Perjalanan Nahdlatul Ulama dari Masa ke Masa (Part. III)


Pada tanggal 1 Oktober 1965 hari Jum’at dinihari meletuslah Gerakan 30 September ( G 30 S / PKI ), di saat dimulainya latihan kemili teran antara Pemuda Ansor dengan melibatkan TNI AD untuk mengimba ngi latihan kemiliteran yang diadakan PKI. Sebelum Subuh tanggal 1 Ok-tober 1965 Gestapu sudah meletus, gerombolan penculik ( PKI ) menem-bak mati Letjend Ahmad Yani ( Menteri / Panglima TNI AD ), dan diba wa ke Lubang Buaya, tempat pembunuhan yang sudah mereka sediakan untuk MayJend. Haryono, MayJend. Suprapto, Mayjend S. Parman, Brig Jend. D.I Panjaitan, BrigJend. Sutoyo Siswomihardjo, mereka ini diculik dan dibunuh dengan kejam di Lubang Buaya. Ketika itu Jendral AH. Na-sution lolos dari dari sergapan Gestapu PKI, namun putrinya yang masih berumur 5 tahun, Ade Irma Nasution menjadi korban keganasan PKI.


Pada pagi setelah subuh Gestapu menguasai kantor pusat Teleko-munikasi ( Telphon ) dan studio RRI ( Radio Republik Indonesia ) Letnan Untung pimpinan Gestapu menyiarkan bahwa perbuatan atau tin-dakan itu dilakukan untuk menggagalkan rencana perebutan kekuasaan yang akan dilakukan oleh Dewan Jendral pada 5 Oktober mendatang. Dan siaran ini diulang lagi oleh Letkol Untung pada jam 12.30 tanggal 1 Oktober 1965.

Pada Jam 14.30 tanggal 1 Oktober 1965, setelah dua jam siaran Letkol Untung melalui RRI, NU bersama tokoh-tokoh GP Ansor tanpa ragu-ragu lagi menyatakan sikapnya bahwa NU mengutuk tindakan Ges-tapu PKI dan menentang pembentukan Dewan Revolusi seperti yang di umumkan oleh Letkol Untung. Hari itu juga RRI dan pusat telekomuni-kasi berhasil dikuasai oleh Panglima KOSTRAD MayJend. Soeharto dan RPKAD serta berhasil menggiring pelaku Gestapu PKI ke Lubang Buaya, dan menyatakan bahwa Gestapu PKI adalah perbuatan “kontra revolusi”.

Pada tanggal 5 Oktober 1965, empat hari setelah peristiwa Gesta-pu PKI, dan belum ada satupun partai politik yang menyatakan sikapnya PBNU bersama ormas pendukungnya tampil meyatakan sikap menentang dan mengutuk usaha PKI itu, lewat siaran RRI, publikasi Surat Kabar dan Majalah baik dalam maupun luar negeri. PBNU mengeluarkan resolusi mengutuk Gestapu PKI yang isinya antara lain :

  1. Mendesak Presiden Soekarno untuk segera membubarkan PKI dan seluruh antek-anteknya.
  2. Mendesak Presiden Soekarno untuk mencabut Surat Ijin Terbit (SIT) seluruh media cetak baik yang langsung maupun tidak lang-sung telah membantu Gestapu PKI.
  3. Menyerukan kepada seluruh ummat Islam agar membantu sepe-nuhnya kepada ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) dalam usahanya mengembalikan ketertiban Nasional akibat Ges-tapu PKI.
Pada tanggal 5 Oktober 1965, HM. Subhan ZE, berhasil melahirkan KAP Gestapu ( Komando Aksi Pengganyangan Gestapu ) yang dipimpin langsung oleh beliau, dimana wadah ini himpunan dari HMI, PMII,Ansor maupun Muhammadiyah dan kekuatan ormas partai Kristen dan Katolik.

Peranan NU dalam ikut menumpas pemberontakan PKI, bukan hanya dibuktikan dengan pernyataan sikap tanggal 5 Oktober 1965 dan terben-tuknya KAP GESTAPU yang dipimpin oleh HM. Subhan ZE, saja melainkan lebih dari itu juga dibuktikan dalam pertempuran phisik di ber bagai daerah. Ini membuktikan bahwa partai NU satu-satunya partai poli-tik yang berani menanggung segala resiko berhadapan dengan PKI, demi kepentingan bangsa, negara dan agama.

Sikap keras NU terhadap PKI bukan hanya karena motif politik, tatapi yang paling dominan adalah motivasi agama, sebab PKI sendiri me mandang NU bukan hanya sebagai lawan politik, melainkan juga lawan dari ideologi komunis yang harus dihabisi secara phisik.

Pada tanggal 3 Oktober 1965, di Demak Jawa Tengah ditemukan do-kumen PKI yang isinya daftar para Ulama dan Kyai seluruh Demak yang hendak diculik dan dibunuh oleh PKI. Di Banyuwangi PKI mengepung dan membunuh beberapa tokoh NU dan Ansor, akibat dari kajadian ini terjadilah pertempuran berdarah yang membawa korban 40 anggota Ansor, kemarahan massa NU semakin memuncak, akhirnya pembasmian tokoh-tokoh PKI terjadi dimana-mana.

Pada bulan Desember 1965, atas perintah Pangdam VIII Brawijaya agar kampanye penumpasan PKI dihentikan dan massa NU berdiri dibela kang ABRI, maka berhentilah aktivitas massa NU sebagai barisan terdepan, dan beralih di belakang ABRI dalam operasi penumpasan beri-kutnya.

Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit

2 komentar:

  1. Syukron Katsiiro ya akhi atas artikelnya sdh menjadi tambahan pengetahuan buat ana.......subhanallah...begitu dahsyatnya perjuangan tokoh2 NU pada zaman dahulu....dari perebutan kemerdekaan RI, melenyapkan PKI, dan masih banyak lagi yang bisa di perbuat, tapi maasyaallah setelah negara merdeka dan PKI sdh tamat, kenapa akhir2 ini NU seperti tinggal nama dan sejarahnya........tidak banyak lagi gerakan2 spesifik yang di ambil oleh NU......harapan kami yang di bawah agar NU mulai bangkit lagi karena sdh banyak paham2/ajaran2 yang semakin jauh dari tradisi ajaran faham Nahdlotul ulama` yang menyebabkan resahnya masyarakat yang sudah terbiasa dgn faham ASWAJA....smg bermanfaat...amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin..... Trimakasih sudah berkunjung....

      Delete