Mengenal Meteor Perseid

Meteor Perseid 2014
My-Dock - Meteor Perseid merupakan serpihan debu dari ekor komet yang diberi nama komet Swift-Tuttle (109P/Swift-Tuttle) yang masuk ke atmosfer Bumi. Dinamakan Perseid karena titik radian meteor ini berasal dari arah rasi bintang Perseus.

Serpihan debu dari komet Swift-Tuttle tersebut pertama kali ditemukan oleh astronom pada tahun 1862 dan mengelilingi matahari dalam kurun waktu 130 tahun sekali. Pada saat mendekat dengan Matahari, Komet 109P/Swift-Tuttle meninggalkan sisa-sisa partikel berupa debu maupun serpihan di bekas lintasannya. Setiap tahun Bumi selalu melawati bekas lintasan komet tersebut dan bekas sisa-sisa partikel komet masuk ke atmosfer Bumi kemudian menekan dan memanaskan udara di sekitarnya hingga menimbulkan kilatan cahayameteor.

Kecepatan meteor perseid memasuki atmosver bumi dengan kecepatan kurang lebih sekitar 59,5 Km/s atau 214.365 km/h. Suhu meteor diperkirakan mencapai 1.650 derajat celcius.

Periode terjadinya hujan meteor ini terjadi pada bulan juli sampai dengan Agustus. Lebih tepatnya pada tanggal 17 Juli sampai dengan 24 Agustus. Hal ini dikarenakan pada bulan tersebut Bumi melintasi orbitnya sehingga sisa-sisa material komet tersebut tertarik oleh gravitasi bumi dan muncul sebagai hujan meteor.

Berdasarkan keterangan dari Ahli meteor Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA), tahun ini puncak hujan meteor Perseid di Indonesia diperkirakan terjadi pada hari Rabu 13 Agustus 2014 pada pukul 07.30 Wib. Apabila dilihat dari dari waktu terjadinya hujan meteor perseid kita akan kesulitan untuk mengamati terjadinya hujan meteor Perseid menggunakan mata telanjang, (Bill Cooke).

Rasi Bintang Perseus
Kita masih bisa mengamati hujan meteor ini menjelang dan sesudah mencapai titik puncak, yaitu pada hari selasa sampai kamis dini hari. waktu yang paling tepat untuk mengamati hujan meteor ini selepas tengah malam hingga menjelang fajar. Akan tetapi bila melakukan pengamatan setelah mencapai puncaknya, jumlahnya lebih sedikit bahkan bisa jarang. (komunikator sains : Joe Rao).

Untuk mengamati hujan meteor kita tidak perlu menggunakan alat bantu teleskop ataupun yang lain akan tetapi menggunakan mata telanjang saja kita sudah bisa mengamatinya. Untuk mengamati hujan meteor ini kita hanya membutuhkan langit yang gelap dan bersih dari partikel debu. Bagi orang yang tinggal di pedesaan mungkin akan mudah untuk mengamatinya.

Pada saat puncak hujan meteor Perseid, meteor yang bisa diamati mencapai 100 meteor per jam pada saat tidak ada bulan. Karena pada tahun ini hujan meteor perseid terjadi pada bulan purnama, meteor yanbg bisa diamati oleh mata hanya sekitar 30-40 meteor perjam.


Penemuan Mega Bumi (Kepler-10C)

Mega Bumi
My-Dock Astronomi - Astronom menemukan planet baru yang diberi nama "Mega Bumi". Astronom menemukan planet "Mega Bumi/Kepler 10-c" tersebut menggunakan teleskop kepler. Penemuan tersebut diperoleh menggunakan metode "melihat keberadaan planet dengan mengamati peredupan cahaya bintang" (metode transit).

Jenis planet ini merupakan planet batuan seperti bumi, akan tetapi memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari kelas planet bisa dikatakan "Bumi Super". Bumi Super tersebut mengorbit sebuah bintang yang jaraknya 560 tahun cahaya dari Bumi. Penemuan ini dipresentasikan astronom pada pertemuan American Astronomical Society di Boston.

