak gentar, beliau perintahkan santrinya untuk menca ri anak angon kambing (gembala) yang ada di sekitar Padepokan Mbah Guno, setelah di dapat kan anak angon itu oleh K. Imampuro disuruh mbacok tangan pimpinan murid dari Mbah Guno. Setelah tangannya berdarah karena bacokan arit nya anak angon tadi, K. Imampuro perintahkan lagi supaya anak itu membacok kaki pimpinan murid Mbah Guno, seketika pimpinan itu roboh, dan lalu minta maaf kepada K. Imampuro, kare na rasa belas kasihan, K. Imampuro memasukkan ibu jari tanganya ke mulut beliau, kemudian di keluarkan lagi dan ditempelkan ke kaki murid Mbah Guno yang luka itu, seketika itu juga luka nya sembut tidak berdarah lagi, dan saat itu pula Mbah Guno menghilang tidak diketahui kemana perginya. Karena gurunya sudah tidak dapat diketemukan, maka para murid Mbah Guno sama taubat dan masuk Islam.

Di Sukosari tempo dulu ada semacam der maga tempat singgahnya perahu-perahu yang me ngangkut barang-barang dari pedalaman menuju perkotaan hingga Surabaya. Dermaga itu berada di dukuh Tular sekarang, dan dahulu kala disini juga dibangun sebuah gudang penyimpanan ba-rang-barang yang akan diangkut ke Surabaya. Termasuk pula pengiriman kayu jati bantuan Bu-pati Polorejo untuk pembangunan masjid Taman Madiun, juga melalui perairan bengawan Tular ini.

Nama Tular diambil dari nama seorang pu tra Adipati Surodiningrat (Sedo Demung) bupati Ponorogo yang bernama Raden Tunglar yang ma sih seayah dengan R. Brotonegora bupati Polore-jo atau kabupaten kuto Lor. Dan tugas dari Raden Tunglar saat itu adalah sebagai penjaga gu dang tersebut, jika pembaca ingin melihat bekas gudang ini dapat datang ke Dukuh Tular Sukosa ri, namun disana tinggal tonggak-tonggak tiang pancang gudang saja, dan tidak berujud gudang.

Kyai Imam Musahaf

My-Dock Sejarah Ponorogo - Ada lagi putra K. Ageng Mirah yang ber tempat tinggal di kaki Gunung Gombak atau Gunung Larangan, kemudian pindah ke Dukuh Kepuh Gero Desa Gandu Kepuh Kecamatan Sukorejo. 

K. Ageng Mirah datang pertama kali di wilayah Wengker babad dan bertempat tinggal di Mirah dan mendirikan pondok di daerah ini. Anak beliau yang namanya sama dengan nama ayahnya yaitu K. Ageng Mirah II dan K. Ageng Mirah III babad dan bertempat tinggal di kaki Gunung Gombak, disini keduanya juga mengem bangkan dakwah Islam dengan mendirikan Pon dok dan Pesantren. Kemudian anak K. Ageng Mirah III yang bernama Imam Musahaf babad dan bertempat tinggal di Kepuh Gero yang letak nya tidak jauh dari Mirah tempat tinggal Kyai Ageng Mirah pertama alias Penasehat Betoro Katong Bupati Ponorogo pertama.

Asal Usul K. Imam Musahaf
1) Sayid Jumadil Kubra – Troloyo Mojokerto
2) Sayid Ibrahim Asmaraqandi – Tuban
3) Sayid Maulana Ishaq – Malaysia
4) Sayid ’Ainul Yaqin (Sunan Giri) Gresik
5) Sunan Giri Prapen – Gresik
6) K. Ageng Gribig – Malang 
7) K. Ageng Muslim  (Mirah I) – Mirah Nambang rejo berputra 
8) K. Ageng Mirah II – Nglarangan Kauman Sumo roto berputra
9) K. Ageng Mirah III – Nglarangan Kauman Sumo roto berputa
10) K. Imam Musahaf – Kepuh  Gero Sukorejo ber putra
11) K. Umar – Kepuh Gero Sukorejo berputra
12) K. Mohammad bin Umar – Banjarsari Sewulan Madiun

Sesudah K. Mohammad Besari Tegalsari mengangkat putra-putrinya ke jenjang rumah tangga, tinggal seorang putrinya yang ke 8 (de lapan) yang belum mendapat kan jodoh, sehing ga sangat memprihatinkan K. Mohammad Besari, beliau beristikharah minta kepada Alloh agar putrinya ini segera mendapatkan jodoh.

Tidak lama kemudian Alloh SWT menga bulkan do’a Kyai dimana disuatu hari datanglah Kyai Umar dari Puhgero kekediaman Kyai Besa ri di Tegalsari untuk melamarkan anak lelakinya yang bernama Mohammad bin Umar yang biasa disebut dalam buku babad dengan sebutan Bin Umar Puhgero untuk dijodohkan dengan putri Kyai Besari. Lamaran Kyai Umar Puhgero dite rima oleh Kyai Besari Tegalsari, kemudian ke dua anak Kyai ini di aqad nikahkan.