Dengan ditemukannya planet "Super Bumi" ini membuat astronom menggaruk kepala. Berdasarkan pengalaman astronom, planet besar cenderung menarik banyak hidrogen sehingga akan lebih mirip Jupiter dan Neptunus.

Dimitar Sasselov dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics mengatakan "Cara yang pas untuk menyebutnya adalah sesuatu yang lebih besar dari "Bumi Super", bagaimana jika diberinama "Bumi Mega"?". BBC, (03/06/2014).

Berdasarkan penelitian Sasselov, "Mega Bumi" tersebut mempunyai massa lebih dari 17 kali massa Bumi, masa jenisnya  kurang lebih sekitar 7,5 gram per centimeter kubik. Dengan demikian membuat "Mega Bumi" menyerupai massa jenis batuan di Bumi, yaitu 5,5 gram per centimeter kubik).

Usia bintang induk planet tersebut adalah 11 miliar tahun, selisih 2 miliar tahun dari alam semesta sendiri.



Kyai Imampuro

My-Dock Sejarah Ponorogo - Semula Desa Sukosari banyak tempat un-tuk peribadatan orang-orang hindu buda pada ma sa kekuasaan kerajaan Wengker dibawah pengua sa Suryo Ngalam atau Ki Ageng Kutu, sebab disi ni banyak peninggalan arca-arca siwa yang diya-kini oleh orang hindu sebagai arca dewa sebagai sesembahannya. 

Pada saat jatuhnya Wengker ke tangan Ba-toro Katong pengembangan dakwah Islam mulai masuk ke daerah-daerah pedalaman seperti di wi layah hutan sukosari ini. Akan tetapi daerah ini mulai dimasuki agama Islam yang dibawa oleh seorang Ulama dari Demangan Siman yang ber-nama Imampuro. 

Imampuro adalah putra dari R. Jamkasari putra P. Abuyamin putra Raja Banten Jawa Barat, yang datang ke Ponorogo untuk misi dakwah Is-lam juga.

Di Ponorogo P. Abuyamin diambil menan-tu oleh K. Cholifah putra ke VI (lihat hal. 39) da ri K. Mohammad Besari Tegalsari, dengan demi kian berarti P. Abuyamin adalah cucu menantu dari K. Mohammad Besari Tegalsari, yang selan-jutnya menurun K. Imampuro sebagai buyut dari K. Mohammad Besari.

Untuk mengawali babad di Sukosari ini K. Imampuro mengambil tempat yang dekat dengan kali bengawan yang kebetulan di lingkungan ini banyak bekas tempat peribadatan orang hindu ka rena di tempat ini banyak arca-arca dewa siwa se bagai sesembahannya. Dan di tempat ini tampak angker dan wingit yang dipercayai sebagai da- nyangan tempatnya bangsa lelembut, jin, syetan dan genderuwo. 

Namun demikian, sekalipun tempat ini ter-kenal angker dan menakutkan, bagi K. Imampuro justru tidak dianggap gawat, malah disini didiri-kan bangunan Masjid sebagai tempat ibadah bagi umat Islam pengikut K. Imampuro.

Pejuangan dakwah K. Imampuro juga men dapatkan tantangan, diantaranya dari seorang gu-ru atau resi yang bernama Mbah Guno, seorang penganut ajaran peninggalan Ki Ageng Suryo Ngalam, yang beragama hindu atau kepercayaan kejawen. Mbah Guno adalah guru yang sangat sakti, murid-murid di perguruannya diajari ilmu-ilmu kanuragan, seperti tidak mempan di tusuk pi sau, atau dibacok, bisa menghilang dari panda-ngan mata, dan sebagainya.