Sesudah tujuh hari pernikahan Bin Umar dengan putri Kyai Besari Tegalsari, di keraton Yogjakarta terjadi suatu peristiwa yang meng- gemparkan, yaitu hilangnya Pangeran Singosari pergi dari keraton Yogjakarta. Ternyata keper gian sang Pangeran ini membuka (babad) hutan di daerah Malang, di Desa Singosari mendirikan istana (keraton) sendiri. Sinuhun Yogja kebingu ngan dan cemas campur khawatir, jangan-jangan di lain waktu Pangeran Singosari memberontak Yogjakarta dan terjadi perang saudara yang tidak bisa dielakkan lagi.

Sinuhun Yogja kemudian mengajak Tumenggung untuk musyawarah, bagaimana cara nya agar Pangeran Si ngosari mau kembali ke Yogjakarta. Ki Tumenggung lalu menyarankan agar Sinuhun minta pertolongan Kyai Besari Tegalsari untuk dapat mengajak kembali pulang Pangeran Singosari ke Yogjakarta lagi. Pendapat Tumenggung ini di setujui, bahkan Tumenggung sendiri yang di utus oleh Sinuhun Yogja untuk datang ke Tegalsari, minta bantuan sang Kyai Tegalsari..

Sesampainya di Tegalsari, kedatangan Tumenggung di terima oleh Kyai Besari sendiri, lalu apa yang menjadi maksud kedatangannya se-mua di haturkan kepada Kyai Tegalsari. Inti dari semua pembicaraan adalah  ; Nanti apabila Kyai Mohammad Besari Tegalsari dapat membawa pulang Pangeran Singosari ke Yogjakarta, Kyai akan diberi anugerah berupa bumi perdikan yang tidak dikenakan pajak untuk selama-lama nya.

K. Mohammad Besari kemudian memang gil anak menantunya yang masih temanten baru yaitu Kyai Bin Umar Puhgero, dan di perintah agar bersama-sama Tumenggung Yogjakarta be rangkat ke Malang untuk mengajak pulang Pa ngeran Singosari ke Yogjakarta.

Setelah Kyai Bin Umar Puhgero bersama Tumenggung sampai di Malang, kemudian ia shalat di perbatasan hutan tanah yang di buka (babad) oleh Pangeran Singosari. Selanjutnya K. Bin Umar menghadap kepada Pangeran Singo sari. Setelah Pangeran Singosari mengetahui ada tamu ki Tumenggung dari Yogjakarta, Pangeran memerintahkan kepada Senopati untuk menang kap Tumenggung. Kyai Bin Umar lalu berkata kepada Senopati bahwa kedatangan Tumenggung Yogja ini bukanlah kemauannya sendiri, tetapi mengantarkan Kyai Bin Umar wakil dari Kyai Mohammad Besari Tegalsari.

Mendengar apa yang di katakan Kyai Bin Umar, Senopati lapor kepada Pangeran Singosari bahwa, sang Tumenggung hanyalah sebagai pe- ngikut Kyai Bin Umar sebagai wakil Kyai Besari Tegalsari. Kemudian Pangeran Singosari datang bertemu muka dengan Kyai Bin Umar dan ber- bincang-bincang sesaat, akhirnya Pangeran Si ngosari dapat memahami semua apa yang disam paikan oleh Kyai Bin Umar, lalu Pangeran mau kembali ke Yogjakarta jika Kyai Bin Umar siap mengantarkan sampai di keraton Yogjakarta. Di samping minta kesiapan Kyai Bin Umar, Pange ran juga minta keamanan pribadi Pangeran Singo sari selama di Yogjakarta menjadi tanggung ja wab K. Bin Umar. Kemudian Tumenggung di perintahkan oleh Pangeran Singosari agar berang kat lebih dahulu meninggalkan kota Malang me nuju Yogjakarta dan agar secepatnya memberi kan informasi kepada Sinuhun Yogja bahwa kedatangan Pangeran Singosari hendaknya dijem put para prajurit di luar batas kota Yogja. 

Karena gembiranya Sinuhun Yogja akan kepulangan Pangeran Singosari, beliau tidak me lupakan dengan janjinya, yaitu memberikan bumi tanah merdikan kepada Kyai. Akhirnya Kyai Bin Umar oleh Sinuhun Yogja di anugerahi bumi perdikan di Desa Banjarsari Sewulan Madiun, yang kemudian Kyai Bin Umar bersama istrinya hidup berumah tangga di bumi perdikan ini de ngan menyiarkan dakwah Islam mendirikan mas jid dan pesantren. Dalam berumah tangga Kyai Mohammad Bin Umar dikarunia 8 (delapan) putra-putri yaitu :
1) Nyai Mohammad
2) K. Ali Imron – Banjarsari Sewulan Madiun.
3) K. Bilawi – Giripurno Magetan
4) KH. Mohammad Besari – Banjarsari Madiun
5) K. Faqih – Plosorejo Kertosono
6) Nyai Nawawi – Tawangrejo Uteran
7) K. Belawi – Dondong Kebonsari
8) K. Maolani – Dondong Kebonsari.