Pada suatu hari, K. Imampuro hendak ber-silaturrahim ke Padepokan Mbah Guno yang letaknya tidak jauh dati tempatnya agak ke timur untuk diajak agar dapat menerima dakwahnya yaitu mau masuk Islam, tetapi rupanya niatan baik ini tidak mendapatkan sambutan sebagaima na yang diharapkan oleh K. Imampuro, justru murid-murid Mbah Guno menampakkan watak adigang adigungnya, sombong dan kasar pamer kesaktian. Di saat seperti ini K. Imampuro tidak gentar, beliau perintahkan santrinya untuk menca ri anak angon kambing (gembala) yang ada di sekitar Padepokan Mbah Guno, setelah di dapat kan anak angon itu oleh K. Imampuro disuruh mbacok tangan pimpinan murid dari Mbah Guno. Setelah tangannya berdarah karena bacokan arit nya anak angon tadi, K. Imampuro perintahkan lagi supaya anak itu membacok kaki pimpinan murid Mbah Guno, seketika pimpinan itu roboh, dan lalu minta maaf kepada K. Imampuro, kare na rasa belas kasihan, K. Imampuro memasukkan ibu jari tanganya ke mulut beliau, kemudian di keluarkan lagi dan ditempelkan ke kaki murid Mbah Guno yang luka itu, seketika itu juga luka nya sembut tidak berdarah lagi, dan saat itu pula Mbah Guno menghilang tidak diketahui kemana perginya. Karena gurunya sudah tidak dapat diketemukan, maka para murid Mbah Guno sama taubat dan masuk Islam.

Di Sukosari tempo dulu ada semacam der maga tempat singgahnya perahu-perahu yang me ngangkut barang-barang dari pedalaman menuju perkotaan hingga Surabaya. Dermaga itu berada di dukuh Tular sekarang, dan dahulu kala disini juga dibangun sebuah gudang penyimpanan ba-rang-barang yang akan diangkut ke Surabaya. Termasuk pula pengiriman kayu jati bantuan Bu-pati Polorejo untuk pembangunan masjid Taman Madiun, juga melalui perairan bengawan Tular ini.

Nama Tular diambil dari nama seorang pu tra Adipati Surodiningrat (Sedo Demung) bupati Ponorogo yang bernama Raden Tunglar yang ma sih seayah dengan R. Brotonegora bupati Polore-jo atau kabupaten kuto Lor. Dan tugas dari Raden Tunglar saat itu adalah sebagai penjaga gu dang tersebut, jika pembaca ingin melihat bekas gudang ini dapat datang ke Dukuh Tular Sukosa ri, namun disana tinggal tonggak-tonggak tiang pancang gudang saja, dan tidak berujud gudang.

Kyai Imam Musahaf

My-Dock Sejarah Ponorogo - Ada lagi putra K. Ageng Mirah yang ber tempat tinggal di kaki Gunung Gombak atau Gunung Larangan, kemudian pindah ke Dukuh Kepuh Gero Desa Gandu Kepuh Kecamatan Sukorejo. 

K. Ageng Mirah datang pertama kali di wilayah Wengker babad dan bertempat tinggal di Mirah dan mendirikan pondok di daerah ini. Anak beliau yang namanya sama dengan nama ayahnya yaitu K. Ageng Mirah II dan K. Ageng Mirah III babad dan bertempat tinggal di kaki Gunung Gombak, disini keduanya juga mengem bangkan dakwah Islam dengan mendirikan Pon dok dan Pesantren. Kemudian anak K. Ageng Mirah III yang bernama Imam Musahaf babad dan bertempat tinggal di Kepuh Gero yang letak nya tidak jauh dari Mirah tempat tinggal Kyai Ageng Mirah pertama alias Penasehat Betoro Katong Bupati Ponorogo pertama.

Asal Usul K. Imam Musahaf
1) Sayid Jumadil Kubra – Troloyo Mojokerto
2) Sayid Ibrahim Asmaraqandi – Tuban
3) Sayid Maulana Ishaq – Malaysia
4) Sayid ’Ainul Yaqin (Sunan Giri) Gresik
5) Sunan Giri Prapen – Gresik
6) K. Ageng Gribig – Malang 
7) K. Ageng Muslim  (Mirah I) – Mirah Nambang rejo berputra 
8) K. Ageng Mirah II – Nglarangan Kauman Sumo roto berputra
9) K. Ageng Mirah III – Nglarangan Kauman Sumo roto berputa
10) K. Imam Musahaf – Kepuh  Gero Sukorejo ber putra
11) K. Umar – Kepuh Gero Sukorejo berputra
12) K. Mohammad bin Umar – Banjarsari Sewulan Madiun

Sesudah K. Mohammad Besari Tegalsari mengangkat putra-putrinya ke jenjang rumah tangga, tinggal seorang putrinya yang ke 8 (de lapan) yang belum mendapat kan jodoh, sehing ga sangat memprihatinkan K. Mohammad Besari, beliau beristikharah minta kepada Alloh agar putrinya ini segera mendapatkan jodoh.