Silsilah K. Anom Besari di Ponorogo
1. P. Brawijaya V Bhre Kertabumi Majapahit
2. R. Abdullah Fatah Sultan Demak
3. Sultan Trenggana Demak
4. Pnb. Prawata Demak
5. Pnb. Wirasmara Setono Gedong Kediri
6. P. Demang ( R. Jalu ) Adipati Kediri th. 1586
7. Ki. Demang Irawan Badal Ngadiluwih Kediri
8. Sayid ‘Abdul Mursyad Tukum Grogol Kediri
9. Kyai Anom Besari Kuncen Caruban Madiun berputra :
a. Kyai Khotib Anom Srigading Kalangbret Tulung Agung
b. Kyai Mohammad Besari – Tegalsari Jetis Ponorogo
c. Kyai Noer Sodiq – Tegalsari Jetis Pono rogo
A) Kyai Khotib Anom Kalangbret T.Agung ber putra :
K. Nawawi – Majasem Madusari Siman Po. ber putra :
K. Ghozali – Cokromenggalan Po. berputra 17 putra putri :
1) Ibrahim – Bedi Polorejo Babadan Po.
2) Zakariya – Sekaran Jajar Lembah Babadan Po.
3) Walijah – Juranggandul Kadipaten Babadan Po.
4) Karmiya – 
5) Mad Rais – Cokromenggalan Po.
6) Mariyam – Pintu Jenangan Po.
7) Ilyas – Parang Bonagung Magetan
8) Imam Faqih – Bayem Taman Bonagung Mgtn.
9) Warsinah – Cokromenggalan Po.
10) Warsiyah – Cokromenggalan Po.
11) Robi’ah – Kranggan 
12) Monah – Bedi Kidul Jetis Ponorogo
13) Idris – Cokromenggalan Po.
14) Isma’il / Shaleh – Cokromenggalan Po.
15) Asiyah – Mojoroto Sukorejo Ponorogo
16) Hayatun – Cokromenggalan Po.
17) Khozinah – Padas Bungkal Po.

1) K. Ibrahim – Bedi Polorejo Babadan Ponoro go berputra 6 :
a. ROISAH – Ngunut Babadan Po.
b. ZAINAB – Tamanan Polorejo Babadan Po.
c. MARJIYAH – Plosorejo Maduh Baron Ngjk.
d. RIDLWAN – Bakalan Polorejo Babadan Po.
e. SUDJINAH – Wonosari Tj.Anom Nganjuk
f. Syarifah Ny. Imam Rozi – Bedi Polorejo Babadan Po.
B) Kyai Mohammad Besari Tegalsari Jetis Pono-rogo berputra :
1) K. Ishak – Coper Mlarak Ponorogo
2) Ny. Abdurrahman
3) K. Ya’kub
4) K. Isma’il
5) K. Bukhari
6) K. Chalifah
7) K. Ilyas
8) Ny. Mohammad bin Umar – Banjarsari Madiun
9) K. Zainal Abidin – Raja Selangor Malaysia

B.7) K. Ilyas – Tegalsari berputra :
1. K. Kasan Yahya
2. Kanjeng Kyai Kasan Besari - Tegalsari
3. K. Suheb - Tegalsari 
4. Nyai Askiran - Malo 
5. Nyai Zainal ’Arif – Tegalsari

B.7.2) Kanjeng Kyai Kasan Besari – berputra :
Dari Istri ke I
a) Bagus Kasan Anom
b) K. Ilham – Setono
c) Nyai Reksoniti – Surakarta
Dari Istri ke II
a) Imam Besari – Tegalsari
b) Nada Besari – Tegalsari
Dari Istri ke III
Nyai Kasanpuro – Gontor Mlarak Ponorogo
Dari Istri ke IV
K. Tirta Besari – Ngrukem Mlarak Ponorogo
Dari Istri ke V (putri dari Keraton Solo)
a) RM. Martopuro – Wedono Maospati Magetan
b) RA. Kasan Rifa’i – Karanggebang Jetis Po.
c) RA. Martorejo – Coper Mlarak Po.
d) RM. Cokronegoro – Bupati Ponorogo (1854 – 1856)
e) RM. Bawadi – meninggal usia muda
f) RA. Andawiyah
Dari Istri ke VI
a) K. Kasan Cholifah – Tegalsari
b) K. Wongsodipuro – Singkil Balong
c) K. Martosari – Tegalsari
Dari Istri ke VII dari Yogjakarta tidak punya keturunan.

B.8) Ny. Mohammad bin Umar – Banjarsari berputa :
a) Nyai Mohammad
b) K. Ali Imron – Banjarsari Madiun
c) K. Bilawi – Giripurno Magetan
d) KH. Mohammad Besari
e) K. Faqih – Plosorejo Baron Nganjuk
f) Ny. Nawawi – Tawangrejo Uteran
g) K. Belawi – Dondong Kebonsari Madiun
h) K. Maolani – Dondong Kebonsari Madiun

B.8.b) K. Ali Imron – Banjarsari Madiun berputra :
Ny. Taftajani II – Kradinan Jetis Ponorogo berputra:
1) K. Asnawi – Kradinan Jetis Ponorogo
2) K. Moh. Sayid – Kradinan Jetis Ponorogo
3) Ny. Imam Ghozali – Kedungpanji Lembehan Magetan