Tidak lama kemudian Alloh SWT menga bulkan do’a Kyai dimana disuatu hari datanglah Kyai Umar dari Puhgero kekediaman Kyai Besa ri di Tegalsari untuk melamarkan anak lelakinya yang bernama Mohammad bin Umar yang biasa disebut dalam buku babad dengan sebutan Bin Umar Puhgero untuk dijodohkan dengan putri Kyai Besari. Lamaran Kyai Umar Puhgero dite rima oleh Kyai Besari Tegalsari, kemudian ke dua anak Kyai ini di aqad nikahkan.

Sesudah tujuh hari pernikahan Bin Umar dengan putri Kyai Besari Tegalsari, di keraton Yogjakarta terjadi suatu peristiwa yang meng- gemparkan, yaitu hilangnya Pangeran Singosari pergi dari keraton Yogjakarta. Ternyata keper gian sang Pangeran ini membuka (babad) hutan di daerah Malang, di Desa Singosari mendirikan istana (keraton) sendiri. Sinuhun Yogja kebingu ngan dan cemas campur khawatir, jangan-jangan di lain waktu Pangeran Singosari memberontak Yogjakarta dan terjadi perang saudara yang tidak bisa dielakkan lagi.

Sinuhun Yogja kemudian mengajak Tumenggung untuk musyawarah, bagaimana cara nya agar Pangeran Si ngosari mau kembali ke Yogjakarta. Ki Tumenggung lalu menyarankan agar Sinuhun minta pertolongan Kyai Besari Tegalsari untuk dapat mengajak kembali pulang Pangeran Singosari ke Yogjakarta lagi. Pendapat Tumenggung ini di setujui, bahkan Tumenggung sendiri yang di utus oleh Sinuhun Yogja untuk datang ke Tegalsari, minta bantuan sang Kyai Tegalsari..

Sesampainya di Tegalsari, kedatangan Tumenggung di terima oleh Kyai Besari sendiri, lalu apa yang menjadi maksud kedatangannya se-mua di haturkan kepada Kyai Tegalsari. Inti dari semua pembicaraan adalah  ; Nanti apabila Kyai Mohammad Besari Tegalsari dapat membawa pulang Pangeran Singosari ke Yogjakarta, Kyai akan diberi anugerah berupa bumi perdikan yang tidak dikenakan pajak untuk selama-lama nya.

K. Mohammad Besari kemudian memang gil anak menantunya yang masih temanten baru yaitu Kyai Bin Umar Puhgero, dan di perintah agar bersama-sama Tumenggung Yogjakarta be rangkat ke Malang untuk mengajak pulang Pa ngeran Singosari ke Yogjakarta.

Setelah Kyai Bin Umar Puhgero bersama Tumenggung sampai di Malang, kemudian ia shalat di perbatasan hutan tanah yang di buka (babad) oleh Pangeran Singosari. Selanjutnya K. Bin Umar menghadap kepada Pangeran Singo sari. Setelah Pangeran Singosari mengetahui ada tamu ki Tumenggung dari Yogjakarta, Pangeran memerintahkan kepada Senopati untuk menang kap Tumenggung. Kyai Bin Umar lalu berkata kepada Senopati bahwa kedatangan Tumenggung Yogja ini bukanlah kemauannya sendiri, tetapi mengantarkan Kyai Bin Umar wakil dari Kyai Mohammad Besari Tegalsari.

Mendengar apa yang di katakan Kyai Bin Umar, Senopati lapor kepada Pangeran Singosari bahwa, sang Tumenggung hanyalah sebagai pe- ngikut Kyai Bin Umar sebagai wakil Kyai Besari Tegalsari. Kemudian Pangeran Singosari datang bertemu muka dengan Kyai Bin Umar dan ber- bincang-bincang sesaat, akhirnya Pangeran Si ngosari dapat memahami semua apa yang disam paikan oleh Kyai Bin Umar, lalu Pangeran mau kembali ke Yogjakarta jika Kyai Bin Umar siap mengantarkan sampai di keraton Yogjakarta. Di samping minta kesiapan Kyai Bin Umar, Pange ran juga minta keamanan pribadi Pangeran Singo sari selama di Yogjakarta menjadi tanggung ja wab K. Bin Umar. Kemudian Tumenggung di perintahkan oleh Pangeran Singosari agar berang kat lebih dahulu meninggalkan kota Malang me nuju Yogjakarta dan agar secepatnya memberi kan informasi kepada Sinuhun Yogja bahwa kedatangan Pangeran Singosari hendaknya dijem put para prajurit di luar batas kota Yogja. 

Karena gembiranya Sinuhun Yogja akan kepulangan Pangeran Singosari, beliau tidak me lupakan dengan janjinya, yaitu memberikan bumi tanah merdikan kepada Kyai. Akhirnya Kyai Bin Umar oleh Sinuhun Yogja di anugerahi bumi perdikan di Desa Banjarsari Sewulan Madiun, yang kemudian Kyai Bin Umar bersama istrinya hidup berumah tangga di bumi perdikan ini de ngan menyiarkan dakwah Islam mendirikan mas jid dan pesantren. Dalam berumah tangga Kyai Mohammad Bin Umar dikarunia 8 (delapan) putra-putri yaitu :
1) Nyai Mohammad
2) K. Ali Imron – Banjarsari Sewulan Madiun.
3) K. Bilawi – Giripurno Magetan
4) KH. Mohammad Besari – Banjarsari Madiun
5) K. Faqih – Plosorejo Kertosono
6) Nyai Nawawi – Tawangrejo Uteran
7) K. Belawi – Dondong Kebonsari
8) K. Maolani – Dondong Kebonsari.

Silsilah K. Anom Besari di Ponorogo
1. P. Brawijaya V Bhre Kertabumi Majapahit
2. R. Abdullah Fatah Sultan Demak
3. Sultan Trenggana Demak
4. Pnb. Prawata Demak
5. Pnb. Wirasmara Setono Gedong Kediri
6. P. Demang ( R. Jalu ) Adipati Kediri th. 1586
7. Ki. Demang Irawan Badal Ngadiluwih Kediri
8. Sayid ‘Abdul Mursyad Tukum Grogol Kediri
9. Kyai Anom Besari Kuncen Caruban Madiun berputra :
a. Kyai Khotib Anom Srigading Kalangbret Tulung Agung
b. Kyai Mohammad Besari – Tegalsari Jetis Ponorogo
c. Kyai Noer Sodiq – Tegalsari Jetis Pono rogo
A) Kyai Khotib Anom Kalangbret T.Agung ber putra :
K. Nawawi – Majasem Madusari Siman Po. ber putra :
K. Ghozali – Cokromenggalan Po. berputra 17 putra putri :
1) Ibrahim – Bedi Polorejo Babadan Po.
2) Zakariya – Sekaran Jajar Lembah Babadan Po.
3) Walijah – Juranggandul Kadipaten Babadan Po.
4) Karmiya – 
5) Mad Rais – Cokromenggalan Po.
6) Mariyam – Pintu Jenangan Po.
7) Ilyas – Parang Bonagung Magetan
8) Imam Faqih – Bayem Taman Bonagung Mgtn.
9) Warsinah – Cokromenggalan Po.
10) Warsiyah – Cokromenggalan Po.
11) Robi’ah – Kranggan 
12) Monah – Bedi Kidul Jetis Ponorogo
13) Idris – Cokromenggalan Po.
14) Isma’il / Shaleh – Cokromenggalan Po.
15) Asiyah – Mojoroto Sukorejo Ponorogo
16) Hayatun – Cokromenggalan Po.
17) Khozinah – Padas Bungkal Po.