B.8.b.2) K. Moh. Sayid – Kradinan Jetis berputra :
a) Ny. Mustaram – Kradinan Jetis Ponorogo
b) K. Hasan ’Ali – Kradinan Jetis Ponorogo
c) K. Isma’il – Kradinan Jetis Ponorogo
d) Ny. Maulani – Prayungan Paju Ponorogo
e) Ny. Musthofa – Kradinan Jetis Ponorogo
f) K. Nida Besari – Banjarsari Kediri
g) K. ’Ali Muttaqin – Coper Mlarak Ponorogo
h) K. Husnun – Kradinan Jetis Ponorogo
i) K. Imam Rozi – Bedi Polorejo Babadan Po.
j) Ny. Kulsum – Kedungpanji Lembehan Magetan
k) K. Imam Asy’ari – Ngapit Ngawi 

B.8.b.2.e) Ny. Musthofa – Kradinan berputra :
1) Ny. Marhamah
2) K. Abu Syukur
3) Ny. Markonah
4) K. Mas’ud
5) Ny. Taslimatun (Ny. K. Ridwan) Bakalan Plrjo.
6) Imam Munawir
7) Abdullah
8) Muslihah

B.8.b.2.e.2) K. Abu Syukur – Kradinan berputra :
a) KH. Abdul Ghoni - Geneng Ngawi
b) K. Abdul Ghofur - Kradinan Jetis
c) Ny. KH. Ridwan (Fathimah) - Pagerwaja Tulungagung
d) KH. Abdul Manan – Singosari Malang
e) Ny. KH. Abdul Mu’in (Andasah) - Munggu Bungkal
f) Ny. K. Rohmat (Juwariyah) - Maospati Magetan
g) KH. Imam Djurdjani - Tulungagung

B.8.b.2.e.5) Ny. Taslimatun (Ny. K. Ridwan bin KH. Ibrahim Bedi) Bakalan Polorejo berputra :
a) K. Mohammad Adnan - Bakalan Polorejo
b) KH. Asyhuri - Bakalan Polorejo

B.8.b.2.i) K. Imam Rozi (Ny. Syarifah binti KH. Ibra- him Bedi) Bedi Polorejo Babadan Ponorogo berputra :
1) Hj. Khodijah – Koripan Bungkal Ponorogo
2) Hj. ’Aisyah – Bangsongan Kediri
3) Hj. Sribanun – Bancer Paju Ponorogo
4) K. Agus Damanhuri – Bedi Polorejo
5) Hj. Siti Fathimah – Serag Pulung Ponorogo
6) Hj. Mardliyah – Klinter Kertososno Nganjuk
7) Hj. Musri’ah – Sedayu Purwoasri Kediri
8) Hj. Shofiatun – Pandanarum Kertosono
9) Hj. Siti Asiyah – Maduh Plosorejo Kertosono.

C) K. Noer Sodiq – Tegalsari Jetis Ponorogo berputra :
1) Ny. Ahmad
2) Ny. Zakariya
3) Ny. Suratman
4) K. Mukmin
5) K. Mubarak
6) K. Idris.

Kyai Mohammad Besari

My-Dock Sejarah Ponorogo - Pada Tahun 1700 M, K. Mohammad Besari mulai menginjakkan kakinya di bumi Ponorogo dengan disertai adik kandungnya yang bernama Noer Shodiq, untuk mondok di sebuah pesantren terkenal diwaktu itu di Desa Setono Kec. Jetis Kab. Ponorogo. Pondok pesantren ini di asuh oleh seorang Ulama’ yang sangat ’alim lagi berbudi luhur dan bijaksana, asih terhadap sesama, suka memberi pertolongan kepada siapa saja yang menderita dalam kesengsaraan. Beliau adalah K. Donopuro bin Pb. Ratmo jo bin P. Kabu bin P. Sumende bin Sunan Tembayat.

Pondok pesantren asuhan K. Donopuro ini sangat banyak santri-santrinya, ketika Mohammad Besari mondok di pesantren ini sudah tampak kelebihan-kelebihan yang dimiliki, baik penguasaan kitab maupun ilmu-ilmu lainnya. Ketika kurang lebih selama 3 atau 4 tahun lamanya menjadi santri Setono, Mohammad Besari bersama adiknya Noer Sodiq berjalan-jalan menjelajah kota Ponorogo, sesampainya di Desa Mantub keduanya merasa kehausan. Karena hausnya itu lah keduanya minta degan (kambil muda) untuk diambil airnya untuk diminum kepada pemilik pohon kelapa itu, kebetulan pemilik pohon kelapa itu adalah juga seorang Kyai yang bernama Noer Salim yang kebetulan beliau ini adik ipar dari K. Donopuro pengasuh pesantren Setono dimana Mohammad Besari bersama adiknya nyantri.

Kyai Noer Salim, memperkenankan Mohammad Besari untuk mengambil dan memetik sendiri buah kelapa muda yang dimaksud, ketika ada perkenan dari pemiiknya Mohammad Besari hanya melambaikan tangannya kearah buah kelapa yang ada dipuncak pohonnya itu dan jatuh sendirilah satu janjang buah kelapa muda.

Mengetahui kejadian yang demikian ini Kyai Nor Salim kemudian mengingatkan kepada Mohammad Besari, dan memberikan contoh bagaimana cara memetik buah kelapa yang baik, agar tidak semua buah yang tidak diinginkan ikut jatuh. Kyai Noer Salim mendekati pohon kelapa lalu pohon itu di lengkungkan sampai melengkung ke tanah puncaknya, kemudian Mohammad Besari dipersilahkan mengambil yang mana yang ia sukai.