1) K. Ibrahim – Bedi Polorejo Babadan Ponoro go berputra 6 :
a. ROISAH – Ngunut Babadan Po.
b. ZAINAB – Tamanan Polorejo Babadan Po.
c. MARJIYAH – Plosorejo Maduh Baron Ngjk.
d. RIDLWAN – Bakalan Polorejo Babadan Po.
e. SUDJINAH – Wonosari Tj.Anom Nganjuk
f. Syarifah Ny. Imam Rozi – Bedi Polorejo Babadan Po.
B) Kyai Mohammad Besari Tegalsari Jetis Pono-rogo berputra :
1) K. Ishak – Coper Mlarak Ponorogo
2) Ny. Abdurrahman
3) K. Ya’kub
4) K. Isma’il
5) K. Bukhari
6) K. Chalifah
7) K. Ilyas
8) Ny. Mohammad bin Umar – Banjarsari Madiun
9) K. Zainal Abidin – Raja Selangor Malaysia

B.7) K. Ilyas – Tegalsari berputra :
1. K. Kasan Yahya
2. Kanjeng Kyai Kasan Besari - Tegalsari
3. K. Suheb - Tegalsari 
4. Nyai Askiran - Malo 
5. Nyai Zainal ’Arif – Tegalsari

B.7.2) Kanjeng Kyai Kasan Besari – berputra :
Dari Istri ke I
a) Bagus Kasan Anom
b) K. Ilham – Setono
c) Nyai Reksoniti – Surakarta
Dari Istri ke II
a) Imam Besari – Tegalsari
b) Nada Besari – Tegalsari
Dari Istri ke III
Nyai Kasanpuro – Gontor Mlarak Ponorogo
Dari Istri ke IV
K. Tirta Besari – Ngrukem Mlarak Ponorogo
Dari Istri ke V (putri dari Keraton Solo)
a) RM. Martopuro – Wedono Maospati Magetan
b) RA. Kasan Rifa’i – Karanggebang Jetis Po.
c) RA. Martorejo – Coper Mlarak Po.
d) RM. Cokronegoro – Bupati Ponorogo (1854 – 1856)
e) RM. Bawadi – meninggal usia muda
f) RA. Andawiyah
Dari Istri ke VI
a) K. Kasan Cholifah – Tegalsari
b) K. Wongsodipuro – Singkil Balong
c) K. Martosari – Tegalsari
Dari Istri ke VII dari Yogjakarta tidak punya keturunan.

B.8) Ny. Mohammad bin Umar – Banjarsari berputa :
a) Nyai Mohammad
b) K. Ali Imron – Banjarsari Madiun
c) K. Bilawi – Giripurno Magetan
d) KH. Mohammad Besari
e) K. Faqih – Plosorejo Baron Nganjuk
f) Ny. Nawawi – Tawangrejo Uteran
g) K. Belawi – Dondong Kebonsari Madiun
h) K. Maolani – Dondong Kebonsari Madiun

B.8.b) K. Ali Imron – Banjarsari Madiun berputra :
Ny. Taftajani II – Kradinan Jetis Ponorogo berputra:
1) K. Asnawi – Kradinan Jetis Ponorogo
2) K. Moh. Sayid – Kradinan Jetis Ponorogo
3) Ny. Imam Ghozali – Kedungpanji Lembehan Magetan

B.8.b.2) K. Moh. Sayid – Kradinan Jetis berputra :
a) Ny. Mustaram – Kradinan Jetis Ponorogo
b) K. Hasan ’Ali – Kradinan Jetis Ponorogo
c) K. Isma’il – Kradinan Jetis Ponorogo
d) Ny. Maulani – Prayungan Paju Ponorogo
e) Ny. Musthofa – Kradinan Jetis Ponorogo
f) K. Nida Besari – Banjarsari Kediri
g) K. ’Ali Muttaqin – Coper Mlarak Ponorogo
h) K. Husnun – Kradinan Jetis Ponorogo
i) K. Imam Rozi – Bedi Polorejo Babadan Po.
j) Ny. Kulsum – Kedungpanji Lembehan Magetan
k) K. Imam Asy’ari – Ngapit Ngawi 