Tidak lama kemudian K. Noer Salim, menanyakan tentang jati diri Mohammad Besari, dari mana asalnya dan untuk apa menjelajahi Ponorogo. Setelah semuanya dijelaskan oleh Mohammad Besari, hati K. Noer Salim tertarik untuk mengambilnya menjadi menantu. Hal ini ke mudian dibicarakan seperlunya dan Mohammad Besari juga tidak keberatan dan sudah menyetujui apa yang menjadi keinginan K. Noer Salim, maka terjadilah pernikahan antara Mohammad Besari dengan putri sulung K. Noer Salim yang kemudian diboyong ke Setono.

Kurang lebih satu tahun lamanya Moham mad Besari bersama istri suwita di tempat K. Donopuro, keduanya lalu di persilahkan untuk membuka tanah Tegal milik K. Donopuro di sebelah timur Pesantren Setono di seberang sungai, yang kemudian hari tanah Tegal yang di buka dan dijadikan tempat tinggal Mohammad Besari bersama istri ini oleh K. Donopuro diberi nama Tegalsari.

Di kemudian hari, Tegalsari tidak hanya menjadi tempat tinggal Mohammad Besari bersama istri namun lama kelamaan K. Donopuro juga mempersilahkan untuk membuka ngaji dan menerima santri. Bertambah hari santri  Mohammad Besari bertambah banyak akhirnya Tegalsari menjadi pesantren yang besar. Setelah K. Donopura wafat kejayaan pesantren Setono berpindah ke pesantren Tegalsari yang di asuh oleh K. Mohammad Besari, kejayaannya sampai zaman sekarang ini, hampir-hampir pondok-pondok pesantren dan masjid-masjid tua yang ada di Ponorogo ini yang cikal bakal dan yang mendirikan kebanyakan masih ada keturunan dari Tegalsari atau Setono Jetis. 

Asal Usul K. Mohammad Besari
a. Prabu Brawijaya V berputra
b. R. Fatah – Demak berputra
c. R. Trenggono – Demak berputra
d. Prabu Prawoto – Demak berputra
e. Prabu Wirasmoro – Setono Gedong Kediri ber- putra
f. P. Demang ( R. Jalu ) – Kediri berputra
g. R. Demang Irawan – Badal Ngadiluwih Kediri berputra
h. K. Abdul Mursad – Grogol Tukum Kediri ber- putra
i. K. Anom Besari – Kuncen Caruban Madiun berputra :
1. K. Chatib Anom – Srigading Klambret Tulungagung
2. K. Mohammad Besari – Tegalsari Jetis Ponorogo
3. K. Noer Sodiq – Tegalsari Jetis Ponorogo

K. Mohammad Besari berputra 9 berputra ;
1) K. Ishak – Coper Mlarak Ponorogo
2) Ny. Abdurrahman
3) K. Ya’kub
4) K. Isma’il
5) K. Bukhari
6) K. Chalifah
7) K. Ilyas
8) Ny. Mohammad bin Umar – Banjarsari Madiun
9) K. Zainal Abidin – Raja Selangor Malaysia

K. Mohammad Besari Meninggal dunia tahun 1747 M di makamkan di belakang Masjid Tegalsari.

Kyai Donopuro

My-Dock Sejarah Ponorogo - Kyai Donopuro adalah putra Prabu Ratmojo putra Pangeran Kabu putra dari Pangeran Sumendhe yang babad desa Setono. Pangeran Sumendhe adalah putra S. Muhammad Hidayatullah alias Sunan Pandan arang II alias Sunan Tembayat, yang meninggal dan dimakamkan di Mbayat Klaten Yogjakarta.

Pangeran Sumendhe mempunyai anak K. Pangeran Kabu mempunyai anak K. Prabu Rat mojo mempunyai tiga orang anak : 
1. K. Ageng Donopuro
2. K. Ageng Noyopuro
3. Ny. Mukminah

K. Donopuro mendirikan pondok pesantren dan masjid di tanah babadan eyang buyutnya ( P. Sumendhe ), beliau seorang Kyai yang berwatak “Berbudi bawa laksana”, namanya terkenal dan sangat ‘alim, tidak hanya ahli Al-Qur’ an tetapi juga ahli dan ilmu bathin. Kema juan pesantren nya di bantu oleh saudara lelakinya yaitu K. Ageng Noyopuro.

Para santri di pondok ini tidak hanya dari daerah kota Ponorogo, tetapi juga banyak dari luar daerah, termasuk Mohammad Kasan Besari beserta adiknya yang bernama Nor Shodiq ber asal dari desa Kuncen Caruban Madiun. Kedua nya adalah putra K. Anom Besari. 

Mohammad Kasan Besari terkenal tekun dan sregep, tidak berapa lama mondok di pesantren Setono ini sudah hafal Al-Qur’an dengan makna nya (artinya). K. Donopuro sangat menaruh per hatian kepadanya, karena beliau tidak punya keturunan. Yang mana akhirnya santri kesayangannya dinikahkan dengan putri keponakannya sendi ri yaitu anak putrinya Ny. Mukminah istri dari K. Nur Salim.

K. Nor Salim adalah putra dari Pangeran Bun toro alias K. Dhugel Kesambi dari Ngloning putra dari R. Tumenggung Joyonegoro Bupati Gadingrejo Tamansari Sambit Ponorogo. K. Nor Salim juga memiliki pondok pesantren di Desa Ngasinan dukuh Mantub sehingga beliau men dapat sebutan Kyai Mantub di mana letaknya tidak jauh dari pesantrennya K. Donopuro + 2,5 km arah selatan desa Setono Jetis. 

Setelah beberapa bulan dari pernikahan Mohammad Kasan Besari berjalan K. Donopuro, memberikan perintah kepadanya agar ia mulai babad hutan belantara dan hendaknya ia babad hutan itu memulainya dari tanah tegal miliknya K. Donopuro, yang terletak di arah timur pondok Setono tidak jauh jaraknya hanya di batasi oleh sebuah sungai. Karena itu setelah babad hutan selesai ia kemudian mendirikan sebuah Langgar, lalu tempat babadannya diberi nama “Tegalsari”. Lama kelamaan Mohammad Kasan Besari oleh K. Donopuro di suruh mendirikan pondok pesan tren dan Langgarnya di rubah menjadi Masjid. Setelah pondok yang didirikan oleh K. Mohammad Kasan Besari jadi, K. Donopuro meninggal dunia dan disusul oleh K. Ageng Noyopuro, yang mana akhirnya para santri sama boyong ke pondok K. Mohammad Kasan Besari di Tegal sari .

Dengan melihat sejarah jauh ke belakang, tidak salah jika KH. Ibrahim adalah seorang yang hafal Al-Qur’an sekaligus penulis Kitab Al-Qur’an dengan baik, karena melihat asal usul nenek moyangnya dari pondok pesantren Setono Jetis Ponorogo, Kyainya juga ahli Al-Qur’an.

Raden Katong

My-Dock Sejarah Ponorogo - Raden Katong, yang kemudian lazim dise but Batoro Katong, bagi masyarakat Ponorogo mungkin bukan sekedar figur sejarah semata. Hal ini terutama terjadi di kalangan santri yang me yakini bahwa Batoro Katonglah penguasa perta ma Ponorogo, sekaligus pelopor penyebaran aga ma Islam di Ponorogo.

Batoro Katong, memiliki nama asli Lembu Kani- goro, tidak lain adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya V dari selir yakni Putri Campa yang beragama Islam. Mulai redupnya kekuasaan Majapahit, saat kakak tertuanya, Lembu Keno ngo yang berganti nama sebagai Raden Fatah, mendirikan kesultanan Demak Bintoro. Lembu Kanigoro mengikut jejaknya, untuk berguru di bawah bimbingan Wali Songo di Demak. Prabu Brawi jaya V yang pada masa hidupnya berusaha di-Islamkan oleh Wali Songo, para Wali Islam tersebut membujuk Prabu Brawijaya V dengan menawarkan seorang Putri Campa yang ber-aga ma Islam untuk menjadi Istrinya.

Berdasarkan catatan sejarah keturunan ge nerasi ke-126 beliau yaitu Ki Padmosusastro, di sebutkan bahwa Batoro Katong dimasa kecilnya bernama Raden Joko Piturun atau disebut juga Raden Harak Kali. Beliau adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya V dari garwo pangrambe (selir yang tinggi kedudukannya).

Walaupun kemudian Prabu Brawijaya sendiri gagal untuk di-Islamkan, tetapi perkawi nannya dengan putri Campa mengakibatkan me runcingnya konflik politik di Majapahit. Diper istrinya putri Campa oleh Prabu Brawijaya V me munculkan reaksi (protes) dari elit istana yang lain. Sebagaimana dilakukan oleh seorang pung gawanya bernama Pujangga Anom Ketut Suryo ngalam. Seorang penganut Hindu, yang berasal dari Bali.

Tokoh yang terakhir ini, kemudian keluar dari Majapahit, dan membangun peradaban baru di tenggara Gunung Lawu sampai lereng barat Gunung Wilis, yang kemudian dikenal dengan nama Kademangan Surukubeng atau Kutu. Ki Ageng Ketut Suryangalam ini kemudian di kenal sebagai Ki Ageng Kutu atau Demang Kutu. Dan daerah yang menjadi tempat tinggal Ki Ageng Kutu ini dinamakan Kutu, kini merupakan dae rah yang terdiri dari beberapa desa di wilayah Kecamatan Jetis.

Pada akhirnya, upaya Ki Ageng Kutu untuk mem perkuat basis di Ponorogo inilah yang pada masa selanjutnya dianggap sebagai ancaman oleh kekuasaan Majapa hit. Dan selan jutnya pandangan yang sama dimiliki juga dengan kasultanan Demak, yang nota bene sebagai penerus kejayaan Majapahit walaupun dengan warna Islamnya. Sunan Kalijaga, bersa ma muridnya Kiai Muslim (atau Ki Ageng Mirah) mencoba melakukan investigasi terhadap keadaan Wengker, dan mencermati kekuatan-ke kuatan yang paling berpengaruh di Wengker. Dan mereka menemukan Demang Kutu sebagai penguasa paling berpengaruh saat itu.