B.8.b.2.e) Ny. Musthofa – Kradinan berputra :
1) Ny. Marhamah
2) K. Abu Syukur
3) Ny. Markonah
4) K. Mas’ud
5) Ny. Taslimatun (Ny. K. Ridwan) Bakalan Plrjo.
6) Imam Munawir
7) Abdullah
8) Muslihah

B.8.b.2.e.2) K. Abu Syukur – Kradinan berputra :
a) KH. Abdul Ghoni - Geneng Ngawi
b) K. Abdul Ghofur - Kradinan Jetis
c) Ny. KH. Ridwan (Fathimah) - Pagerwaja Tulungagung
d) KH. Abdul Manan – Singosari Malang
e) Ny. KH. Abdul Mu’in (Andasah) - Munggu Bungkal
f) Ny. K. Rohmat (Juwariyah) - Maospati Magetan
g) KH. Imam Djurdjani - Tulungagung

B.8.b.2.e.5) Ny. Taslimatun (Ny. K. Ridwan bin KH. Ibrahim Bedi) Bakalan Polorejo berputra :
a) K. Mohammad Adnan - Bakalan Polorejo
b) KH. Asyhuri - Bakalan Polorejo

B.8.b.2.i) K. Imam Rozi (Ny. Syarifah binti KH. Ibra- him Bedi) Bedi Polorejo Babadan Ponorogo berputra :
1) Hj. Khodijah – Koripan Bungkal Ponorogo
2) Hj. ’Aisyah – Bangsongan Kediri
3) Hj. Sribanun – Bancer Paju Ponorogo
4) K. Agus Damanhuri – Bedi Polorejo
5) Hj. Siti Fathimah – Serag Pulung Ponorogo
6) Hj. Mardliyah – Klinter Kertososno Nganjuk
7) Hj. Musri’ah – Sedayu Purwoasri Kediri
8) Hj. Shofiatun – Pandanarum Kertosono
9) Hj. Siti Asiyah – Maduh Plosorejo Kertosono.

C) K. Noer Sodiq – Tegalsari Jetis Ponorogo berputra :
1) Ny. Ahmad
2) Ny. Zakariya
3) Ny. Suratman
4) K. Mukmin
5) K. Mubarak
6) K. Idris.

Kyai Mohammad Besari

My-Dock Sejarah Ponorogo - Pada Tahun 1700 M, K. Mohammad Besari mulai menginjakkan kakinya di bumi Ponorogo dengan disertai adik kandungnya yang bernama Noer Shodiq, untuk mondok di sebuah pesantren terkenal diwaktu itu di Desa Setono Kec. Jetis Kab. Ponorogo. Pondok pesantren ini di asuh oleh seorang Ulama’ yang sangat ’alim lagi berbudi luhur dan bijaksana, asih terhadap sesama, suka memberi pertolongan kepada siapa saja yang menderita dalam kesengsaraan. Beliau adalah K. Donopuro bin Pb. Ratmo jo bin P. Kabu bin P. Sumende bin Sunan Tembayat.

Pondok pesantren asuhan K. Donopuro ini sangat banyak santri-santrinya, ketika Mohammad Besari mondok di pesantren ini sudah tampak kelebihan-kelebihan yang dimiliki, baik penguasaan kitab maupun ilmu-ilmu lainnya. Ketika kurang lebih selama 3 atau 4 tahun lamanya menjadi santri Setono, Mohammad Besari bersama adiknya Noer Sodiq berjalan-jalan menjelajah kota Ponorogo, sesampainya di Desa Mantub keduanya merasa kehausan. Karena hausnya itu lah keduanya minta degan (kambil muda) untuk diambil airnya untuk diminum kepada pemilik pohon kelapa itu, kebetulan pemilik pohon kelapa itu adalah juga seorang Kyai yang bernama Noer Salim yang kebetulan beliau ini adik ipar dari K. Donopuro pengasuh pesantren Setono dimana Mohammad Besari bersama adiknya nyantri.