Demi kepentingan ekspansi kekuasaan dan Islami sasi, penguasa Demak mengirimkan seo rang putra terbaik nya yakni yang kemudian di kenal luas dengan sebutan Batoro Katong dengan salah seorang santrinya bernama Selo Aji dan diikuti oleh 40 orang santri senior yang lain.
Raden Katong akhirnya sampai di wilayah Weng ker, lalu kemudian memilih tempat yang memenuhi syarat untuk pemukiman, yaitu di Du sun Plampitan, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan. Dan dari sinilah Batoro Katong memu lai mendirikan sebuah cikal bakal sebuah kabupa ten yang dinamakan Ponorogo. Saat Batoro Katong datang memasuki Wengker, kebanyakan masyarakat Wengker adalah penganut Budha animisme dan dinamisme. 

Singkat cerita, terjadilah pertarungan anta ra Batoro Katong dengan Ki Ageng Kutu. Dite ngah kondisi yang sama sama kuat, Batoro Katong kehabisan akal untuk menundukkan Ki Ageng Kutu. Kemudian dengan akal cerdasnya Batoro Katong berusaha mendekati putri Ki Ageng Kutu yang bernama Niken Gandini, de ngan di iming-imingi akan dijadikan istri.

Kemudian Niken Gandini inilah yang di manfaatkan Batoro Katong untuk mengambil pusaka Koro Welang, sebuah pusaka pamungkas dari Ki Ageng Kutu. Pertempuran berlanjut dan Ki Ageng Kutu dapat dipenggal kepalanya oleh Patih Seloaji, pada hari Jumat Wage di sebuah pegunungan di daerah Wringin-Anom Sambit Ponorogo. Hari ini oleh para pengikut Kutu dan masyarakat Ponorogo (terutama dari abangan), menganggap hari itu sebagai hari naas-nya Ponorogo.

Tempat jatuhnya penggalan kepala Ki Ageng Kutu ini disebuah belik dipegunungan yang kemudian disebut sebagai Gunung Bacin, terletak di daerah Bungkal. Akan tetapi tubuh Ki Ageng Kutu yang sudah tidak berkepala lagi itu masih bisa melarikan diri dan hilang di sebuah pegungan kecil di wilayah Dloka. Batoro Katong kemudian, mengatakan bahwa Ki Ageng Kutu akan moksa dan terlahir kembali di kemudian hari. Hal ini dimungkinkan dilakukan untuk me redam kemarahan warga atas meninggalnya Ki Ageng Kutu.

Setelah dihilangkannya Ki Ageng Kutu, Batoro Katong mengumpulkan rakyat Ponorogo dan berpidato bahwa dirinya tidak lain adalah Batoro, manusia setengah dewa. Hal ini dilaku kan, karena Masyarakat Ponorogo masih memper cayai keberadaan dewa-dewa, dan Batara. Dari pintu inilah Katong kukuh menjadi penguasa Ponorogo, mendirikan istana, dan pusat Kota, dan kemu dian melakukan Islamisasi Ponorogo secara perlahan namun pasti.

Pada tahun 1486, hutan dibabat atas perin tah Batara Katong, tentu bukannya tanpa rinta ngan. Banyak gangguan dari berbagai pihak, ter masuk makhluk halus yang datang. Namun, kare na bantuan warok dan para prajurit Wengker, akhirnya pekerjaan membabat hutan itu lancar.

Lantas, bangunan-bangunan didirikan se hingga kemudian pendudukpun berdatangan. Setelah menjadi sebuah Istana kadipaten, Batara Katong kemudian mem boyong permaisurinya, yakni Niken Sulastri, sedang adiknya, Suromeng golo, tetap di tempatnya yakni di Dusun Ngam pel. Oleh Katong, daerah yang baru saja diba ngun itu diberi nama Prana Raga yang berasal atau diambil dari sebuah babad legenda "Pra mana Raga". Menurut cerita rakyat yang berkem bang secara lisan, Pono berarti Wasis, Pinter, Mumpuni dan Raga artinya Jasmani. sehingga kemudian dikenal dengan nama Ponorogo.

Perluasan agama Islam, membawa dampak secara langsung terhadap perluasan pengaruh, dan berarti juga kekuasaan. Dan Batoro Katong-lah yang menjadi figur yang diidealkan, pengua sa sekaligus ulama.

Beliau kemudian dikenal sebagai Adipati Sri Batoro Katong yang membawa kejayaan bagi Ponorogo pada saat itu, ditandai dengan adanya prasasti berupa sepasang batu gilang yang terda pat di depan gapura kelima di kompleks makam Batoro Katong dimana pada batu gilang tersebut tertulis candrasengkala memet berupa gambar manusia, pohon, burung (Garuda) dan gajah yang melambangkan angka 1418 saka atau tahun 1496 M. Penulis batu gilang ini adalah Reksoguno seo rang ahli pahat batu yang masuk Islam ketika Ba toro Katong dinobatkan menjadi Bupati di Kabu-paten Ponorogo, sedangkan ukuran dari batu gilang yang dijadikan prasasti itu adalah : 140 cm x 57 cm x 28 cm. Batu gilang itu berfungsi sebagai prasasti "Penobatan" yang dianggap suci. Atas dasar bukti peninggalan benda-benda pubakala tersebut dengan menggunakan referensi Handbook of Oriental History dapat ditemukan hari wisuda Batoro Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo, yakni pada hari Ahad Pon Tanggal 1 Bulan Besar, Tahun 1418 saka bertepatan dengan Tang gal 11 Agustus 1496 M atau 1 Dzulhijjah 901 H. Selanjutnya tanggal 11 Agustus ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Batoro Katong dikenal memiliki sebuah pusaka tombak bernama Kyai Tunggul Naga. Tombak ini memiliki pamor kudung, tangkainya dari sulur pohon jati dan terdapat ukiran naga, dengan ukuran panjang kira-kira 60 cm.

Menurut versi Babad Ponorogo, tombak Kyai Tunggul Naga diperoleh Batara Katong dari hasil berse madi di sebuah tanah lapang tanpa rumput sehelaipun yang disebut ara-ara. Waktu itu Ponorogo masih disebut Wengker. Raden Batara Katong ditemani oleh Ki Ageng Mirah, Patih Seloaji dan Jayadipa. Dari ara-ara itu dida patkan tombak Kyai Tunggul Naga, payung dan sabuk.

Patih Selo Aji
Pada saat Batoro Katong berkuasa di Kabu paten Ponorogo, Selo Aji diangkat menjadi Patih yang pertama kali. Selo Aji adalah anak dari Kyai Ageng Selo yang ko-non kabarnya menurut cerita dapat menangkap petir. 

Ketika terjadi petempuran antara Ki Demang Suryongalam dengan Batoro Katong, Patih Selo Aji-lah yang dapat memenggal kepala Demang Suryongalam dengan sebuah pedangnya, dan kepalanya saat itu  jatuh kedalam sebuah beji yang mengakibatkan air beji itu berbau leteng ti dak enak, sehingga kejadian ini diabadikan dan digunakan untuk memberi nama beji tersebut yaitu Sirahketeng, Sirah itu bahasa jawa yang artinya Kepala, sedangkan Leteng artinya bau yang tidak enak.

Anak turun Patih Sela Aji sama mendudu ki jabatan penting di wilayah Kabupaten Pono rogo diantaranya adalah :
1) Kyai Wurat – Patih Ponorogo
2) Blumbang Segara – Patih Ponorogo di Pudak
3) Demang Alap-Alap – Demang Ponorogo di Pudak
4) Demang Pithi – Demang Ponorogo di Mangunsu man
5) Kyai Iromenggala – Palang Sombro Sooka
6) Mas Bei Suromejo – Patih Ponorogo terakhir dima kamkan di Patihan Wetan.

Kyai Ageng Mirah
Kyai Ageng Mirah adalah putra dari Kyai Ageng Gribig –  Malang, kedatangannya di Pono rogo menjadi pengulu yang pertama dan juga sebagai penyebar agama Islam sebelum kedata ngan Betoro Katong ke wilayah Wengker. 

Ketika Wengker dalam penguasaan De mang Suryongalam, dia mempunyai teman seper guruan yang ber-domisili di Desa Golan yang bernama Honggolono, karena keduanya sama-sama seperguruan, maka Honggolono dijadikan orang kepercayaan Demang Suryongalam, kare na ia memiliki ilmu kasaktian yang sangat hebat.

Pada suatu hari terjadi perselisihan antara Honggo lono dengan Kyai Ageng Mirah, kedua nya sama mengelu arkan ilmu kesaktiannya, ka rena keduanya tidak ada yang kalah dan tidak pula ada yang menang, maka sampai sekarang pun air dari Golan dan Mirah itu tidak bisa cam pur melebur menjadi satu sekalipun dijadikan satu wadah.

Tidak lama kemudian setelah terjadi perse lisihan antara Kyai Ageng Mirah dengan Honggo lono dari Golan Kyai Mirah mendapatkan tamu utusan dari Kerajaan Demak Bintoro untuk  me ngadakan penelitian di daerah Wengker, kedua utusan itu tidak lain adalah R. Katong dan Selo Aji. Kyai Mirah sangat berbangga hati karena se karang tidak sendirian dalam mendakwahkan Islam.

Kemudian tidak lama-lama Betoro Katong dan Selo Aji berada di daerah Wengker ini, kare na merasa apa yang menjadi tugasnya sudah men dapatkan hasil, lalu pulang ke Demak lagi dan Kyai Mirah-pun juga ikut bersama keduanya ke Demak. 

Sesampainya di Demak Betoro Katong me nyampaikan hasil penelitiannya di daerah Weng ker, yang mana Wengker adalah daerah pengua saan Hindu Buda, dan banyak warok yang ba nyak memiliki ilmu kesaktian yang sangat hebat.

Dan pada waktu Betoro Katong dapat me rebut Wengker dan dijadikan wilayah Ponorogo, Kyai Mirah diangkat sebagai Pujangga atau Ula ma’nya Kabupaten karena besar jasanya dalam pendirian kabupaten Ponorogo, dan ketika Beto ro Katong perang melawan Demang Suryo ngalam, banyak taktik dan siasat perang yang di sampaikan kepada Betoro Katong, sehingga mendapat ke menangan yang gemilang.