Kyai Noer Salim, memperkenankan Mohammad Besari untuk mengambil dan memetik sendiri buah kelapa muda yang dimaksud, ketika ada perkenan dari pemiiknya Mohammad Besari hanya melambaikan tangannya kearah buah kelapa yang ada dipuncak pohonnya itu dan jatuh sendirilah satu janjang buah kelapa muda.

Mengetahui kejadian yang demikian ini Kyai Nor Salim kemudian mengingatkan kepada Mohammad Besari, dan memberikan contoh bagaimana cara memetik buah kelapa yang baik, agar tidak semua buah yang tidak diinginkan ikut jatuh. Kyai Noer Salim mendekati pohon kelapa lalu pohon itu di lengkungkan sampai melengkung ke tanah puncaknya, kemudian Mohammad Besari dipersilahkan mengambil yang mana yang ia sukai.

Tidak lama kemudian K. Noer Salim, menanyakan tentang jati diri Mohammad Besari, dari mana asalnya dan untuk apa menjelajahi Ponorogo. Setelah semuanya dijelaskan oleh Mohammad Besari, hati K. Noer Salim tertarik untuk mengambilnya menjadi menantu. Hal ini ke mudian dibicarakan seperlunya dan Mohammad Besari juga tidak keberatan dan sudah menyetujui apa yang menjadi keinginan K. Noer Salim, maka terjadilah pernikahan antara Mohammad Besari dengan putri sulung K. Noer Salim yang kemudian diboyong ke Setono.

Kurang lebih satu tahun lamanya Moham mad Besari bersama istri suwita di tempat K. Donopuro, keduanya lalu di persilahkan untuk membuka tanah Tegal milik K. Donopuro di sebelah timur Pesantren Setono di seberang sungai, yang kemudian hari tanah Tegal yang di buka dan dijadikan tempat tinggal Mohammad Besari bersama istri ini oleh K. Donopuro diberi nama Tegalsari.

Di kemudian hari, Tegalsari tidak hanya menjadi tempat tinggal Mohammad Besari bersama istri namun lama kelamaan K. Donopuro juga mempersilahkan untuk membuka ngaji dan menerima santri. Bertambah hari santri  Mohammad Besari bertambah banyak akhirnya Tegalsari menjadi pesantren yang besar. Setelah K. Donopura wafat kejayaan pesantren Setono berpindah ke pesantren Tegalsari yang di asuh oleh K. Mohammad Besari, kejayaannya sampai zaman sekarang ini, hampir-hampir pondok-pondok pesantren dan masjid-masjid tua yang ada di Ponorogo ini yang cikal bakal dan yang mendirikan kebanyakan masih ada keturunan dari Tegalsari atau Setono Jetis. 

Asal Usul K. Mohammad Besari
a. Prabu Brawijaya V berputra
b. R. Fatah – Demak berputra
c. R. Trenggono – Demak berputra
d. Prabu Prawoto – Demak berputra
e. Prabu Wirasmoro – Setono Gedong Kediri ber- putra
f. P. Demang ( R. Jalu ) – Kediri berputra
g. R. Demang Irawan – Badal Ngadiluwih Kediri berputra
h. K. Abdul Mursad – Grogol Tukum Kediri ber- putra
i. K. Anom Besari – Kuncen Caruban Madiun berputra :
1. K. Chatib Anom – Srigading Klambret Tulungagung
2. K. Mohammad Besari – Tegalsari Jetis Ponorogo
3. K. Noer Sodiq – Tegalsari Jetis Ponorogo

K. Mohammad Besari berputra 9 berputra ;
1) K. Ishak – Coper Mlarak Ponorogo
2) Ny. Abdurrahman
3) K. Ya’kub
4) K. Isma’il
5) K. Bukhari
6) K. Chalifah
7) K. Ilyas
8) Ny. Mohammad bin Umar – Banjarsari Madiun
9) K. Zainal Abidin – Raja Selangor Malaysia

K. Mohammad Besari Meninggal dunia tahun 1747 M di makamkan di belakang Masjid Tegalsari.